Daddy My Son

Daddy My Son
72. Saling Meminta Maaf


__ADS_3

"Kwang, kau tidak sedang bercanda kan?" Gerry nampak syok mendengar kisah yang diceritakan Ferdinand padanya. Ia memindai sosok dihadapannya, yang sangat ia kagumi selama ini sejak mereka sama-sama masih mengenakan seragam abu-abu.


Ferdinand Kwang dikenal sebagai siswa teladan dan berprestasi pada salah satu SMU ternama dimana dirinya bersekolah bersama Gerry, sehingga julukan siswa nomor satu selalu disabetnya selama menjadi pelajar disana.


Karena kepintarannya itu, Ferdinand sangat disukai oleh sebagian besar para guru juga para siswa-siswi disekolahnya. Namun, karena aturan dan jadwal yang padat dari ayahnya, membuat Ferdinand tidak bisa bebas bergaul, selain dengan Gerry, sahabat yang satu meja dengannya.


Sejak usia remaja, ia sudah diajarkan tentang berbisnis oleh sang ayah, karena dirinya adalah putra tunggal dalam keluarganya. Selepas pulang sekolah, selain belajar dan membuat PR, Ferdinand akan menghabiskan waktunya untuk membaca buku, dan mengunjungi beberapa perusahaan milik ayahnya dan diperkenalkan menjadi seorang pembisnis sejak dini.


Tidak jarang, beberapa siswi disekolahnya harus menelan kekecewaan saat berusaha mendekatinya, Ferdinand selalu menghindar karena hidupnya sudah terjadwal oleh sang ayah. Akibat kekecewaan itu, ada sebagian siswi yang tega menjahilin dirinya dan mengurungnya didalam toilet wanita, lalu memberi cap bibir mereka pada seluruh tubuhnya yang terbuka. Dan kejadian itu tidak hanya sekali dialami Ferdinand sehingga ayahnya terpaksa mengirim beberapa bodyguard untuk mendampinginya selama beberapa bulan sebelum kelulusannya.


Disukai banyak wanita sepertinya sangat menyenangkan, apalagi cantik dan keren. Tapi berbeda bila para wanita cantik itu membentuk pasukannya dan menyerang satu orang pria beramai-ramai, seperti yang mereka lakukan pada Ferdinand yang memang tergolong pria terkeren disekolahnya ketika itu.


Mengingat semuanya itu, membuat Gerry merinding ngeri, karena dirinya lah yang selalu memberi laporan pada ayah Ferdinand, sehinga sahabatnya itu bisa terlepas dari sanderaan para teman wanitanya. Ya, itulah yang pernah dialami Ferdinand diusia remajanya.


"Tidak, aku serius. Aku mengatakan ini supaya kau tidak bingung, karena mulai hari ini aku akan lebih sering menengok putraku itu disekolahnya." sahut Ferdinand.


Gerry masih memandang Ferdinand dengan tatapan tak terbaca. Dirinya saja harus merogoh tabungannya begitu dalam, demi mendapatkan seorang anak.


Selama delapan tahun pernikahannya dengan Miera, Gerry sudah tujuh kali mengambil cuti khusus untuk berbulan madu ke luar pulau, bahkan sampai keluar negeri, belum lagi dirinya harus rutin ke dokter untuk memeriksakan kesuburan dirinya dan Miera.


Hanya satu kali celup saja, mengapa Ferdinand bisa dengan mudah membuat benihnya tumbuh menjadi seorang bayi, batin Gerry tak habis fikir.


"Dan ini, aku memberimu tugas khusus sebagai asisten pribadiku, cari tahu para wanita itu, sesuai alamat yang sudah tertulis disana, temukan mereka dengan segera," ucap Ferdinand sembari mengirim daftar nama lewat pesan diponselnya pada Gerry.


"Apa lagi ini?" tanya Gerry sembari menggulir layar ponselnya, memeriksa satu persatu nama beaerta alamat yang tertera disana hingga berjumlah enam belas nama wanita.


"Cari tahu, apakah para wanita itu pernah mengandung anakku atau tidak. Lalu berikan laporannya." titah Ferdinand datar, ia yakin kali ini asistennya itu akan lebih syok lagi dari sebelumnya.


"A-apa?!!" Gerry kembali terkaget, tak terasa ponselnya terlepas dari tangannya dan terhempas kelantai hingga layarnya pecah.


