
Suara Nafas halus Verrel kini terdengar teratur dan berirama, menandakan bocah itu sudah terlelap dalam minpinya. Joe mengangkat tangan kecil Verrel dengan hati-hati dari atas perutnya, lalu membenarkan posisi tidur bocah itu supaya lebih nyamam.
Joe duduk, memandang kearah Virranda yang sudah memejamkan matanya disebelah Verrel yang berada diantara mereka berdua. Ia bingung saja, bagaimana wanita itu bisa ada dikamarnya. Bukankah sebelumnya, Δirinya sudah mengantar Virranda ke kamarnya dan menyuruhnya tidur.
"Mommy Verrel, putramu sudah tidur. Kau boleh kembali kekamarmu sekarang," ucap Joe pelan. Ia tahu, wanita itu pasti belum tertidur.
"Izin kan aku tidur disini bersama dirimu dan Verrel ya Joe," pinta Virranda pelan, takut membangunkan anaknya itu lagi.
"Apa kau benar-benar takut?" tanya Joe basa-basi. Dia tahu benar, Virranda bukanlah wanita manja dan juga penakut. Isterinya itu bahkan sering tidur sendiri di apartemen tanpa dirinya sedari awal mereka menikah karena dirinya harus berkerja.
"Iya, aku benar-benar takut," sahut Virranda setengah berbisik.
Joe tersenyum, ia tidak bertanya lagi. Bahkan ia mengartikan sendiri definisi rasa takut yang dimaksud isterinya dengan sesuka hatinya. Pasti karena dirinya akan pergi besok, jadi isterinya itu berinisiatif tidur bersama, hal yang sangat langka, bahkan ini kali pertama mereka tidur bersama, lebih tepatnya tidur bertiga, setelah enam tahun menikah dan Vereel sudah berusia lima tahun.
Joe mengatur suhu ruangan supaya tidak terlalu dingin. Merapikan selimut yang menyelimuti tubuh Virranda dan Verrel supaya kedua orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu tidak kedinginan. Setelahnya, ia ikut masuk kedalam selimut dan membaringkan tubuh, lalu memejamkan matanya sambil terus tersenyum.
"Joe..." lirih Virranda yang berbaring disebelah Verrel.
"Heum? Apakah kau membutuhkan sesuatu?" Joe segera membuka matanya dan menoleh pada Virranda yang tengah mengulurkan satu tangannya kearahnya.
"Bisakah kau menggenggam tanganku saat kita tidur?" pinta Virrnada dengan suara pelan setengah berbisik.
Joe membeku seketika, sedetik kemudian nuraninya menggerakan tangannya menyentuh tangan Virranda yang menyebrang diatas pucuk rambut Verrel.
Desiran darahnya terasa menghangat, merambat menelusuri setiap aliran darahnya dengan cepat hingga ke ujung-ujung sarafnya, merasakan tangan halus nan lembut milik Virranda.
Joe merapatkan kelopak matanya, menikmati rasa bahagia yang membuncah didadanya saat ini. Permintaan Virranda sudah cukup memberinya sinyal bila wanita beranak satu itu mulai membuka hati untuknya, ditambah lagi ucapan-ucapan wanita itu saat obrolan minum teh mereka tadi kembali terngiang-ngiang ditelinganya.
__ADS_1
"Ratuku, aku akan memperjuangkanmu walau ayahmu seperti beruang madu galaknya." batin Joe tersenyum didalam hati.
"Maafkan menantumu ini, ayah mertuaku, sudah berani mengata-ngatai dirimu. Sebenarnya aku mau bilang, kalau kau seperti singa betina yang menyeramkan dan ganas, untuk menjaga anakmu. Tapi sayangnya kau seorang pria," Joe kembali tertawa didalam hati, membayangkan ayah Virranda berubah wujud menjadi beruang madu dan singa betina dalam bayangannya.
Genggaman erat tangan Joe, membuat Virranda juga merasakan hal yang sama. Debaran jantungnya mulai marathon didalam sana tanpa beristirahat.
"Oh My God! Bisa-bisa aku tak bisa tidur semalaman kalau begini caranya," batin Virranda.
...πππ...
"Mommy, bangun! Ada telepon dari Papi Loenhard!" teriak Verrel mengeja nama seseorang dilayar ponsel ibunya, ia belum tahu bila itu adalah nama kakeknya.
Virranda menerima ponselnya, dengan kepala yang terasa pusing karena kurang tidur semalam.
π"Hallo Pi, selamat pagi," sapa Virranda sambil memejamkan matanya.
