Daddy My Son

Daddy My Son
85. Di Rumah Keluarga Toshigawa


__ADS_3

"Joe, apa penglihatanku saja yang merasa kalau putri-putri adopsi tuan Ferdinand mirip dengan wajahnya," bisik Virranda ditelinga suaminya. "Atau karena mereka mengenakan seragam batik dengan corak yang sama," sambung Virranda lagi, memperhatikan Ferdinand dan putri-putrinya yang menuju tempat duduk yang telah disiapkan untuk mereka.


"Aku juga melihatnya seperti itu Sayang, anak-anak perempuan itu mirip dengan ayah adopsi mereka," sahut Joe ikut berbisik.


"Joe, apa kita akan memiliki anak sebanyak tuan Ferdinand?" tanya Virranda sekenanya, merasa gemes dengan putri-putri imut dari Ferdinand, diam-diam ia menghitungnya didalam hati, ternyata lebih dari satu lusin, batinnya.


Joe melirik Virranda, meraih tangan isterinya lalu mengecupnya lembut dengan penuh kasih sayang, "kalau kau menginginkannya kita akan memproduksinya setiap tahun, Sayang. Dan di usia 40 tahun kita akan memiliki anak 13 orang. Hanya saja, apakah pabriknya mampu melahirkan setiap tahun sampai usia 40 tahun," sahut Joe dibarengi kekehannya.


Virranda ikut terkekeh. "Kau benar Misuaku, untuk mendapat 13 anak seperti tuan Ferdinand, aku akan melahirkan terus menerus sampai tua," Virranda tergelak sambil membekap mulutnya sendiri, supaya tawanya tidak terdengar berisik oleh para undangan lainnya.


Seorang pendeta berjas putih segera mengambil alih acara, setelah Ferdinand selesai dengan kata sambutannya, dan memberi selembar kertas, bertuliskan nama putri-putrinya, supaya tidak salah saat penyebutan nama.


Acara berjalan khidmat, satu persatu para putri Ferdinand dipanggil untuk berdiri dan di doakan secara khusus oleh sang pendeta. Dan tentu saja semua pasang mata undangan yang hadir, tidak lepas memandang ke arah Ferdinand dan anak-anaknya yang menjadi pusat perhatian.


Sesuatu yang tidak biasa, seorang Ferdinand Kwang, direktur perusahaan milik keluarganya, yang mereka kenal tidak pernah dekat dengan seorang wanita manapun selain ibunya, kini mengadopsi 13 anak yang usiamya hanya berpaut beda bulan saja satu sama lain, dan semuanya perempuan.


Para undangan yang hadir hanya dari beberapa kerabat dekat, tetangga dekat dan sahabat terdekat keluarga Toshigawa saja.


Setelah acara selesai, disambung acara makan siang juga usai, tuan Alberto dan isterinya datang mendekati tuan rumah yang mengadakan hajatan untuk berpamitan. Mereka adalah tamu terakhir setelah tamu-tamu lainnya pulang.


"Selamat ya tuan dan nyonya Toshigawa, cucu-cucu Anda berdua begitu banyak, kami turut senang dan bahagia bersama keluarga Tuan dan Nyonya," ucap Alberto dengan senyum sumirnya sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan.


"Terima kasih banyak tuan Alberto," sahut tuan Toshigawa turut tersenyum, menunjukan bila ia begitu senang menerima ucapan selamat dari tetangga depan rumahnya itu.


"Bila saya memperhatikan cucu tuan Loenhard yang sedang bergabung dengan tuan Ferdinand dan para putrinya disana itu, sepertinya Verrel juga cocok menjadi anak tuan Ferdinand, wajah mereka mirip satu sama lain," ungkap nyonya Alberto sembari tersenyum, memandang kebersamaan Verrel yang di ajak berkenalan langsung dengan saudari-saudarinya itu.


Keluarga Tosigawa dan keluarga Loenhard saling berpandangan, suasana mendadak canggung, apalagi Virranda, wajahnya seketika merona. Tuan Alberto yang sempat menangkap keganjilan itu segera berinisiatif menyambung ucapan isterinya.


