
"Aku ingin tahu, apa kehidupan masa lalumu itu ada kaitannya dengan apa yang kau katakan saat kita makan malam di London?" tanya tuan Loenhard memulai percakapannya.
"Iya Tuan," sahut Joe singkat. Tidak berani berbicara panjang lebar.
"Sebagai seorang laki-laki yang sangat menghargai seorang perempuan, aku sebenarnya sangat kecewa padamu, juga tuan Ferdinand, kalian berdua beda-beda tipis, sebelas duabelas. Walau latar belakang dan alasan kalian melakukannya berbeda satu sama lain," ungkapnya menatap garang pada Joe.
"Aku berharap, kau benar-benar sudah meninggalkan kehidupan masa lalumu itu, seperti apa yang dikatakan isteriku." ungkap tuan Loenhard masih menatap Joe yang setengah menunduk memperhatikan ucapannya.
"Aku ingin memberimu kesempatan menjadi menantuku, tapi ada rasa ragu dihatiku--," tuan Loenhard menjedah ucapannya, ia mengambil napas lalu mengeluarkannya kembali dengan pelan, sebelum melanjutkan perkataannya yang membuat Joe semakin berdebar-debar dan penasaran hingga menahan napasnya.
"Kenapa selama enam tahun menikahi putriku, hingga Verrel berusia lima tahun, kau tidak berhasil membuat putriku itu hamil, apakah kau mandul?" tanya tuan Loenhard menuduh.
Joe terkesiap, begitu pula dengan Lirasa isterinya, tidak menduga perkataan itu bisa lolos dari mulut pria ubanan itu.
"Saya, saya belum menyentuh putri Tuan," sahut Joe kikuk, tidak sadar membuka rahasia rumah tangganya.
"Apa?!" tuan Loenhard mendelikan matanya, tidak percaya mendengar ucapan Joe yang tidak masuk akal. Berbeda dengan Lirasa, wanita paruh baya itu sudah tau semuanya, ketika mendengar pengakuan dari putrinya waktu itu.
"Omong kosong apa ini?" ucapnya masih dengan raut tidak percaya dan mulai menunjukan emosinya lagi, tensi tinggi sang kakek uban sepertinya kembali kumat.
"Apa pesona putriku kalah dengan para wanita paruh baya itu?" tuduh tuan Loenhard lagi
"Bukan itu Tuan." Joe buru-buru melambaikan kedua belah tangannya dengan gerakan rusuh didepan dadanya. "Kami sepakat tidak melakukan hubungan suami isteri sebelum mendapat restu dari Tuan," jujur Joe dengan raut panik, takut sang ayah mertuanya salah faham lagi.
Tuan Loenhard seketika membeku, ucapan Joe sangat sulit dipercaya, apakah ada laki-laki seperti itu, menyia-nyiakan isterinya hanya menanti satu kata restu sang ayah mertua? Padahal mereka sudah resmi menikah. Berbeda dengan Ferdinand yang ia idam-idamkan, laki-laki itu sudah berani menyentuh dan menghamili putrinya sebelum menikah.
"Aduh, kepala ku sakit lagi Mi," keluh tuan Loenhard pada isterinya.
"Kenapa bisa sakit lagi Pi?" Lirasa nampak panik begitu juga Joe. Keduanya buru-buru bangkit dari duduk, dan menghampiri tuan.Loenhard yang memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Papi tersinggung," ucap Loenhard masih memegang kepalanya yang berdenyut.
"Bisa-bisanya punya menantu seperti dia." tunjuk tuan Loenhard ke arah wajah Joe, "Alasan saja bilang menunggu restu. Dia pasti masih berhubungan dengan perempuan-perempuan tua itu sehingga tidak menyentuh putriku!" ketusnya marah.
Joe yang ditunjuk jadi serba salah. Kepalanya ikut berdenyut karena bingung atas sikap sang ayah mertua.yang membagongkan.
"Joe, pergilah sekarang. Bukankah semalam Virranda memintamu untuk mengantarnya ke kantor hari ini juga Verrel ke sekolah? Ambil kunci kontak mobil disebelah tas Mami itu, dan segera berangkat, takut terlambat. Ada perawat yang akan membantu Mami mengurus Papi," ucap Lirasa menatap Joe.
"I-iya Mi," sahut.Joe masih bingung, ia menggaruk-garukan kepala bagian belakangnya yang tidak gatal, karena ia tidak pernah mendengar bila Virranda mengatakan seperti yang diungkapkan oleh ibu mertuanya itu.
Tapi Joe tetap menurut, sebelum pergi, ia berpamitan terlebih dahulu pada kedua mertuanya, supaya tidak ditegur seperti sebelumnya.