π"Bagaimana? Apa hari ini kau sudah bisa berkerja. Atau suami penyanyimu itu tidak mengijinkanmu berkerja pada Papi," gelegar suara diseberang sana.
"Papi tidak berubah, kalau bicara selalu saja ngegas," batin Virranda sambil menjauhkan ponsel dari daun telinganya.
π"Joe mengijinkan ku berkerja di perusahaan Papi. Tapi Aku akan mulai berkerja besok saja Pi. Joe hari ini akan terbang ke London," jelas Virranda.
π"Ngapain ke London? Apa suamimu itu mau konser disana, ngalahin Justin Bieber, huh!" ucap tuan Loenhard ketus.
π"Atau suamimu itu mau duet sama Justin Biber!" sambung tuan Loenhard tak kalah ketus dari sebelumnya dengan nada mencibir.
Tanpa sadar, Virranda tergelak mendengar ucapan ayahnya yang melaju tanpa hambatan bagai gerebong kereta api ingin secepatnya sampai tujuan.
__ADS_1
π"Ternyata Papi tahu juga sama si Justin Bieber," ucap Virranda masih tertawa lepas.
π"Kau jangan remehkan Papi Virranda. Biar sudah ubanan begini Papi masih mengikuti perkembangan jaman. Black Pink saja Papi tahu, Exo, Winner, BTS, JKT 45. Kau tidak lupakan kalau Papi pernah mengundang mereka jadi bintang tamu di ulang tahun perusahaan kita?" sahut tuan Loenhard sombong.
Virranda masih tertawa, ayahnya yang hobby menyanyi itu memang tidak dia ragukan, bahkan generasi-generasi diatas para penyanyi yang ia sebutkan tadi, masih bisa ayahnya sebutkan nama mereka satu persatu dengan jelas dan lengkap.
π"Jadi untuk apa suamimu ke London? Kalau mau jadi penyanyi hebat belajar saja sama bang Haji Rhoma Irama yang legendaris itu, Muchin Alatas misalnya," lanjut tuan Loenhard lagi, kini dirinya sudah menurunkan nada suaranya.
π"Nggak Pi, kalau mau ketemu Justin Bieber mending langsung ke Canada sana, bisa ketemu sama orangnya. Joe ke London untuk berkerja sebagai seorang pilot," jelas Virranda sambil menghentikan sisa-sisa tawanya.
"Pilot? Suamimu seorang pilot?" ulang tuan Loenhard, ia tidak percaya menantu tidak diharapkannya itu mempunyai pekerjaan bergengsi seperti itu.
π"Iya Pi. Nanti Virranda cerita banyak. Kemarin Papi ngomel-ngomel terus, jadi Virranda tidak sempat cerita soal Joe sama Papi. Sudah dulu ya Pi, Virranda mau buat sarapan," ucap Virranda bersiap memutuskan sambungan telepon.
π"Tunggu! Sejak kapan kau bisa memasak?
Pasti laki-laki itu menjadikanmu pelayannya ya?" tuduh Loenhard. Walau dirinya tahu putrinya bukanlah anak yang manja, tapi ia tahu Virranda memang tidak suka memasak sebelumnya.
π"Haduh Papi, perempuan itu setidaknya memang harus bisa memasak untuk suami dan anaknya supaya tidak kelaparan. Sudah ya Pi, nanti lagi nanyanya, Virranda sudah kesiangan ini," ucapnya sambil melihat jam dinding dikamar Joe.
π"Baiklah, masak saja sana," titah tuan Loenhard setuju, lalu memutuskan sambungan telepon.
Rasa lelah karena kurang tidur masih terasa, namun Virranda memaksakan dirinya harus beranjak dari tempat tidurnya saat melihat jam dinding menunjukan pukul sembilan pagi.
Sebelum beranjak, Virranda mengambil selembar tissue diatas nakas. Lalu tangannya mulai mengusap ileran diujung bibir Joe yang sempat dilihatnya saat sedang bertelponan dengan ayahnya.
Kali ini, dirinya tidak mual-mual apalagi sampai muntah-muntah seperti dulu, ketika pertama kali melihat ileran pria itu. Bahkan, dengan kesadaran penuh, Virranda mendekatkan tissue kotor itu kehidungnya lalu menghirup aromanya dengan indera penciumannya, sambil senyum-senyum sendiri.
__ADS_1
Keajaiban cinta yang mulai tumbuh dan menjalar dihatinya, membuat Virranda mulai kehilangan kewarasannya, ileran Joe saja sudah membuatnya begitu bahagia.
Bersambung....π