Ferdinand menundukan kepalanya, melirik ponsel Gerry yang tergeletak didekat kakinya, yang kini telah menjadi korban pengakuannya pada sahabat sekaligus asisten pribadinya.


"Pergilah ke toko sekarang, pilih ponsel terbaru yang kau suka, lalu infokan harganya, aku akan mentransfer dananya ke rekeningmu," ucap Ferdinand bergerak kembali ke kursi kerjanya.


"Panggil sekretaris Linlin kemari, supaya membawa berkas-berkas yang aku minta." titah Kwang lagi.

__ADS_1


"Baiklah tuan Direktur," begitulah Gerry, kadang dia memanggil sahabatnya itu dengan namanya, kadang dia memanggilnya secara formal seperti sekarang ini.


Sebelum beranjak dari sana, Gerry memungut ponselnya dan membawanya pergi. Tugas baru yang ia emban, mungkinkah ia bisa menyelesaikannya? Dengan menemukan para wanita itu beserta anak-anak yang dimaksud oleh sang direkturnya itu, tentu tidak mudah menemukannya, karena peristiwa itu sudah terjadi bertahun-tahun lamanya.


...🍓🍓🍓...


Joe melambatkan langkahnya, saat melihat Ferdinand sedang asik bercengkrama dengan Verrel diruang tunggu.


Verrel yang menyadari kehadiran Joe, segera berdiri dari duduknya dan berlari menjumpai ayah sambungnya itu.


"Daddy sudah datang," bocah itu segera memeluk leher Joe yang sengaja berjongkok menyambutnya.


"Kangen Daddy," ungkapnya lagi sembari menciumi wajah Joe bertubi-tubi. Sementara Joe tidak tinggal diam, dia turut membalas setiap ciuman yang dilancarkan putranya itu hingga menimbulkan gelak riang dari mulut Verel yang menyukai apa yang dilakukan Joe padanya.


Untuk beberapa menit berselang, keduanya melupakan Ferdinand yang sejak tadi memperhatikan keakraban yang tidak sengaja mereka pertontonkan.


"Apa kita pulang sekarang?" tanya Joe, setelah puas bermain-main sebentar dengan pipi gembil anaknya itu.


"Heum," angguk Verrel bersemangat. Bocah itu lalu memutar tubuh kecilnya, sembari mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang sejak tadi menemaninya diruang tunggu itu.


Begitu menemukan sosok yang ia cari, Verrel kembali mengembangkan senyum cerianya pada Ferdinand yang tengah berdiri tidak jauh dari dirinya dan Joe sambil menenteng tas sekolahnya.


"Terima kasih ya Uncle, sudah menemani Verrel menunggu Daddy, dan mau membawa tas Verrel yang berat ini," ucapnya masih tersenyum.


"Sama-sama Jagoan," sahut Ferdinand dengan senyum lembutnya. "Uncle senang kok, bisa sesering mungkin menemani Verrel," ucapnya lagi sembari menoel pucuk hidung Verrel yang mewarisi hidung mancungnya.


"Sebelum Verrel pulang, Uncle boleh pinjam Daddy-nya Verrel sebentar? Ada yang Uncle ingin obrolkan dengan Daddy-nya Verel, " ucap Ferdinand meminta ijin.


Verrel mengangguk, "Iya, boleh Uncle."


"Anak pintar." Ferdinand mengusap lembut pucuk rambut putranya itu.


"Kalau begitu, Verrel tunggu ditempat duduk saat kita menunggu Daddy-nya Verrel tadi ya, sambil menonton televisi," ucap Ferdinand lagi, menunjuk tempat duduk yang tidak jauh dari mereka berada.


Verrel mengangguk setuju, "Kalau sudah selesai mengobrol, jangan lupa panggil Verrel ya Uncle, Daddy" ucap.bocah itu sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Kedua pria dewasa itu sama-sama mengangguk, sembari memandang Verrel yang melangkah pergi sambil menghitung satu persatu kursi yang ia lewati.


"Harusnya, yang dipanggil Daddy adalah diriku, bukan dirimu," gumam Ferdinand, tanpa menoleh pada Joe yang hanya berjarak beberapa langkah saja darinya. "Jujur saja, aku tidak suka mendengar anak kandungku itu memanggilmu Daddy."


Joe melirik pada Ferdinand, mendapati pria itu masih memandang kearah Verrel yang kini sudah duduk dan menatap tayangan televisi didepannya. Joe tidak memberi respon yang berarti, ia bahkan siap menjadi pendengar yang baik saja bila hal itu memang perlu dilakukannya.


