
Virranda mengintip dari sela pintu kamar Joe yang sedikit terbuka, melihat pria itu yang tengah membacakan buku cerita untuk Verrel seperti biasanya sebelum tidur.
Rasa sedih masih bersisa didadanya, mengingat ayahnya yang tidak mau bertemu dengan Joe juga putranya. Dirinya terpaksa harus berbohong, supaya Verrel tidak kecewa dengan mengatakan kakeknya itu masih lelah karena baru pulang dari rumah sakit.
Sementara Joe, walaupun Virranda sudah tahu pria itu sangat faham bila ayahnya tidak menyukai dirinya, tetap saja Virranda merasa tidak nyaman, karena dirinya lah yang meminta Joe membawa Verrel ke rumah kedua orang tuanya.
"Aku ingin membuatkan minuman hangat, apakah kau mau?" tanya Virranda, saat melihat Joe datang menghampirinya setelah menyelimuti tubuh Verrel yang sudah tertidur pulas.
"Iya, aku mau," sahut Joe. Ia lalu mengekor Virranda dibelakangnya menuju dapur.
"Duduklah, ijinkan aku yang membuatkannya untukmu dan untukku," ucap Joe sambil menarik kursi supaya Virranda duduk disana.
"Joe, aku yang menawarkanmu minuman hangat, kenapa kau yang harus membuatnya?" protes Virranda tidak terima saat Joe seolah memaksanya untuk duduk dan menunggu dimeja makan saja.
"Sudahlah, tunggu disini sebentar, aku akan memasak air dulu," Joe mendudukan Virranda dikursi lalu bergegas menghidupkan kompor.
Virranda menatap punggung Joe, memperhatikan pria itu yang bergerak menuju lemari peralatan dapur untuk mengambil gelas dari sana.
Rasa sedih kembali mengusik hatinya, mengingat perkataan ayahnya hari ini. Ayahnya hanya menginginkan dirinya. Padahal Joe, sudah sangat baik padanya dan juga Verrel selama ini.
"Sudah jadi!" seru Joe riang, membawa nampan ditangannya dan meletakkannya diatas meja.
"Ini teh jahe madu untukmu," ujar Joe seraya mendekatkan secangkir gelas itu dihadapan Virranda, dan satunya lagi dihadapannya sendiri.
"Terima kasih Joe," Virranda mengulas senyum tipisnya, lalu meniup uapnya sehingga aromanya menguar memenuhi dapur apartemen.
"Heum, wangi Joe," Virranda memejamkan matanya, menikmati aroma minuman yang dibuat oleh suaminya itu.
"Sungguh?" Joe tersenyum melihat tingkah Virranda. "Hati-hati, minumannya masih panas, gunakan sendok teh ini saja," pria itu menyodorkan satu sendok pada Virranda.
"Bagaimana rasanya?" tanya Joe penasaran, saat melihat Virranda menyendok minumannya dan mengecapnya.
__ADS_1
"Seenak dan sewangi aromanya Joe," sahut Virranda terus menyendok sambil meniupnya sebelum memasukannya kedalam mulutnya.
Joe kembali mengulas senyum bahagianya mendengar perkataan Virranda.
"Rasa hangat jahenya, sehangat perasaan sayangku padamu mommy Verrel. Dan manis madunya, semanis Mommy Verrel yang selalu membuatku terpesona. Klop kan?" ucap Joe memandang sumringah pada Virranda yang terus mencicipi minumannya.
"Dasar gombal!" kekeh Virranda diikuti Joe. Hati wanita itu ikut menghangat mendengar ucapan suaminya itu.
"Joe, aku ingin bicara," ungkap Virranda kemudian, setelah tawanya mereda.
"Bicaralah, aku akan mendengar," sahut Joe menatap Virranda dengan wajahnya yang memerah setelah meredakan tawanya.
"Papi ingin aku berkerja kembali di Perusahaan," Virranda memandang wajah Joe yang sedang menatapnya lekat. "Menurutmu, apakah aku harus menerimanya, atau menolaknya saja?" tanya Virranda hati-hati.
"Aku rasa, kau berhak memutuskannya sendiri Virranda, tidak perlu bertanya padaku," ucap Joe dengan nada rendah dan pelan, lalu menghirup minumannya.
"Apa maksudmu Joe?" Hati Virranda mendadak resah, pasalnya ia mengingat ucapan ibunya bila Joe mendengar pembicaraannya siang tadi dengan ayahnya.
"Jadi, kau tidak membutuhkan ijinku," lanjutnya lagi.
Tenggorokan Virranda terasa tercekat, hingga ia tak mampu menelan salivanya. Ia tidak tahu mengapa ucapan Joe terasa begitu menyakitkan, ia bener-benar tidak rela Joe mengucapkan kata-kata itu.
