
"Mommy, Verrel merindukan Daddy," ucap bocah itu lesu setengah mengantuk.
"Bukankah tadi sore Verrel sudah video call sama Daddy, kok masih rindu, heum?" Virranda membenarkan selimut putranya itu agar tidak kedinginan.
"Tapi Verrel mau dipeluk Daddy saat tidur, dan dibacakan buku cerita seperti biasanya Mom," lirihnya sedih menatap ibunya.
"Verrel yang sabar ya, nanti Daddy juga akan pulang kalau sudah waktunya. Sementara Daddy tidak ada, ada Mommy yang akan membacakan buku cerita dan memeluk Verrel saat tidur. Bagaimana? Verrel mau?"
Bocah itu hanya mengangguk pelan, setuju dengan ucapan ibunya.
Virranda bangkit, mengambil salah satu komik dari rak buku mini putranya yang ada diatas meja. Beberapa detik kemudian, ia telah kembali dan naik ke ranjang putranya.
Verrel memeluk kaki ibunya yang sedang selonjoran duduk bersandar sambil membacakan komik kesukaannya dengan warna nada yang tidak kalah asiknya dengan yang sering dilakukan oleh sang Daddy. Sesekali bocah itu terdengar tertawa geli, mendengar cara ibunya membacakan komik kesukaannya itu.
Begitu komiknya selesai dibacakan, Virranda melihat putranya itu sudah tertidur pulas, pantas saja ia tidak mendengar cekikikan Verrel didetik-detik terakhir penyelesaian pembacaan komiknya.
Tok! Tok! Tok!
Virranda menatap pintu yang tengah diketuk. Dengan hati-hati ia turun dari tempat tidur putranya lalu menuju kearah pintu.
Ceklek.
"Mami? Ada apa Mi?" ketika pintu terbuka, ternyata ibunya yang berdiri disana.
__ADS_1
"Cucu Mami sudah tidur?" Lirasa balik bertanya.
"Sudah Mi."
"Kalau begitu, kita bicara dikamarmu saja. Ayo," Tanpa menunggu jawaban putrinya, Lirasa segera beranjak diikuti Virranda yang menutup rapat pintu kamar Verrel.
"Ada apa Mi?" tanya Virranda kemudian, saat ia dan ibunya sudah berada dibalkon kamarnya.
"Mami perhatikan, kau terlihat murung setelah pulang berkerja tadi sore?" Lirasa menyeduh dua gelas teh hijau disudut balkon untuk menemani dirinya dan putrinya dalam mengobrol.
"Apa yang terjadi padamu sayang? Bicara sama Mami, Mami siap mendengar." tanya Lirasa, sambil meletakkan dua cangkir teh diatas meja lalu ikut duduk disebalah putrinya.
Virranda mendongakkan wajahnya keatas, memandang langit malam yang cerah, ditaburi bintang-bintang yang berkelip-kelip. Ia menghembuskan napasnya yang sejak tadi dihirupnya dan memdiamkannya beberapa detik didalam paru-parunya.
"Minum tehmu sayang," ucap Lirasa menawarkan, ketika putrinya itu akhirnya memandangnya dengan beban yang berat terpancar dari rautnya.
"Mi, sepertinya besok aku harus mencari kerja di perusahaan lain saja," ucap Virranda sambil meletakan cangkir tehnya diatas meja kayu dihadapannya.
"Apakah kau tidak betah berkerja di perusahaan Papi-mu?" tanya Lirasa kembali menyesap teh hijaunya.
"Hari ini, aku bertemu Papi dan tuan Ferdinand Kwang direstoran, saat aku, Nick, dan Wina makan siang disana." ucap Virranda melirik kearah ibunya yang terlihat sedikit terkejut mendengar perkataannya itu.
"Lalu?" kejar Lirasa nampak penasaran.
__ADS_1
"Papi memintaku untuk ikut dengan mereka berdua. Sebenarnya aku tidak ingin bergabung. Tapi akhirnya, kuputuskan untuk ikut, demi menghargai Papi dihadapan teman-temanku dan juga tuan Ferdinand," Virranda kembali mendesah berat. Melihat roman wajah Virranda, Lirasa ikut mendesah, seolah turut merasakan dilema yang dihadapi putri tunggalnya itu.
"Ternyata seperti dugaanku, Papi kembali membahas perjodohan itu," Virranda lalu mulai menceritakan semuanya.
Lirasa mendengarkan dengan penuh minat, dan dirinya semakin mencurigai Ferdinand lah yang telah tidur dengan putrinya dimalam laknat itu. Bila tidak, kenapa laki-laki itu begitu gencarnya mengejar putrinya yang sudah menikah dan beranak satu. Sayangnya, hingga kini dirinya belum mendapatkan bukti dari kecurigaannya itu. Tapi kenapa Ferdinand tidak mau berterus terang, bila dirinya pelakunya batinnya.
"Jadi itu alasanku untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain Mi," ucap Virranda mengakhiri ceritanya.
"Kalau aku tetap di perusahaan Papi, Papi akan selalu membahas itu dan memaksaku untuk berkerja kembali di perusahaan tuan Ferdinand. Aku tidak mau Mi," keluh Virranda dengan raut kusutnya.
"Selain itu, aku juga akan bertemu buaya itu terus, karena perusahaan Papi sudah menjalin kerjasama dengan perusahaan laki-laki itu," imbuh Virranda lagi.
"Buaya? Kenapa kau menyebutnya seperti itu sayang?" Lirasa mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Buaya mesum itu sering melihat dada dan bokongku diam-diam saat aku berkerja menjadi asistennya dulu. Bukan sekali dua kali, tapi aku sering memergokinya Mi. Dan kalau ketahuan, dia pura-pura sibuk dengan berkas-berkasnya yang menumpuk diatas meja," adu Virranda dengan nada jengkel.
Lirasa termenung sesaat mendengar perkataan putrinya. Apa benar Ferdinand seperti itu? Sepengetahuannya, laki-laki itu teralu pendiam, dan tidak banyak bicara. Selalu bersikap hormat, terutama pada rekan bisnisnya. Pada lawan jenis? Dirinya tidak pernah mendengar Ferdinand dekat dengan para wanita, itu sebabnya hingga kini dirinya belum menikah.
"Begini saja sayang, Mami minta kau tetap bertahan di perusahaan Papi. Mami memang belum sempat menceritakan tentang kisahmu, mengingat Papi-mu baru saja sembuh dari sakitnya. Tapi Mami janji, Mami akan ceritakan semuanya bila waktunya tepat." ucap Lirasa meyakinkan putrinya.
"Mengenai Joe, apa benar laki-laki itu sudah berubah? Setahu Mami tidak ada seorang laki-laki yang berstatus suami, akan tahan bila tidak menyentuh wanita yang sudah menjadi isterinya." selidik Lirasa.
"Itu--," Virranda nampak bingung memberi penjelasan pada pertanyaan ibunya. "Kami ada perjanjian Mi...." ucap Virranda tersendat.
__ADS_1
"Kau tidak tahu kan? Mungkin saja Joe bermain dibelakangmu. Tapi Mami tidak menuduh." ucapnya datar menatap Virranda yang kini tengah meremas ujung piyamanya.
Bersambung...👉