Merasa Joe tidak berkata apapun, Ferdinand menoleh kearah rivalnya yang berdiri dengan raut tenang menatap putranya yang masih asik menonton tayangan kartun di televisi.


"Apakah kau keberatan bila aku sering menjumpai putraku itu?" Ferdinand sengaja terus memandang kearah Joe untuk melihat reaksi laki-laki itu.


Joe mengedikan kedua bahunya," Tidak. Kau kan ayah kandungnya," sahut Joe lugas.


"Apa kau tidak takut bila aku benar-benar merebut keduanya darimu?" ucap Ferdinand lagi dengan pertanyaan menyudutkan.


"Semua yang ada didunia ini tidak abadi. Jadi, apa yang perlu kita takutkan?" sahut Joe memandang datar Ferdinand yang berdiri tidak jauh darinya.


"Bila kita diberi kesempatan untuk bersama, harus dinikmati dan disyukuri sebaik mungkin. Karena kita tidak tahu kapan senua yang kita miliki bisa lepas dari genggaman."


"Aku selalu berusaha melakukan yang terbaik sesuai bagianku, selebihnya aku percaya ada Tuhan yang mengatur segalanya. Sampai sekarang, aku masih berjuang untuk mendapatkan cinta dari wanita yang aku cintai, juga restu orang tuanya." ucap Joe jujur, dan Ferdinand tahu bila laki-laki dihadapannya itu sedang berbicara dari hatinya, karena dirinya juga tahu persis bila tuan Loenhard belum memberi restu pada pernikahan Joe dan Virranda.


"Dan mengenai Verrel, bocah itu berhak mendapatkan kasih sayang ayah kandungnya juga. Dan bila kau menginginkan dia mengetahui bahwa dirimu adalah ayahnya, mungkin kau memerlukan banyak kesabaran, sampai anakmu itu siap mengetahui kebenaran yang pernah terjadi antara dirimu dan ibunya." lanjut Joe tanpa berniat menasehati.


"Mengenai malam itu, aku minta maaf karena telah menyerang dirimu lebih dulu. Sebagai suami, aku tidak rela ada laki-laki lain masuk kekamar isteriku, apalagi jelas-jelas laki-laki itu berusaha merebutnya dariku. Mungkin dirimu akan berbuat yang sama bila kau berada diposisiku," ucap Joe lagi.


Mendengar ucapan Joe, Ferdinand hanya bisa mengunci mulutnya sesaat lamanya. Sebenarnya, dari dalam lubuk hatinya, ia tahu, apa yang ia lakukan selama ini adalah salah, berusaha merebut ibu dari anaknya yang jelas-jelas sudah terikat oleh tali pernikahan yang sah dan secara hukum dijamin oleh negara.


Setelah sempat terdiam sesaat lamanya, Ferdinand akhirnya membuka mulutnya.


"Walau aku sangat tidak suka mengatakannya--, aku mau berterima kasih, karena kulihat kau begitu menyayangi putraku Verrel seperti anakmu sendiri, dan kau sudah menjaganya dengan sangat baik selama ini,"


"Aku tidak tahu--, bila bukan dirimu yang menikahi nona Virranda, belum tentu aku bisa melihat bentuk dan rupa putraku seperti hari ini. Mungkin saja anak itu tidak pernah dilahirkan," ungkapnya sayu, merasa ngeri bila itu benar terjadi.


"Dan aku, aku juga meminta maaf padamu, karena pernah menghinamu, hampir setiap kali bila kita bertemu," ungkap Ferdinand yang sebenarnya merasa gengsi mengucapkan kata-kata keramat itu, apalagi pada laki-laki yang pernah ia anggap sebagai rivalnya.


Joe kembali menatap lekat wajah Ferdinand, tidak percaya bila pria kaya itu bisa meminta maaf pada orang biasa seperti dirinya. Ia melontarkan senyum tipisnya yang terlihat sumbang, begitu pula dengan Ferdinand turut tersenyum sumbang.

__ADS_1


Memang tidak semudah membalikan telapak tangan, hubungan Joe dan Ferdinand yang dahulunya sering bersitegang bila bertemu karena masalah hati, tentu saja butuh proses dan waktu untuk memiliki hubungan baik.


Bersambung...👉


__ADS_2