"Sayang, mungkin karena cucu tuan Loenhard itu sangat tampan, jadi wajahnya mirip dengan tuan Ferdinand yang juga tampan," ucap tuan Alberto berusaha mencairkan suasana.


"Mungkin kau benar Sayang." ucap nyonya Alberto terus memperhatikan Verrel dan Ferdinand yang tengah bercengkrama dengan anak-anak perempuan Ferdinand.


"Aku juga masih sangat ingat, ketika Tuan Ferdinand sekecil cucu tuan Loenhard, wajahnya memang sangat serupa dengan wajah bocah itu, ini memang sesuatu yang sangat kebetulan ya nyonya Toshigawa dan nyonya Loenhard," ucapnya masih membahas dan tersenyum lebar, dan tidak terlalu memperhatikan kecanggungan kedua keluarga itu.

__ADS_1


Kedua keluarga itu hanya bisa mengangguk-angguk dan terkekeh dengan terpaksa satu sama lain, dan kecangguan itu semakin nyata terlihat diantara mereka.


"Baiklah, kami mohon ijin pamit dulu, setelah ini mau ke rumah sakit," ucap tuan Alberto mengalihkan topik, sejujurnya ia merasa tidak enak karena isterinya tidak mengerti kalau pertkataannya telah membuat suasana menjadi canggung antara kedua keluarga itu.


"Siapa yang sakit?" tanya nyonya Toshigawa cepat. "Apakah Finania? Sambungnya lagi. Karena ia tidak melihat anak gadis belia manja yang biasanya selalu mengekor kedua orang tuanya kemanapun mereka pergi.


"Bukan nyonya," sahut tuan Alberto. "Isteri Andrey tadi pagi telah melahirkan putra mereka, dan Finania diminta untuk menemani kakak iparnya itu. Tadinya dia mau ikut kemari" jelas tuan Alberto.


"Wah, kalau begitu selamat ya buat Tuan dan nyonya Alberto, sekarang sudah menjadi kakek dan nenek juga seperti kami, ucap nyonya Toshigawa sembari mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan, demikian dengan yang lainnya.


"Terima kasih Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya," ucap tuan dan nyonya Alberto bersamaan.


"Kalau begitu tunggu sebentar, saya akan meminta bibi untuk menyiapkan kotak makanan buat Finania, Andrey, dan isterinya," ucap nyonya Toshigawa sembari melambaikan tangannya pada kepala pelayannya. Sebagau tetangga dekat mereka memang sudah biasa berkirim makanan.


"Jangan Nyonya, terima kasih banyak, jadi merepotkan saja," ucap nyonya Alberto berusaha menolak.


"Tidak merepotkan Nyonya," setelah berkata demikian, ia lalu memerintahkan kepala pelayan untuk menyiapkan apa yang ia minta.


"Mari Tuan dan Nyonya Alberto, sambil menunggu Bibi menyiapkan kotak makanannya, saya antar Tuan dan Nyonya untuk bertemu Ferdinand dan putri-putrinya," ucap nyonya Toshigawa lagi.


Sepeninggal tuan Alberto dan isterinya, tuan Toshigawa kembali membawa tuan Loenhard, Lirasa, Virranda, dan Joe kembali duduk di kursi mereka.


"Sebenarnya, anak-anak perempuan itu, bukan anak adopsi Ferdinand," ungkap tuan Toshigawa jujur, menatap ke arah Ferdinand dan putra putrinya, lalu beralih pada ke empat tamu istimewanya itu.


Walau merasa terkejut didalam hati, tuan Loenhard dan isterinya, begitu pula dengan Joe dan Virranda, mereka tetap bersikap biasa, tidak menyela, dan hanya mendengarkan dengan penuh perhatian.


"Mereka adalah putri kandung Ferdinand," sambung tuan Toshigawa lagi.


