
Sudah hampir dua jam Joe sabar menunggu. Sesekali ia harus mengganti saluran televisi untuk mengusir rasa bosannya, hingga akhirnya rasa kantuk menyerangnya.
Belum bener-bener terlelap, Joe merasakan tangan seseorang tengah menelusup kedalam kemejanya, menggerayangi tubuhnya yang sedang terbaring disofa dalam ruangan mami Ratu, ya begitulah para pegawai disana memanggil sang majikan, wanita jadi-jadiaan itu.
Gerakan refleks tangan Joe dengan cekatan menahan dan mencengkram tangan itu, yang berusaha menelusup kedalam celana jeans yang ia kenakan.
"Agghhh!!" jeritan kesakitan terlontar keluar dari mulut sang pemilik tangan karena Joe sudah memelintir tangannya hingga berpilin.
Joe lalu melepaskan pelintiran tangan orang tersebut sembari tersenyum sinis dan.menegakkan tubuhnya duduk disofa dimana dirinya berbaring dan sempat tertidur sebelumnya.
"Kau tidak pernah berubah Joe, sudah menyakitiku tapi tidak pernah meminta maaf," ungkapnya masih meringis kesakitan, memegang pergelangan tanggannya yang seketika telah membengkak, karena keseleo akibat perbuatan Joe.
"Kau juga tidak pernah berubah. Makanya mami Ratu, tangannya harus dididik supaya jangan kebiasaan menggerayangi orang yang sedang tidur. Mami Ratu tahukan? Aku paling tidak suka main pedang-pedangan," ucap Joe masih menyisakan senyum sinis diujung bibirnya dengan raut jijik.
"Sudahlah! Tidak perlu dibahas lagi. Katakan, apa keperluanmu kemari Joe, setelah sekian lama menghilang? Apa kau ingin kembali berkerja padaku?" ucap mami Ratu sembari menyodorkan minyak pijat pada Joe, yang ia ambil dari kotak obat yang ada dibelakang meja kerjanya.
"Tolong, bantu aku. Tanganku sakit sekali," rintihnya mengulurkan pergelangan tangan kanannya yang semakin membengkak pada Joe.
Tanpa banyak bicara, Joe membalur tangan wanita jadi-jadian itu dengan minyak pijat. Jari-jemarinya mulai menelusuri urat-urat yang tidak berada pada jalurnya. Setelah dirasa cukup, tanpa aba-aba Joe langsung melakukan aksinya.
Krak! Krak! Krak! Krak!
"Awwhhhhh!" jerit panjang terdengar melengking dari mulut mami Ratu. Suara lembut yang biasa diperdengarkannya seketika berubah menjadi bariton parau dan berat.
Joe seketika merinding mendengarnya, dua detik kemudian ia tergelak, tidak sanggup menahan tawanya, membuat mami Ratu memukul pundaknya kesal dengan tangan kirinya yang tidak sakit.
"Tidak sopan!" suara mami Ratu kembali melembut. "Bukannya merasa bersalah dan minta maaf, kau malah mentertawaiku Joe," ucapnya dengan suara khasnya yang semakin melembut dan raut yang menunjukan rasa sakit yang luar biasa akibat aksi Joe yang menarik pergelangan tangannya, untuk membenarkan tulangnya yang sedikit bergeser.
"Bagaimana? Apa masih sesakit tadi?" tanya Joe tidak terlalu menggubris ucapan mami Ratu sebelumnya.
__ADS_1
Wanita jadi-jadian itu menggerak-gerakan pergelangan tangan kanannya dengan sangat hati-hati. Wajah meringisnya langsung memudar, berganti dengan senyuman.
"Kau memang hebat Joe. Terima kasih." ucapnya senang, walau masih terasa sedikit sakit namun sudah tidak sesakit sebelumnya.
Walau Joe beberapa kali sering menyakiti dirinya secara fisik, namun wanita jadi-jadian itu, yang akrab dipanggil mami Ratu oleh semua bawahannya, selalu memaklumi apa yang dilakukan Joe yang berupaya melindungi dirinya dari gangguannya yang sengaja menggodanya. Apa lagi selama ini, Joe juga sudah sangat membantunya untuk menimbun pundi-pundi rupiahnya saat pria itu mau diajak kencan oleh para wanita kaya ketika masih bekerja padanya beberapa tahun silam.
"Jadi apa yang membuatmu datang kemari Joe?" tanya mami Ratu lagi.
"Dari siapa kau membeli Virranda, lalu menjualnya kepada siapa?" sahut Joe dengan melontarkan pertanyaan balik.
Mami Ratu tidak langsung menjawab, ia membenarkan sikap duduknya, namun Joe bisa melihat perubahan air muka pemilik tempat hiburan pria hidung belang dan para wanita kesepian itu.
"Aku--, tidak kenal nama yang kau sebutkan itu Joe?" ucapnya berusaha menghindar dari tatapan Joe.
