
"Laki-laki itu--," mami Ratu menatap gugup sorot mata Joe yang menatapnya semakin tajam. "Dia, dia pemilik Iron Wood," ungkapnya sedikit tersendat-sendat.
"Tuan Ferdinand Kwang?" tanya Joe memastikan. Hatinya berdebar-debar, ada rasa tidak siap pada dirinya, bila benar nama yang ia sebut itu adalah pelakunya.
"Iya, dia orangnya," sahut mami Ratu. Ia tidak heran, bila Joe mengenalnya, karena laki-laki parlente itu cukup dikenal dikota itu sebagai pembisnis sukses. Tapi tidak banyak yang tahu bila pria itu menyukai jajanan juga. Dan karena pengaruhnya, gosif-gosif miring tentangnya juga akan terkubur begitu saja seperti sekam yang ditiupkan angin.
Joe terkesiap, ia memejamkan matanya sesaat, dengan dua tangannya yang mengepal. Walau ia sudah menduga Ferdinand-lah yang membeli isterinya, sesuai cerita Virranda semalam padanya, karena pria itu sudah mengaku bila dirinya adalah ayah biologis dari Verrel.
"Berapa kau menjual isteriku itu? Jujur padaku?!" Joe yang begitu gemes, kembali menarik leher baju sang mantan majikannya, namun ia berusaha menahan diri mengingat mami Ratu sudah banyak berjasa padanya dimasa lalu, sehingga ia mengurungkan niatnya untuk meremas majikannya itu menjadi serupa kertas sampah.
"Tenang Joe, kau menyakitiku lagi," keluh mami Ratu menahan tangan Joe yang mencengkram kuat leher bajunya.
"Aku, aku pasti mengatakannya padamu. Tapi jangan memperlakukanku seperti ini Joe," mohonnya dengan wajah meringis.
Walau masih dengan raut kesal dan amarah yang menggunung dalam dadanya, Joe kembali melepaskan cengkraman tangannya. "Ayo, cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu berada disini." sentaknya.
__ADS_1
"Rupiah yang aku terima dari pria kaya itu, mampu membangun satu unit Villa didaerah perbukitan pinggiran kota. Itu harga tertinggi yang pernah ia berikan padaku," ungkap mami Ratu sembari mengubah posisi duduknya, setelah merapikan baju atasannya yang sempat kacau karena ulah Joe.
"Harga tertinggi? Apa sebelum-sebelumnya ia sudah sering jajan dan menjadi pelanggan setiamu?" Joe menautkan kedua alisnya, serasa tidak percaya mendengar ucapan mami Ratu.
"Pria kaya itu memang pelanggan kelas eksklusif-ku, tapi dia tidak terlalu sering jajan disini, entahlah bila ditempat lain. Pria itu hanya memilih gadis-gadis perawan saja, itu pun sering ditolaknya bila tidak sesuai kriterianya. Setelah nona cantik itu, pria kaya itu tidak pernah menerima tawaranku lagi. Ya, mungkin tidak sesuai maunya." jelasnya.
Joe terpaku. Mendengar penuturan mami Ratu, jelas sekali bila Virranda bukanlah orang pertama yang menjadi korban Ferdinand. Dirinya benar-benar tidak menyangka, bila pria dingin yang terlihat nyaris sempurna itu memiliki sisi abu-abu yang mengerikan. Memiliki hobby merusak mahkota para gadis.
Ternyaya pria kaya itu tidak jauh berbeda dengan dirinya, batin Joe. Bila dirinya menjual diri dimasa lalu pada para isteri konglomerat yang kesepian, pria kaya itu membeli para gadis perawan sesuai keinginannya, itu saja bedanya, batin Joe mengejek dan menghakimi dirinya sendiri, yang tidak kalah bejatnya dengan perilaku Ferdinand.
"Walau aku tidak suka dengan kebenaran yang telah kau ceritakan ini, tapi aku berterima kasih kau sudah berkata jujur padaku," gumam Joe lirih.
"Untung saja kau tidak berbohong mami Ratu, karena aku sudah tahu sebagian kebenaran dari cerita yang telah kau tuturkan itu. Dan aku tidak bisa menjamin keselamatanmu. Aku hanya bisa mengatakan padamu--, bahwa kau harus bersiap, karena masalah hukum sepertinya sebentar lagi akan menjeratmu," ucap Joe datar.
"Joe, tidak bisakah kau menolongku? Bukankah dia adalah isterimu? Aku siap membayar uang damai. Aku bisa memberikan Villa itu padanya, juga ganti rugi tambahan, sesuai yang isterimu itu minta," ucap mami Ratu memohon. Dalam benaknya ia sudah membayangkan bagaimana dinginnya ubin yang akan dihuninya nanti, dan ia tidak siap menghadapinya, apalagi sampai beberapa tahun lamanya, batinnya.
__ADS_1
"Kau salah besar bila menganggap apa yang kau lakukan itu bisa dibayar dengan uang. Isteriku itu sudah punya segalanya dari orang tuannya mami Ratu." ucap Joe tersenyum sinis.
"Iya aku tahu Joe," ucap mami Ratu dengan raut memelas dan terlihat panik.
"Kalau mami Ratu tahu, kenapa berani melakukan hal itu? Harusnya dengan persetujuannya bukan?" tegas Joe.
"Iya, aku salah Joe. Aku akui itu. Harusnya aku meminta persetujuan isterimu itu dulu, baru melakukan transaksi. Tap sungguh Joe, aku tidak tahu siapa wanita itu sebelumnya, setelah pria kaya itu melakukan pembayaran, barulah aku tahu bila Virranda adalah salah satu anak seorang pengusaha gas bumi dikota ini." ucapnya jujur dengan raut menyesal.
"Yah, mungkin ini jalannya, supaya kau harus menutup praktekmu ini mami Ratu." ucap Joe memandang sang mantan majikan. "Aku pamit dulu," ucap Joe sembari berdiri. Ia meraih ponsel dan dompetnya lalu segera beranjak.
Sebagai seorang laki-laki yang berstatus suami Virranda, tentu saja Joe tidak bisa menerima apa yang telah terjadi pada wanita kesayangannya itu. Tapi dirinya juga tidak ingin memperburuk keadaan dengan cara main hakim sendiri. Sepenuhnya ia akan melakukan upaya hukum, demi keadilan untuk wanita yang ia sangat kasihi itu.
Mami Ratu masih membeku disofanya, memikirkan masalah besar yang sebentar lagi akan menimpanya, karena sudah berurusan dengan seorang putri pengusaha kaya yang mampu menamatkan riwayat sekaligus bisnis gelap terlarangnya.
Bersambung...👉
__ADS_1