Daddy My Son

Daddy My Son
47. Cinta Itu Ajaib


__ADS_3

Setelah menimang-nimang ponselnya beberapa saat, Joe akhirnya memberanikan diri menelpon seseorang walau saat ini sudah larut malam.


Tut. Tut. Tut.


Joe menunggu, berharap panggilan teleponnya saat ini diangkat oleh orang yang ditujunya, hingga 10 detik berlalu, panggilannya masih juga belum mendapat respon. Joe hanya pasrah.


📞"Hallo, ada apa Joe?" sambutan suara diseberang sana tiba-tiba terdengar dan menyetak jiwa Joe yang lesu. Semangatnya bangkit, begitu mendengar suara owner dimana dirinya berkerja.


📞"Mohon maaf Tuan bila telah mengganggu peristirahatan Anda," ucap Joe menjaga sikap kesopanannya pada sang majikan.


📞"Bukan masalah Joe. Aku yakin, pasti ada sesuatu yang penting hingga kau menelponku selarut ini? Katakanlah, apa keperluanmu?" ungkap pria itu tidak merasa terganggu.


📞"Terima kasih Tuan atas pengertian Anda. Isteri saya sakit, saya meminta ijin beberapa hari saja untuk mengurusnya. Saya berjanji, begitu isteri saya membaik, saya akan segera kembali berkerja," ucap Joe tanpa basa-basi.


Tidak terdengar jawaban. Hati Joe berdebar, khawatir mendapat penolakan, karena baru sebulan yang lalu dirinya mengambil cuti seminggu untuk mengantarkan Virranda dan Verrel pulang ke Indonesia.


📞"Baiklah. Kapan kau akan berangkat?" ucap tuan George tiba-tiba.


📞"Malam ini juga tuan," sahut Joe kegirangan hampir melompat dari tempat tidurnya.


📞"Aku mengerti kesulitanmu Joe, jauh dari isteri dan anakmu. Aku juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu, jauh dari keluarga, saat membangun perusahaanku ini."


📞"Untuk permohonanmu satu bulan yang lalu, untuk pindah ke anak cabang kita yang ada di Indonesia, aku akan mengaturnya secepat mungkin. Hanya saja pintaku, tetaplah menjadi pegawaiku."


📞"Mengenai jadwal penerbanganmu, tolong konfirmasi dengan atasanmu. Aku tidak ingin ada hambatan apapun dalam pekerjaan." tegas tuan George.


📞"Terima kasih banyak Tuan. Terima kasih banyak. Saya tidak tahu harus berkata apa dan harus bagaimana cara membalas segala kebaikan, dan perhatian Tuan pada saya." ucap Joe penuh haru, mendapat perlakuan baik dari sang majikannya itu.


📞"Cukup bekerja dengan rajin dan disiplin seperti yang telah kau lakukan selama ini Joe. Itu sudah cukup," sahut pria itu bersahaja.


📞"Baik Tuan saya akan selalu berusaha melakukan yang terbaik. Sekali lagi terima kasih banyak," ucap Joe dengan rasa bahagianya yang tak terhingga.


📞"Sama-sama Joe."

__ADS_1


Setelah sambungan telepon mereka ditutup, Joe buru-buru meraih copernya dari atas lemari dan memasukan beberpa potong pakaiannya. Tidak lupa ia membuka ponselnya, memeriksa daftar keberangkatan pesawat dini hari itu.


...🍓🍓🍓...


Virranda yang tidak bisa tidur sejak semalam, memaksakan dirinya turun dari ranjangnya pagi itu. Ia berjalan terseok menuju brankas rahasia yang ada dibelakang lukisan dirinya. Dari sana ia mengambil satu benda yang terbungkus rapi menggunakan plastik transparan dan membawanya kembali ketempat tidurnya.


Ia meraih ponselnya dan menekan salah satu nama yang terdapat dalam kontaknya.


📞"Hallo Nona, selamat pagi," terdengar suara tegas seorang pria dari seberang sambungan telepon.


📞"Datanglah sekarang kerumahku. Aku memintamu untuk memeriksa sidik jari siapakah yang terdapat pada alat bukti yang aku miliki." ucap Virranda yang terdengar serak dan lemah.


📞"Baik Nona, saya segera kesana," sahut pria itu menyanggupi.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucap Virranda masih dengan suara serak dan lemahnya.


"Anak Mommy sayang, sudah siap berangkat sekolah?" Virranda membalas pelukan Verrel yang mendekapnya begitu erat. Putranya itu sudah mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi dan wangi.