"Mami Ratu, kau tidak bisa membohongiku. Aku tahu kebiasaanmu, nama Virranda pasti tercatat rapi pada buku harianmu, karena wanita itu sudah menghasilkan banyak uang untukmu bukan?" todong Joe yang sangat hafal kebiasaan mantan majikannya itu, karena selama berkerja, sang majikan lebih terbuka padanya, dirinya dianggap lebih spesial dari para pekerjanya yang lain, lebih membawa keuntungan secara finansial.
"Aku tidak akan membayar apapun untuk informasi yang kuminta. Justru kau wajib membukanya padaku, karena wanita itu adalah isteriku," ucap Joe datar.
"Kau serius?" tanya mami Ratu kaget. Ia mengubah posisi duduknya, menatap serius pada Joe yang sedari tadi memandangnya datar.
"Tentu. Kau tahu, aku tidak suka berdusta. Dan kau juga tahu, apa akibatnya bila berani merusak milikku," ucap Joe dengan nada rendahnya. "Aku bisa melaporkanmu atas perbuatanmu menjual isteriku tanpa persetujuannya. Lumayan, mendekam dalam jeruji besi yang dingin bisa membersihkan sedikit otakmu, mami Ratu," ancam Joe dingin.
"Joe--, aku tidak tahu kalau dia isterimu, maafkan aku," ucap mami Ratu terbata-bata. " Aku berani bersumpah, aku benar-benar tidak tahu Joe," ucapnya lebih bersungguh-sungguh.
"Jadi benar! Kau pernah menjual isteriku?!" Joe menggeram, dengan sadar ia menarik leher baju mami Ratu yang sedikit terbuka agar terlihat lebih seksi.
"Sakit Joe, lepaskan," ucapnya tertahan.
"Cepat katakan! Siapa orang yang telah menjual dan membeli isteriku itu?" pekik Joe tidak perduli pada kesakitan yang dirasakan mami Ratu akibat perbuatannya, ia malah lebih mengencangkan cengkramannya, hingga wajah mantan majikannya itu sampai mendongak keatas, berusaha mencari nafas lega karena bajunya yang menjepit hingga membuat lehernya seolah tercekik.
__ADS_1
"B-baik Joe. T-tapi lepaskan dulu cengkraman tanganmu, supaya aku bisa lebih leluasa untuk berbicara." pintanya.
"Awas! Kalau kau berani berbohong padaku!" ancam Joe lagi sembari melepaskan cengkraman tangannya.
Begitu Joe melepaskan cengkraman tangannya, mami Ratu segera merapikan pakaiannya yang sedikit kusut sembari mengatur nafasnya yang sempat kembang kempis.
Sementara Joe kembali duduk tenang, memberi kesempatan pada mantan majikannya itu untuk menenangkan dirinya.
"Seorang wanita muda waktu itu mendatangiku, katanya ada temannya yang sedang butuh uang, lalu aku memberinya uang tiga juta rupiah sesuai permintaannya," Jelas mami Ratu, mengingat awal pertemuannya dengan wanita yang tidak dikenalnya waktu itu.
"Siapa namanya?" tanya Joe.
"Aku tidak tahu," sahut mami Ratu yang memang tidak mengenalnya.
"Tunggu sebentar," Joe buru-buru menggiulir ponselnya untuk beberapa detik lamanya, sampai akhirnya ia menemukan yang ia cari," Apakah ini wanitanya?" Joe menunjukan poto Wina Arauna dari salah satu akun medsos.
Dua jam yang lalu, saat dirinya menunggu kedatangan mami Ratu, Joe mengingat kisah Virranda tentang aibnya. Sebelum isterinya itu mengalami kejadian malam laknat itu, sahabatnya yang bernama Wina-lah yang membuka sewa hotel waktu itu. Kecurigaan Joe sejak lama itulah yang membawanya mencari tahu tentang sahabat isterinya itu.
Mami Ratu, menatap photo Wina cukup lama, sebelum akhirnya ia mengangguk pasti. "Iya, wanita ini orangnya," ucapnya yakin.
"Sudah kuduga," gumam Joe geram.
"Lalu, siapa laki-laki hidung belang yang membeli isteriku itu?" tanya Joe tidak sabar dengan tatapan tajamnya.
Mami Ratu terlihat ragu, ia sepertinya ingin tetap merahasiakan siapa laki-laki itu, tapi tatapan tajam Joe membuat hatinya menciut. Bukan tanpa alasan ia merasa enggan berbohong pada Joe, ia pernah menyaksikan sendiri, bagimana brutalnya Joe, menghajar dan memanggang bokong salah seorang pegawainya diatas kompor menyala, yang berani meremehkannya hanya gara-gara satu galon air mineral yang secara sengaja tidak diisi oleh OB itu.
"Laki-laki itu--," mami Ratu menatap gugup pada Joe yang menatapnya semakin tajam. "Dia, dia pemilik Iron Wood," ungkapnya sedikit tersendat-sendat.
Bersambung...👉
__ADS_1