
Tuan Loenhard nampak syok, wajahnya memucat, dan dadanya terasa begitu sesak dan sakit, setelah membaca hasil interogasi polisi pada Wina dan Nickholas. Bagaimana tidak? Putri tunggalnya, yang menjadi mahkota kebanggaan dalam keluarga, satu-satunya pewaris dan penerus segala yang ia miliki, begitu mudahnya dijual dengan harga tidak manusiawi, oleh orang yang dianggap sahabat bagi putrinya.
Sebelum jam kerja usai, tuan Loenhard sudah meminta sekretaris Shen untuk membereskan dan merapikan ruangannya, karena hari ini dirinya pulang lebih awal, tidak sanggup lebih lama lagi berada dikantor.
Dalam perjalanan pulang, dirinya masih memikirkan kemalangan yang telah menimpa putrinya. Ini tidak bisa dimaafkan, karena sudah menyangkut kehormatan keluarganya, batin pria tua itu penuh amarah. Ia meremas ujung kertas hasil interogasi yang diberikan oleh pihak berwajib.
Ternyata selain obsesi Wina yang mencintai Nickholas secara sepihak, ia tidak menyangka bila gadis muda sesusia putrinya itu memiliki dendam kesumat padanya atas bangkrutnya bisnis ayahnya yang kalah bersaing dengan bisnis miliknya.
Selama ini, tanpa curiga, dirinya sudah membantu dengan tulus, biaya pengobatan rumah sakit ayah Wina sampai kete*ek-bengek, hingga pada kebutuhan sehari-hari, mengingat ayah Wina pernah menjadi rekanan bisnisnya, sebelum Wina cukup usia diterima berkerja di perusahaannya.
Dan secara tidak terduga, sebelum hasil pemeriksaan Nickholas dan Wina sampai ditangannya sore itu, ia lebih dulu mendapat laporan dari orang suruhannya, bila Joe menantu tidak diharapkannya itu memiliki profesi sebagai pria penghibur dimasa lalu sebelum menikahi putrinya, sehingga membuatnya semakin membenci Joe.
Yang masih menjadi tanda tanya besarnya, pada laki-laki hidung belang mana putri kesayangannya itu dijual oleh sang mucikari? Lalu bagaimana ceritanya, Ferdinand bisa mengaku kalau Verrel adalah darah dagingnya, mengingat ucapan bibi.Arin semalam didepan dirinya dan isterinya.
"Pa-pi," Lirasa bergumam seorang diri dari kamar nya yang berada dilantai atas, begitu melihat mobil suaminya memasuki gerbang pagar kokoh rumah keluarganya. Ia buru-buru turun untuk menemui suaminya, penasaran kenapa suaminya pulang lebih awal.
Sesampainya dilantai dasar, Lirasa dikejutkan dengan suaminya yang tengah memeluk erat Virranda putrinya, sambil mengucapkan permintaan maafnya berulang-ulang kali.
Sementara Verrel yang sedang asik menikmati camilan sorenya bersama ibunya merasa bingung atas sikap sang kakek ubannya.
"Bi Arin, tolong ajak Verrel main diluar.ya. Lalu buatkan teh hijau kesukaan Tuan," pinta Lirasa pada asisten rumah tangganya yang berada tidak jauh darinya.
"Baik Nyonya," sahut bibi Arin hormat, lalu mendekati Verrel.
"Den Verrel, ayo ikut Bibi main ditaman bersama para bibi yang lain," ajak bibi Arin sambil mengulurkan tangannya.
"Tapi Verrel masih mau disini Bibi, mau tau kenapa kakek uban terus meminta maaf pada Mommy? Memangnya kakek uban telah berbuat salah apa pada Mommy?" ucap Verrel berusaha menolak.
__ADS_1
"Verrel sayang, ikut main ditaman sama Bibi ya, nenek mau bicara hal yang rahasia dan penting pada kakek uban dan Mommy-nya Verrel," bujuk Lirasa pada Verrel yang masih menatap bingung pada sang kakek.
Verrel diam sejenak, memikirkan kata-kata neneknya. Ia ingat pengajaran sang Daddy, bila orang tua sedang berbicara rahasia, anak kecil tidak boleh ikut mendengarkan, karena belum cukup usia. Bocah itu akhirnya mengangguk, lalu mematuhi kata neneknya. Sebelum pergi ia mencium pipi sang nenek, lalu menerima uluran tangan bibi Arin yang segera menggandeng tangan mungilnya sembari mengulas senyum.
Sesekali bocah itu menoleh kebelakang, melirik kearah sang kakek, seolah masih penasaran pada apa yang tengah dirasakan oleh kakek ubanya itu. Walau ia merasa kakek nya itu tidak menyukainya, tapi ia merasa kasihan saat melihat kakeknya.
"Pi, apa yang terjadi?" tanya Virranda lagi. Karena ayahnya itu terus meminta maaf padanya dan mendekap tubuhnya kian erat.
"Papi, duduklah dulu." Lirasa menepuk-nepuk punggung suaminya lembut. Ia merasa ada sesuatu yang telah dialami suaminya itu, karena tidak biasanya suaminya itu bersikap demikian.
