
"Baik Tuan Joe, nona Virranda, mohon ditunggu sebentar, tuan Johan sebentar lagi akan kemari." ucap sales counter itu ramah dan bergegas meninggalkan Joe dan Virranda yang duduk di sofa showroom mobil, membawa berkas yang baru saja selesai ditandatangani oleh Virranda untuk legalitas mobil atas nama dirinya.
Virranda memperhatikan sekilas situasi sekelilingnya, siang itu suasana showroom nampak cukup ramai, beberapa pelanggan yang datang bersama pasangannya tengah dilayani para sales counter lainnya, melihat mobil pilihan mereka.
"Joe, kau serius membeli mobil itu," bisik Virranda kemudian.
"Iya, aku serius." sahut Joe meyakinkan.
"Tapi Joe. Bagaimana bisa? Mobil itu lumayan mahal. Lagi pula, kau baru saja membuat kontrak pembelian rumah, itupun masih dicicil," Virranda menelisik wajah Joe, ia tidak ingin apa yang dilakukan pria itu akan memberatkan hidupnya nantinya.
"Jangan khawatir. Aku sudah membayarnya cash tiga minggu yang lalu sebelum mobil itu datang, dan itu masih dari hasil tabunganku juga. Dan yang terpenting dari hasil keringatku yang halal." sahut Joe ikut berbisik.
Ia meraih satu kaleng soft drink dari atas meja, membuka penutupnya lalu memberikannya pada Virranda.
"Iya, aku tahu Joe. Tapi aku masih bisa menggunakan mobil lamaku yang dibelikan Papi dulu. Kau tidak perlu menguras isi tabunganmu hingga kering," ucap Virranda melayangkan protesnya. Ia lalu meneguk soft drink yang diberikan Joe padanya.
"Sekarang putra kita sudah sekolah. Sejak lama, aku telah memikirkan membelikanmu mobil untuk mengantar jemput Verrel." Virranda kembali terharu mendengar ucapan suaminya itu. Dan ia juga tahu bila Joe memang sangat menyayangi putranya, yang hingga kini pria itu dan dirinya belum tahu siapa ayah biologis Verrel.
"Bantu aku untuk bisa meluluhkan hati ayah mertuaku yang keras bagai batu karang itu." kembali Joe berucap lirih. Virranda tersenyum didalam hati, mendengar Joe mengatai ayahnya yang memang memiliki pendirian yang keras dan lumayan sombong itu.
"Walau aku tahu itu sangat sulit, tapi aku tetap berharap, suatu hari nanti aku bisa diterima menjadi menantunya," sambung Joe lagi dengan raut seriusnya.
Virranda kembali meneguk minumannya beberapa kali hingga kaleng minumannya kosong.
"Sayang!"
Virranda menoleh, melihat seorang wanita paruh baya yang tengah terburu-buru membawa langkahnya dari pintu masuk menghampiri seorang pria seusianya, tuan Johan, pemilik dealer yang baru keluar dari lift tidak jauh dari dirinya dan Joe yang sedang duduk menunggu.
__ADS_1
Ingatannya yang samar-samar, membuat Virranda berusaha keras untuk memutar memori yang berseliweran didalam kepalanya, dengan terus memperhatikan interaksi kedua.
"Tambahin lagi dong transferan ke rekening Mama," ucap wanita itu manja. Virranda dapat mendengarnya dengan jelas, karena jarak mereka yang cukup dekat.
"Lho Ma, Papa baru transfer tadi pagi."ucap pria itu kaget, namun dengan volume yang sengaja dipelankan.
"Masih ada sih Pa, tapi tidak cukup, udah kepake sebagian. Sebentar lagi Mama mau ngumpul arisan bersama teman-teman Mama. Tambahin ya Pa?" bujuk wanita itu lagi dengan gaya manja bak ABG, bergelayut mesra dileher tuan Johan yang sedikit kewalahan menghadapinya, melirik kanan kiri takut ada yang melihat ulah isterinya itu.
Virranda hampir tertawa lepas, merasa tergelitik melihat tingkah sang wanita paruh baya itu, ia buru-buru melempar pandangannya kearah lain, supaya tidak tertangkap basah bila dirinya memperhatikan adegan rromantis yang dipertontonkan kedua pasangan suami isteri itu.
Pandangan Virranda kini tertuju pada sikap Joe yang berubah tegang dengan wajah sediikit memucat, membuat Virranda langsung mengingat siapa wanita itu.
"Tante Ayunda? Ya, pasti dia kan Joe?," bisik Virranda merapatkan tubuhnya pada Joe, takut bisikannya didengar oleh orang lain.