Ke empat anggota keluarga Loenhard terhenyak, mereka sama sekali tidak menduga bila kemiripan anak-anak perempuan itu menandakan bahwa mereka adalah memang putri kandung dari Ferdinand, seperti halnya Verrel.


"Setelah mendengar apa yang disampaikan nyonya Loenhard, saat kita dirumah sakit waktu itu, saya dan isteri saya menegaskan pengakuan putra saya Ferdinand," tuan Toshigawa nampak menarik nafas dalam.


"Setelah adanya pengakuan dari mulutnya, kami memintanya untuk mencari tahu tentang keberadaan wanita-wanita itu. Saya khawatir mereka juga mengandung anak-anak Ferdinand, seperti yang di alami nona Virranda," ucap tuan Toshigawa menatap sekilas kearah Virranda yang terpaku disebelah Joe.

__ADS_1


"Ternyata kekhawatiran kami benar, wanita-wanita itu memiliki anak dari kebejatan Ferdinand," ucapnya datar, menahan rasa malu atas kelakuan tidak senonoh putranya.


"Sebagai orang tua Ferdinand, saya merasa malu, karena telah gagal mendidiknya. Tapi saya tidak mau larut dalam emosi, karena anak-anak itu butuh tanggung jawab ayahnya. Itu sebabnya mereka ada disini sekarang."


"Bila kami mengatakan mereka anak kandung Ferdinand, tentu itu tidak mudah diterima, itu sebabnya kami hanya meminjam kata anak adopsi, untuk menghindari anak-anak Ferdinand dan Ferdinand sendiri dari celaan."


"Bila masyarakat luas tahu apa yang sebenarnya terjadi, saya tidak yakin bila Ferdinand masih mampu menegakkan kepalanya didepan senua orang,"


Keluarga tuan Loenhard hanya bisa terdiam, dan menganggukan kepala mereka, berusaha menerima penjelasan sang tuan rumah. Mereka pun memahami bahwa hal itu tidaklah mudah bagi Ferdinand maupun anak-anaknya.


"Dan untuk Verrel," tuan Toshigawa melanjutkan ucapannya lagi, menatap pada Joe dan Virranda.


"Kami tidak meminta Verrel masuk dalam kartu keluarga milik Ferdinand, seperti ke 13 putri Ferdinand itu. Tapi ijinkanlah Ferdinand membiayai hidup Verrel mulai sekarang sampai anak itu menikah. Sebab Verrel adalah darah daging putra kami Ferdinand," ungkapnya.


"Dan untuk masalah ini, Ferdinand mengatakan bila dia sudah berbicara langsung pada tuan Joe dan nona Virranda. Dan saat ini, sebagai kakek Verrel, dan ayah dari Ferdinand, memohon supaya permintaan kami ini tidak ditolak," ucapnya lagi.


Joe menggengam tangan Virranda yang menatap ke arahnya, seakan menyalurkan energi pada sang isteri untuk bisa memberi jawaban yang bijak atas permohonan tuan Toshigawa.


Tuan Loenhard dan ibunya hanya memberi anggukan, saat Virranda menatap kearah mereka.


"Baiklah Tuan, saya sanggat menghargai niat baik tuan Toshigawa, begitu pula dengan tuan Ferdinand, saya tidak keberatan," ucap Virranda menyetujui.


"Terima kasih nona Virranda, saya sangat bahagia mendengarnya," ucap tuan Toshigawa tersenyum senang.


Bersambung...πŸ‘‰


Catatan Author :


Daddy My Soon akan segera tamat beberapa episode lagi.


Rencananya, akan ditulis Novel yang baru tentang kelanjutan kisah Ferdinand Kwang dan anak-anaknya. Mungkin disana, Ferdinand akan menemukan tulang rusuknya.


Mungkin para Readers memiliki saran judul buat author, silahkan muat dikolom komentar.

__ADS_1


Author sangat berterima kasih atas partisipasi para Readers.


Salam sehat, selalu bahagia, dan jangan lupa makanπŸ˜πŸ™


__ADS_2