"Ayo, Pi. Supaya kita bisa ngobrol dan mendengar apa yang membuat Papi seperti ini," ucap Lirasa lagi.
"Iya Pi, Mami benar. Kalau seperti ini terus, Virranda khawatir Papi sakit lagi." kata Virranda mendukung ucapan ibunya.
Perlahan, tuan Loenhard melepaskan pelukannya. Virranda lalu memapah ayahnya, dan membantunya duduk disofa.
Tuan Loenhard mengangguk, ia meraih tehnya lalu menyesapnya pelan hingga beberapa tegukan."Terima kasih Mi," ucapnya lalu meletakan gelas tehnya yang masih bersisa.
"Sekarang Papi cerita ke Mami juga Virranda, apa sebab Papi terus meminta maaf seperti tadi," ucap Lirasa memandang wajah lelah dan memucat suaminya.
"Ternyata, Wina sahabatmu itu, dia bukan orang yang baik Virranda. Dia telah menjualmu pada seorang mucikari dengan harga yang sangat murah, untuk pemuas nafsu laki-laki hidung belang," ucap tuan Loenhard dengan perasaan marahnya yang kembali berkobar.
"Wina? Menjualku? Aku masih kurang mengerti Pi?" ucap Virrnada memandang ayahnya, lalu beralih pada ibunya dengan raut bingung.
"Tadi Papi mendengar sendiri, Wina mengatakan pada Nickholas bila ia telah menjualmu. Karena Papi emosi, Papi langsung memanggil Polisi dan membuat laporan supaya Nickholas dan Wina dibawa kekantor polisi dan diperiksa disana." jelasnya.
"Ini, kau dan Mami-mu bisa membaca hasil interogasi perempuan tidak tahu diri itu," tuan Loenhard menyerahkan beberapa lembar kertas yang telah ia baca. Virranda yang penasaran segera menyambarnya dan buru-buru membacanya.
__ADS_1
Point demi point pertanyaan dan jawaban hasil interogasi itu dibaca dengan jelas oleh Virranda, ibu dan ayahnya menyimak semuanya hingga akhir dengan perasaan campur aduk, begitu pula halnya dengan Virranda.
Mereka memang tidak pernah menduga, bila Wina selama ini punya niat jahat pada Virranda karena cinta sepihak gadis itu pada Nickholas yang tidak pernah terbalaskan, dan juga kebangkrutan bisnis orang tuanya yang kalah bersaing.
Untuk masalah itu, Virranda tidak pernah merasa dirinya menjadi penyebab sakit hati sahabatnya itu, karena ia tidak pernah memiliki hubungan dengan Nickholas hingga kini.
Begitu pula dengan sang ayah, yang tidak tahu menahu, bila keluarga Wina yang ia bantu selama ini telah menyalahkan dirinya atas kebangkrutan mereka yang kalah bersaing secara sehat.
"Papi mau istirahat dulu, Papi sangat lelah," ujar tuan Loenhard lalu berdiri, memegang dadanya yang terasa sedikit nyeri. "Bersiaplah, sebentar malam, keluarga Toshigawa akan kerumah kita untuk berkunjung," imbuhnya lagi.
"Virranda," tuan Loenhard melirik putrinya yang masih memegang lembaran-lembaran kertas hasil interogasi. Begitu mendengar sang ayah menyebut namanya, Virranda segera mendongakkan wajahnya kearah ayanya.
"Sepertinya, kau harus melepaskan Joe. Dia pria tidak baik, seorang pria pemuas na*su para isteri kaya yang kesepian. Mulai awal, Papi memang tidak menyukainya. Dan ternyata, suamimu itu memang bukan pria baik-baik, Papi sangat jijik dengan laki-laki seperti itu." ucapnya ketus.
"Viranda tidak mau berpisah dengan Joe, Pi. Dan Joe juga sudah berubah. Virranda mencintainya," ucap Virranda dengan nada memohon.
"Ini sudah keputusan Papi. Kau lebih baik menerima Ferdinand, apalagi dia memang ayah dari Verrel," putus tuan Loenhard sepihak.
"Tapi Pi, Ferdinand juga tidak lebih baik dari Joe. Dia--," Lirasa berusaha menjelaskan, tapi ucapannya segera diputus oleh suaminya.
"Cukup Mi, Papi tidak mau dengar apa-apa lagi. Papi lelah! Papi mau istirahat dulu sebentar sebelum keluarga Toshigawa datang kemari," tegasnya lalu beranjak pergi tanpa memperdulikan panggilan Virranda maupun Lirasa.
"Mi, bagaimana ini Mi. Virranda tidak mau pisah dari Joe. Virranda sayang dan cintanya hanya sama Joe Mi." ucap Virranda khawatir, ia benar-benar takut bila ayahnya serius dengan kata-katanya.
"Sabar sayang, Mami akan berusaha membantumu," hibur Lirasa sambil memeluk putrinya. Ia mengusap rambut Virranda, berusaha menyalurkan rasa tenang pada putrinya itu.
Bersambung...👉
__ADS_1