
"Itu sangat mungkin, karena putramu Verrel adalah darah dagingku." ucap.Ferdinand seraya mengarahkan wajah Virranda padanya.
Virranda menatap tajam wajah Ferdinand yang tengah mengunci tubuhnya pada kursi kerjanya. Ia tidak menyangka pria itu begitu terobsesi memiliki dirinya hingga mengarang cerita yang tidak masuk akal seperti itu.
"Apa kau fikir aku percaya? Berhenti bicara omong kosong tuan Ferdinand." sentak Virranda muak sambil berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku! Jangan perlakukan aku seperti ini!" ucap Virranda marah dengat sorot mata tajamnya.
"Maaf, aku belum bisa melepaskanmu sebelum kita menyelesaikan masalah ini," tukasnya terus mengunci Virranda disana.
"Dan Aku bukan laki-laki yang hobby bicara omong kosong nona Virranda. Bila kau tidak percaya, mari kita buktikan bersama, dengan cara test DNA antara diriku dan putramu Verrel." tantang Ferdinand.
"Tidak! Verrel anak suamiku! Anak dari pernikahanku dengan Joe," tolak Virranda ketus, hatinya semakin kesal.pada laki-laki itu yang telalu jauh masuk kedalam ranah pribadinya.
"Kau boleh berdusta pada semua orang. Termasuk pada kedua orang tuamu. Tapi tidak padaku nona Virranda," kembali Ferdinand memberi penekanan pada ucapannya.
Virranda terperangah, mungkinkah mantan bosnya itu benar-benar tahu rahasianya, batinmya. Padahal selama ini dirinya tidak pernah bercerita pada siapapun tentang kejadian malam itu, selain pada ibunya dan Joe.
"Apa maksudmu dengan ucapanmu itu Tuan?" kecam Virranda gusar. Ia yakin, laki-laki itu pasti tidak tahu apapun tentang apa yang telah terjadi pada dirinya malam itu, apalagi mereka memang tidak pernah saling mengenal sebelumnya batinnya.
"Sebelum menikah dengan suamimu. Kau sudah pernah tidur dengan pria lain, dan hamil," Ferdinand berbisik ditelinga wanita itu.
__ADS_1
"Cukup! Omong kosong apa itu!" tubuh Virranda bergetar, menahan amarah dengan wajah yang semakin memerah.
"Aku belum selesai--, kau harus mendengarkanku," ucap Ferdinand memaksa, ia memperbaiki letak posisinya, supaya tubuhnya tidak menekan Virranda yang tengah dikungkungnya pada kursi kerja wanita itu.
"Lihat putramu Verrel, apa kau tidak tertarik untuk mengetahui kenapa wajah putramu itu persis mirip dengan diriku semasa kanak-kanak? Heum?" Virranda hanya mengatupkan mulutnya dengan rapat, menyimak semua perkataan Ferdinand yang membuat perasaannya saat ini begitu kacau.
"Kau pasti ingatkan aroma parfumku ini?" Ferdinand sengaja menyisakan sejengkal saja, jarak antara wajahnya dengan wajah Virranda yang duduk merapat pada sandaran kursinya, supaya wanita itu dapat mencium aroma parfum yang dirinya maksud.
Ferdinand mendekatkan bibirnya pada daun telinga Virranda," Karena malam itu, akulah yang tidur denganmu dikamar hotel itu hingga menjelang pagi." ucapnya setengah berbisik, namun sangat jelas pada pendengaran wanita itu.
Sorot tajam Virranda seketika berubah sayu, ia merasakan hatinya begitu hancur mendengar pengakuan pria itu. Ia masih belum bisa mempercayai perkataan pria itu sepenuhnya, ini memang benar-benar sulit untuk diterima. Tapi kenapa? Semua yang laki-laki itu katalan bersesuaian dengan apa yang memang pernah dirinya alami enam tahun silam.
"Pergi..." ucap Virranda dengan suara lemahnya yang bergetar. Tenaganya seakan hilang terkuras seiring pernyataan mengejutkan pria itu padanya.
Sedikit ada rasa penyesalan diraut wajahnya, melihat ekspresi Virranda yang demikian setelah pengakuannya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak ingin merasakan sakitnya kehilangan wanita itu dan putranya lagi.
"Maafkan aku, karena sudah menidurimu ketika itu." ucap pria itu sendu dengan nada.penyesalan.
"Aku benar-benar mencintaimu, sangat mencintainmu sejak kejadian malam itu. Aku mencarimu, tapi aku tidak menemukanmu. Sampai akhirnya kau yang datang sendiri melamar pekerjaan pada perusahaanku, dan aku menerimamu sebagai asisten pribadiku walau saat itu aku sudah memiliki Gerry yang menjadi asistenku."ungkapnya.
"Aku mohon, ayo kita memulai dari awal. Ada aku, kau, dan Verrel putra kita," ucap Ferdinand menatap penuh harap.
__ADS_1
"Pergi..." ucap Virranda lagi, saat ini dirinya sama sekali tidak bisa berfikir jernih. Air matanya sudah luruh merembes membasahi pipinya, membuat Ferdinand semakin merasa bersalah.
"Tolong, maafkan aku, aku--" pria itu kembali memohonkan maaf dengan raut penyesalan.
"Tinggalkan aku, aku ingin sendiri," suara Virranda semakin serak, menahan tangisnya supaya tidak meledak.
"Baiklah..." Ferdinand berdiri tegak dari posisi tubuhnya yang sebelumnya condong pada Virranda yang duduk dikursinya. Walau merasa ragu dan terpaksa, ia tetap melangkah menjauh. Sebelum keluar pintu, Ferdinand menoleh ke arah Virranda yang kini sudah membalikan arah kursi kerjanya menghadap dinding dibelakang mejanya.
Ia mendesah berat, saat melihat punggung Virranda berguncang-guncang dari balik sandaran kursinya. Ia tahu, wanita itu pasti sedang menangis, hanya saja tidak memperdengarkan suaranya.
Setelah menutup rapat pintu ruang kerja Virranda, Ferdinand berjalan gontai menuju lift, sambil meraih ponselnya dari dalam saku jasnya.
📞"Hallo, dengan sekretaris Shen disini, ada yang bisa dibantu?" terdengar suara lembut seorang wanita dari seberang sambungan telepon.
📞"Sekretaris Shen, naiklah kelantai delapan. Cukup temani nona Virranda diruangannya, jangan bertanya apapun. Aku mau kau mengawasi Nonamu itu saja, jangan sampai dia melakukan hal yang membahayakan dirinya. Kau mengerti?" ucap Ferdinand.
📞"Baik Tuan, saya mengerti."
📞"Bila ada sesuatu yang tidak sanggup kau tangani sendiri, beritahu aku, atau pegawai lainnya."
📞"Baik Tuan."
__ADS_1
Ferdinand menutup ponselnya, lalu masuk kedalam lift.
Bersambung...👉