"Joe, apa selama enam tahun ini, kebersamaan kita tidak ada artinya untukmu?" tanya Virranda dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Apa semua kata-kata manismu selama ini hanya gombalanmu saja demi membuat diriku dan Verrel senang?" perasaan Virranda semakin berkecamuk. Ternyata dirinya sudah salah faham menanggapi kebaikan Joe padanya, karena pria itu hanya melakukan semuanya berdasar perjanjian kontrak pernikahan mereka.
"Jangan tanyakan itu padaku Virranda. Air matamu itu terlalu berharga hanya untuk menangisi laki-laki sepertiku," Joe mengusap buliran air mata Virranda yang merembes kepipinya dengan jari-jarinya.
"Joe, jawab pertanyaanku Joe, jawab!" ucap Virranda dengan nada sedikit meninggi, ia memegang erat tangan Joe yang mengusap air matanya.
"Aku harus menjawabmu bagaimana?" Katakan padaku, apa yang harus aku katakan Virranda?" ucap Joe menahan segala emosi perasaannya.
__ADS_1
"Katakan kalau kau tidak mengijinkanku berkerja Joe, dan aku pasti akan menurut. Aku akan menemani Verrel dirumah dan menunggumu pulang berkerja," sahut Virranda semakin mengeratkan pegangan tangannya pada tangan pria itu.
"Aku tidak bisa melarangmu seperti dulu lagi Virranda. Aku bahkan akan mengijinkanmu untuk berkerja di perusahaan Papi-mu,"
"K-kenapa Joe, apakah kau sudah berubah?" suara Virranda terdengar bergetar, menahan perasaannya yang semakin bergejolak. Ada rasa takut disana, takut atas perubahan sikap Joe, takut kehilangan perhatian laki-laki yang sudah mengisi hari-harinya itu, dan banyak ketakutan lainnya lagi yang ia rasa. Itu semua menggelisahkan dirinya.
"Kau fikir aku tidak tahu kalau kau sering menangis dikamarmu sambil memanggil kedua orang tuamu selama kita diluar negeri Virranda." Virranda menatap Joe dengan wajah sembabnya, ada rasa malu karena ketahuan pria itu bila dirinya sering menangisi orang tuannya.
"Keberadaanku disisimu sudah menjauhkanmu dan Verrel dari keluargamu. Aku merasa menjadi laki-laki yang kejam." Virranda kembali tercekat, Joe pasti merasa sangat tidak nyaman mendengar ucapan ayahnya siang tadi batinnya.
"Aku memintamu, menerima tawaran Papi-mu Virranda. Berkerjalah kembali bersama Papi-mu. Kau satu-satunya harapan dan penerus ayahmu dalam keluargamu,"
"Tapi Joe--" sahut Virranda cepat.
"Tidak usah membantah. Bukankah kau tadi sudah berkata pasti menurut pada kata-kata suamimu, sekalipun aku memintamu menemani Verrel dirumah dan menungguku pulang berkerja. Jadi sekarang aku memintamu untuk menerima tawaran berkerja dari Papi-mu," putus Joe. Virranda terpana mendengar ucapan pria itu.
"I-Iya, kau suamiku. Aku pasti menurut," ucap Virranda tergagap dengan perasaan sesak yang mendadak hilang, rona wajahnya membuat Joe tersenyum.
"Kita sudah di Indonesia Virranda, jadi aku tidak khawatir membiarkanmu berkerja. Ada keluargamu disini, dan Verrel juga sebentar lagi akan bersekolah," tambah Joe lagi.
"Bolehkah aku meminta tolong?" tanya Joe pelan.
"Katakan, aku pasti melakukannya," ucap Virranda berubah semangat, merasa pernyataan Joe sebagai suaminya adalah amunisi baru baginya.
"Boleh lepaskan tanganku? Aku haus setelah banyak berbicara," ucap Joe melirik tangannya yang masih digenggam erat oleh Virranda.
Wajah Virranda semakin merona, melihat tangannya yang sedang menggenggam erat tangan pria itu.
"Kau memang sangat menyebalkan Joe, kenapa harus bilang seperti itu?!' pekik Virranda berusaha menahan rasa malunya sambil menghempaskan tangan pria itu menjauh darinya.
Joe kembali terkekeh melihat ulah Virranda padanya. Wanita memang sangat membingungkan, baru saja dia meneteskan air matanya, lalu tiba-riba menghempaskan tangannya begitu saja karena malu dan gengsi, batin Joe sambil terus terkekeh. Tidak mengapa, apupun yang dilakukan wanita itu, selalu saja dapat dirinya maklumi, semuanya karena cinta yang ia pupuk sendiri hingga bertambah hari bertambah menggunung.
__ADS_1
Bersambung....👉