"Sebenarnya Verrel tidak mau ke sekolah hari ini. Verrel mau jagain Mommy, tapi bibi memaksa Verrel sekolah Mom," adunya sambil menujuk dengan tangannya pada bibi Arin yang tengah meletakan nampan diatas nakas.


Virranda tertawa lemah melihat wajah cemberut yang ditunjukan Verrel.


"Verrel harus tetap sekolah. Ada banyak bibi dirumah ini yang menjaga Mommy sayang. Kalau rajin sekolah, Verrel kelak akan menjadi pintar dan dapat meraih cita-cita menjadi pilot seperti Daddy," bujuk Virranda dengan lembut.


"Iya, Verrel harus jadi pilot seperti Daddy," ucap bocah itu lemah dan terlihat tidak bersemangat.


"Kok tidak bersemangat seperti biasanya kalau mengatakan ingin jadi pilot? Heum?" tegur Virranda lembut.


"Tidak ada Daddy. Verrel kangen Daddy. Kalau ada Daddy, Verrel pasti tidak khawatir ninggalin Mommy dirumah," ucap Verrel masih lesu.


"Jangan sedih Den." celetuk bibi Arin sambil membawakan semangkuk sup hangat mendekati Virranda dan Verrel.

__ADS_1


"Tadi Daddy-nya den Verrel telepon, akan pulang hari ini, mungkin nanti malam atau dini hari besok sudah sampai." ungkap bibi Arin yang membuat ibu dan anak itu sama-sama terkejut.


"Yang benar Bi?!" pekik keduanya bersamaan. Tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang bibi.


"Benar-lah, masa sih Bibi boong. Bibi kan tidak berani," ucapnya sambil terkekeh.


Verrel kembali memeluk erat ibunya sambil berteriak, " Asik!! Daddy pulang!"


Bibi Arin tersenyum lebar, memandang kebahagian keduanya dengan haru, wajah Virranda yang memucat karena tidak mau makan dan tidak tidur semalam, sedikit memerah dibelahan kedua pipi mulusnya. Sementara Verrel yang telah melepaskan pelukannya dari ibunya langsung berjingkrak-jingkrak kegirangan kesana-kemari.


"Nona, pesan Tuan. Nona harus makan, dan istirahat saja dirumah, jangan ke kantor dulu hari ini," ucap bibi Arin disela-sela senyum mereka memperhatikan aksi kegirangan Verrel.


"Iya Bi, aku akan makan. Berikan mangkuknya," pintanya dengan tangan terulur.


"Tapi Nona, Nona masih lemah," ucap bibi Arin sembari memandang wajah pucat dan kusut majikannya itu.


"Tidak apa-apa Bi. Saya masih bisa kalau sekedar menyuap sup itu," ungkap Virranda dengan tangannya yang masih terulur pada mangkuk ditangan bibi Arin. "Bibi tolong urus Verrel saja, takut dia terlambat." imbuhnya lagi.


"Baik Nona," bibi Arin akhirnya memberikan mangkuk sup ditangannya dengan hati-hati pada Virranda.


"Den Verrel, kita berangkat sekolah sekarang. Ayo, pamitan dulu sama Mommy," ucap sang bibi pada Verrel yang masih melakukan aksinya tanpa lelah, walau keringat sudah mengucur dibeberapa bagian tubuhnya.


"Verrel berangkat dulu ya Mom. Jangan lupa mandi, supaya Mommy tetap terlihat cantik saat Daddy pulang," ucapnya polos sembari mencium punggung tangan ibunya.


"Baik sayang, akan Mommy laksanakan," ucap Virranda ikut bersemangat seperti putranya.


Bibi Arin tersenyum, lalu menggandeng tangan mungil Verrel dan menuntunnya keluar dari kamar Virranda.


"Cinta itu ajaib!" batin bibi Salu. Ia dapat melihat bila Nona majikannya itu sangat mencintai suaminya.


Mulai sore kemarin, hingga pagi ini, ia melihat Nona-nya itu lesu dan seperti sedang menanggung beban yang begitu berat, entah apa itu, dirinya tidak berani bertanya. Tapi pagi ini, setelah mendengar suami sang Nona majikan akan pulang, ibu dan anak itu begitu gembira, bahkan sang Nona yang dipaksa makan sangat sulit, sudah mau makan.


Bersambung...👉

__ADS_1


__ADS_2