"Heum," gumam Joe. Wajah pria itu masih menegang seperti sebelumnya. Masalahnya, terakhir bertemu wanita itu mengaku hamil anaknya. Itu karena Virranda lupa mengatakan kebenaran yang ia tahu saat itu.
Joe mengangkat wajahnya begitu pula dengan Virranda, keduanya lalu melihat berkeliling secara kompak, mencari wanita paruh baya yang menjadi topik pembicaraan mereka, tapi tidak ditemukan dimanapun. Hanya ada beberapa sales counter beserta para pelanggan yang mereka layani.
"Baik tuan Johan," Joe segera berdiri, menyambut uluran tangan pemilik dealer itu. Ia berusaha bersikap tenang, walau dadanya saat ini tengah riuh, merasa takut.
"Bagaimana? Mobilnya jadi diambil hari ini?" tanya pria itu lagi, seraya duduk disofa yang berseberangan dengan Joe dan Virranda.
"Jadi tuan Johan. Saya bahkan sudah mengajak pemiliknya." ujar Joe tersenyum lebar.
"Nona Virranda Laura?" tuan Johan lumayan terkejut saat memperhatikan wanita yang bersama Joe adalah Virranda. Pasalnya orang tua Virranda, tuan Loenhard adalah customer langganan dealer mobilnya, dan beberapa kali membawa putrinya itu untuk memilih sendiri mobil yang akan dikendarainya.
Virranda yang disebutkan namanya spontan menyunggingkan senyum tipisnya.
__ADS_1
"Apa tuan Joe dan nona Viranda--" tuan Johan tidak berani menyelesaikan kata-katanya, khawatir salah menebak. Pria paruh baya itu hanya berani melekatkan jari telunjuk dan ibu jari tangan kanan dan kirinya membentuk pola hati.
"Nona Virranda adalah majikan saya tuan Johan, dan saya adalah pelayannya," sahut Joe memberi penjelasan. Dirinya sangat sadar, orang tidak akan percaya bila ia mengaku adalah suami dari Virranda, putri seorang pengusaha kaya raya dikota itu.
Raut Virranda seketika berubah lesu, mendengar penuturan Joe tentang hubungan mereka. Joe tentu punya alasan mengatakan hal seperti itu, mungkin saja ada kaitannya dengan status sosial diantara mereka, yang menurutnya tidak perlu dipersoalkan, atau mungkin juga ada kaitannya dengan si tante Ayunda itu, batinnya. Perkataan ibunya semalam kini kembali membuatnya gelisah.
"Oh, saya fikir tuan Joe dan nona Virranda tadi ada hubungan, terlihat dekat dan akrab," pungkas tuan Johan kembali tersenyum.
"Mengingat waktu tuan Joe yang singkat, bagaimana kalau kita langsung saja melihat unitnya." ucap tuan Johan memberi ide.
"Mari tuan Johan," Joe ikut bangkit, saat pemilik dealer itu lebih dulu berdiri.
Joe yang menyadari perubahan sikap Virranda memberanikan diri meraih tangan wanita pujaannya itu. Awalnya Virranda sempat menepis, namun Joe tidak memberi kesempatan wanita itu menolaknya. Ia menautkan jari-jari tangannya pada jemari tangan Virranda hingga wanita itu terpaksa ikut bangkit dan berjalan disisnya, menyusul tuan Johan yang berjalan didepan keduanya, menuju satu ruangan kaca khusus untuk pajangan mobil seharga fantastis didealer miliknya.
"Ini mobilnya tuan Joe, sesuai pesanan Anda," tunjuk tuan Johan pada satu unit mobil sport berwarna merah menyala dengan senyum lebarnya seraya berbalik. Pandangannya tidak sengaja tertumpu pada tangan Joe yang tengah menggenggam erat tangan Virranda yang ia akui sebagai majikannya.
"Itu sebabnya aku tidak mau memiliki pengawal atau pelayan yang tampan untuk isteri ataupun putriku, bisa-bisa pagar makan tanaman," ujar tuan johan membatin.
"Bagaimana? tuan Joe dan nona Virranda boleh mencobanya dulu sebelum dibawa pulang," sambung pria itu lagi.
"Nona ingin mencobanya?" tanya Joe melirik Virranda.
"Tidak perlu Tuan, langsung saja dibawa pulang, takut Joe terlambat ke bandara." ucap Virranda memandang pada pemilik dealer itu.
"Baiklah, saya akan meminta teknisi kami untuk mengeluarkannya dari showroom ini,"ujar pria itu sambil melambai pada salah satu pegawainya untuk memanggil teknisi yang ia maksud.
Bersambung...👉
__ADS_1