Daddy My Son

Daddy My Son
79. Tiga Belas Album


__ADS_3

"Berikan laporanmu!" titah Ferdinand, begitu Gerry sudah berdiri dihadapannya. Ia bersandar pada kursinya dengan gaya santainya sembari menyilangkan kedua kakinya yang selonjor bertumpu diatas meja kerjanya.


Gerry lalu menurunkan tas berat yang tengah digendongnya ke lantai, dsisi kakinya. Dari dalamnya ia mengeluarkan beberapa album dan meletakannya diatas meja, tepat dihadapan Ferdinand.


"Apa itu?" Ferdinand menandang buku-buku album itu lalu menatap kearah Gerry meminta penjelasan, masih dengan gaya santainya.


"Lihat saja, itu adalah album-album photo anak-anakmu, lengkap dengan hasil test DNA-nya," sahut Gerry.


"A-anak!" wajah Ferdinand seketika berubah gugup, ia buru-buru menurunkan sepasang kakinya yang bertumpu diatas meja dan membenarkan posisi duduknya menjadi tegak didepan mejanya. Tangannya terulur memegang album-albun itu dengan gemetar. Ia mulai menghitung jumlah buku album-album itu. Sementara Gerry hanya diam, memperhatikan semua gerak gerik sang Direkturnya itu.


"T-tiga belas?" lirih Ferdinand dengan suara bergetar, menatap Gerry meminta konfirmasi bawahannya itu.


"Iya Kwang, anak-anakmu itu ada tiga belas orang anak perempuan." Gerry memperlihatkan raut ngerinya. "Dari enam belas daftar nama para wanita-wanita yang kau berikan padaku, aku hanya berhasil menemukan tiga belas saja dari wanita-wanita itu yang melahirkan darah dagingmu," jelas Gerry.


Ferdinand membeku, dengan bibirnya setengah terbuka, melihat raut Gerry dan mendengar perkataan mulut asistennya itu, membuat lidahnya seketika terasa kelu, tidak mampu melontarkan perkataan apapun.

__ADS_1


Hanya tangannya saja yang mampu ia gerakan, membuka album yang pertama diatas meja, tidak menyangka bila benih yang ia tebar begitu saja tanpa rasa cinta ternyata semuanya menjadi bayi dan tumbuh menjadi tiga belas anak perempuan.


"Itu poto wanita yang pernah melakukan one-night stand beberapa tahun silam. Namanya tertera disamping photonya Apa kau mengingatnya?" tanya Gerry menatap Ferdinand yang tengah melihat photo dihadapannya pada lembar pertama album itu.


Ferdinand hanya menggeleng pelan, tanpa berucap sepatah katapun. Gerry sudah menduganya bila respon sang majikannya akan seperti itu.


"Wanita itu sekarang berkerja menjadi TKI dinegara Taiwan. Ia meninggalkan putrinya, hasil hubungannya denganmu dirumah ibunya. Karena tidak ada biaya, putrimu itu tidak mengenyam pendidikan taman kanak-kanak. Untungnya, diusia enam tahun ini, neneknya menyekolahkannya di sekolah dasar karena gratis, cukup membeli buku, peralatan sekolah, dan beberapa seragam dengan cara mencicil," jelas Gerry.


Sembari mendengar penjelasan Gerry, Ferdinand membuka lembar demi lembar poto putrinya itu. Hatinya merasa pilu, ketika melihat tubuh kurus darah dagingnya yang tersenyum polos mengenakan seragam merah putih, menenteng tas yang berwarna pink pudar dan putus satu tali gendongannya. Mungkin itu pemberian tetangga, batin Ferdinand menduga.


"Itu, album yang sedang kau buka itu," Gerry menunjuk album terakhir, yang ketiga belas. "Putrimu itu dikirim oleh kakek neneknya ke panti asuhan, karena kedua kakek neneknya juga sudah jompo, tidak mampu merawat putrimu." jelas Gerry menatap Ferdinand.


"Ibunya kemana?" tanya Ferdinand sedikit acuh dengan raut tanpa minat. Sekalipun pertanyaannya tidak dijawabpun, tidak masalah baginya. Ia memperhatikan poto seorang bocah perempuan yang sedang berdiri didepan pagar dengan berlatar belakang papan nama bertuliskan salah satu nama panti asuhan yang ada dikotanya.


Diantara semua album para bocah yang disebutkan sebagai darah dagingnya itu, hanya anak perempuan itu saja yang terlihat lumayan terawat, tidak sedekil beberapa anak-anak perempuan dibeberapa album sebelumnya.

__ADS_1


"Ibunya meninggal karena sakit, saat putrimu itu berusia enam bulan. Jadi kakek dan neneknya yang mengambil alih merawatnya. Sementara saudara-saudara ibunya yang lain tidak bisa membantu, karena kesulitan ekonomi, membuat mereka harus berkerja untuk menafkahi keluarga mereka masing-masing."


"Bahkan, salah satu dari kakak laki-laki ibunya, yang malas berkerja, memaksa anak perempuanmu itu untuk mengemis dipasar dan beberapa rumah makan. Karena beberapa kali tertangkap rajia, terpaksa nenek dan kakeknya merelakannya diasuh oleh pihak panti," jelas Gerry panjang lebar.


Ferdinand kembali terpaku, menatap poto wajah anak perempuan yang sangat kurang kasih sayang itu, dan membayangkan betapa sulitnya kehidupan semua darah dagingnya yang dilahirkan oleh wanita-wanita itu.


"Lalu bagaimana dengan tiga wanita lainnya?" tanya Ferdinand ingin tahu, setelah ia berhasil menetralkan rasa sedih dan pedihnya melihat nasib para darah dagingnya itu.


"Tiga wanita itu tidak diketahui keberadaannya, aku sudah berusaha mencari tahu. Kabar angin, katanya mereka menjadi isteri simpanan para lelaki hidung belang, dan belum memiliki anak sampai sekarang." sahut Gerry tidak yakin.


"Dari semua yang kau perlihatkan padaku ini, apa kau sengaja memperlihatakan sisi memprihatinkan anak-anak itu padaku? Supaya hatiku tersentuh melihatnya?" ucap Ferdinand datar, berusaha menahan rasa pedihnya yang kembali menyerang.


"Aku mengambil semua gambar-gambar itu sesuai apa adanya mereka saat aku bertemu secara langsung bersama orang-orang kita Kwang. Bila kau tidak mempercayaiku, aku bisa membawamu menemui mereka satu persatu, kapan kau siap saja," tantang Gerry menatap Ferdinand yang kini berdiri dari duduknya.


Ferdinand menatap Gerry sejenak, "Temui sekretaris Linlin, kau atur jadwalku dengannya. Supaya aku bisa menemui ketiga belas anak perempuan yang kau sebut anak-anakku itu," ucap Ferdinand mantap.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2