Setelah mencium tangan sang ibu mertua, Joe nampak ragu melakukan hal yang sama pada ayah mertuanya yang menatapnya garang.
"Ini!" tuan Loenhard mengulurkan tangannya dan menghadapkan punggung tangannya kewajah Joe. Untuk sesaat lamanya, Joe kembali terpana, tidak percaya dengan sikap yang ditunjukan oleh ayah mertuanya.
"I-iya Tuan," Joe buru-buru meraih tangan ayah mertuanya dan menciumnya secepat kilat dengan hati penuh debaran, dan ada rasa bahagia disana, walau perlakuan sang ayah mertua masih menujukan sikap ketusnya.
"Saya pamit dulu," ucap Joe melirik kedua mertuanya dengan raut sungkan. Begitu mendapat anggukan, ia tersenyum bahagia didalam hati lalu bergegas pergi membawa kunci kontak mobil yang ditunjuk oleh ibu mertuanya.
"Apa Mami tidak merasa kalau menantumu itu sangat bo*oh?" gumam tuan Loenhard masih menatap ke arah pintu, dimana Joe sudah tidak terlihat disana.
"Bo*oh? Maksud Papi apa?" tanya Lirasa tidak suka pada ucapan sang suami.
"Laki-laki mana yang selama enam tahun hidup bersama, sama sekali tidak mau menyentuh isterinya. Apa tidak bo*oh itu namanya, atau dia berbohong hanya untuk mendapatkan simpatiku? Heum?" ucap tuan Loenhard kembali asal menuduh.
"Bukan tidak mau Pi, tapi belum Pi, belum." bela Lirasa. "Apa Papi lupa pernah memukul wajah Joe saat pertama Virranda membawanya kerumah kita. Papi memaki-maki, menghina, hingga berujung pengusiran Virranda dan Joe waktu itu," ucap Lirasa mengingatkan.
"Iya, Papi ingat," sahut tuan Loenhard lirih, ada rasa malu menyergapnya, mengingat kejadian waktu itu, saat kemarahan tengah menguasinya. "Wajar bila Papi marah, karena Virranda putri Papi, dan Papi juga tidak tahu fakta yang sebenarnya waktu itu," kilahnya membela diri.
__ADS_1
"Iya, wajar-wajar saja bila Papi marah waktu itu. Dan mungkin saja karena kemarahan Papi ketika itu, membuat Joe tidak berani menyentuh putri kita, ditambah lagi Papi tidak pernah mau bertemu Joe ketika ia mengantarkan Virranda pulang dari luar negeri dan ucapan tidak enak Papi saat pertemuan kita di London," ucap Lirasa menduga.
Tuan Loenhard kembali tertegun, mungkin saja ucapan isterinya itu benar, batinya. Ia menyentuh kepalanya yang sakitnya kini sudah berangsur hilang.
...🍓🍓🍓...
Virranda dan Joe kompak melambaikan tangan, membalas lambaian riang Verrel yang berlari memasuki gerbang sekolahnya.
Joe menjalankan mobilnya dengan perlahan, meninggalkan sekolah Verrel untuk mengantar ibu anak sambungnya itu kekantor.
Ya, sebentar lagi Virranda tidak hanya menjadi ibu dari Verrel saja tapi juga akan menjadi ibu dari anak-anaknya, ucap Joe membatin. Ia tersenyum sendiri memikirkan apa yang ada didalam kepalanya itu
"Apa yang membuatmu tersenyum Joe?" tanya Virranda penasaran.
"Sesuatu yang terlintas dikepalaku," sahut Joe terus tersenyum. Ia melirik Virranda disebelahnya yang masih memasang wajah penasarannya.
"Apa yang terlintas dikepalmu Misuaku? Heum? Katakan? Jangan buat aku penasaran," ucap Virranda setengah memaksa.
"Rahasia??" sahut Joe seraya terkekeh.
"Aduh, sakit sayang," keluh Joe, ketika cubitan Virranda mendarat diperutnya yang keras dan berotot.
"Apakah kau sudah berbaikan dengan Papi?" tanya Virranda.mengabaikan keluhan Joe yang pura-pura merasa kesakitan. Wanita itu begitu penasaran dengan perkembangan hubungan sang Papi dengan suaminya itu.
"Belum sepenuhnya, Papi-mu masih ketus padaku. Tapi--, aku sudah boleh mencium tangannya," sahut Joe dengan senyumnya yang kembali mengembang.
"Benarkah?" Virranda membulatkan kedua bola matanya, hatinya turut menghangat mendengar kabar yang ia anggap baik itu.
Bersambung...👉
__ADS_1