Daddy My Son

Daddy My Son
73. Nyonya Arauna


__ADS_3

"Tuan, saya mohon, maafkanlah putri saya Wina," ibu kandung dari Wina itu terus terisak memohon dan bersujud dikaki tuan Loenhard yang baru saja tiba dirumahnya, setelah perawatan rumah sakit selama tiga hari yang dijalaninya.


Wanita paruh baya itu sengaja menunggu dipagar depan rumah milik keluarga Loenhard, dan bersembunyi dibalik rimbunnya tanaman hias yang ada didepan pagar, karena security tidak mengijinkannya masuk.


Begitu dilihatnya mobil tuan Loenhard yang sangat dikenalnya, ia langsung menyusup masuk, membuat para security itu berang padanya.


"Nyonya! Pergi dari sini sekarang juga!" Bentak dua security itu sambil menarik paksa tangan wanita yang kini terlihat lebih tua dari usianya karena tekanan hidup yang mendera.


"Saya mohon Tuan Loenhard, maafkan putri saya, dia adalah tulang punggung keluarga kami, adik-adiknya masih sekolah," pintanya sambil terus menangis, tidak perduli pada dua security yang hendak menyeretnya pergi.


"Lepaskan dia. Kalian, pergilah dulu, aku ingin bicara dengan wanita ini," ucap tuan Loenhard datar.


"Baik Tuan," sahut kedua security itu patuh, sembari melepaskan cekalan tangan mereka pada pergelangan tangan wanita paruh baya itu.


"Nyonya Arauna, kita bicara didalam," ucap tuan Loenhard datar, ia lalu melangkah masuk diikuti isterinya, Virranda dan juga Joe.


Wanita yang dipanggil nyonya Arauna itu bangkit dari lantai tempatnya bersimpuh dikaki tuan Loenhard, ketika pria ubanan itu baru turun dari mobilnya. Ia membawa langkahnya mengikuti keluarga Loenhard dari belakang.


Ia menatap berkeliling, menyapu seluruh isi ruangan tamu yang megah itu, ingatanya kembali ke masa lalu, dimana kehidupannya pernah memiliki rumah yang sebesar dan semewah dimana dirinya sedang berpijak sekarang.


Namun semuanya lenyap seketika, saat suaminya dinyatakan bangkrut dan jatuh sakit. Harta mereka terjual habis demi melunasi hutang-hutang bank yang menumpuk, dan mereka terpaksa harus tinggal dirumah kontrakan yang hanya memiliki 2 kamar tidur, 1 kamar tamu dan dapur yang berdampingan dengan toilet. Belum lagi biaya hiduo sehari-hari yang harus ia cukupi dengan mencuci pakaian dari rumah tetangga satu kerumah tetangga lainnya.


Wina yang ketika itu bersekolah disekolah international, satu sekolah dengan Virranda terancam putus sekolah terkendala biaya, begitu juga dengan adik-adiknya yang masih di sekolah dasar.

__ADS_1


Berkat kebaikan hati Virranda yang membujuk sang ayah, akhirnya Wina masih bisa bersekolah hingga lulus di perguruan tinggi, begitu pula dengan adik-adiknya.


Begitu Wina berkerja di perusahaan milik ayah Virranda, pria tua itu sudah tidak membiayai pendidikan adik-adik Virranda yang maaih bersekolah di SMP maupun biaya hidup keluarga Wina.


"Mau kemana kalian?" tuan Loenhard menatap Virranda dan Joe yang pergi menyingkir ke ruang keluarga.


"Aku mau membawa Joe ke ruang keluarga, bukankah Papi ada tamu?" ucap Virranda, setelah menghentikan langkahnya dan berbalik kearah ayahnya yang sudah membulatkan mata keriputnya menatap kearahnya dan juga Joe.


"Sungguh tidak sopan! Kalau ada tamu, ditemani, bukannya ditinggalkan! Ayo duduk disini!" titah tuan Loenhard ketus sembari menujuk sofa yang berada disisi kanannya.


Virranda dan Joe hanya bisa saling pandang, dan tanpa bicara mereka lalu menuju sofa dan duduk disana, bergabung dengan tuan Loenhard dan Lirasa.


"Duduklah disana," ucap tuan Loenhard pada nyonya Arauna yang masih berjalan pelan dan tanpa sadar, apa yang dilakukannya memperhatikan seisi ruang tamu megah itu mengundang perhatian keluarga tuan Loenhard yang sudah duduk disofanya masing-masing.


"Hati-hati nyonya," Joe dengan sigap beranjak dari duduknya untuk membantu. Ia lalu menuntun ibu dari Wina itu duduk di sofa, tepat berhadapan dengan tuan Loenhard dan isterinya.


"Apa seberat itu hidupmu nyonya Arauna, hingga membuatmu seperti orang yang tidak pernah memiliki rumah seperti apa yang kami miliki," guman Lirasa didalam hati.


"Apa nyonya Arauna tahu kesalahan yang telah dilakukan oleh Wina, putri nyonya?" tanya tuan Loenhard, menatap datar wanita paruh baya yang berpenampilan menyedihkan itu.


"Tahu Tuan," angguk nyonya Arauna lemah. "Tapi Wina melakukannya karena sangat membutuhkan uang, karena pada saat itu saya juga sedang sakit dan dirawat dirumah sakit." jelasnya pelan.


"Sakit?" tanya Virranda ikut berbicara.

__ADS_1


"Iya nona Virranda, bahkan Nona saat itu ikut menjenguk saya dirunah sakit saat Wina baru saja diterima berkerja di perusahaan milik Tuan," sahut nyonya Arauna mengingatkan.


"Iya aku ingat Bibi," ucap Virranda menatap lekat wanita yang ia anggap keluarga itu. "Bahkan ketika itu--, mohon maaf sebelumnya ya Bibi, aku sudah memberikan sejumlah uang sesuai kwitansi yang Wina perlihatkan padaku lewat pesan WhatsApp, itu diluar dana yang aku transfer untuk dirinya yang akan menemani Bibi dirumah sakit, karena aku sadar Wina baru saja berkerja," jelas Virranda membuat bibir wanita paruh baya itu bergetar menahan rasa malunya atas kebohongan yang ia karang demi membela putrinya.


"Maafkan saya nona Virranda, saya benar-benar tidak tahu. Setahu saya biaya rumah sakit saya itu hasil dari pinjaman Wina di kantor, dan setiap gajihan, pinjaman itu akan dipotong. Itu yang saya tahu Nona," ungkap ibu Wina dengan wajahnya yang memerah, masih berusaha berdalih.


"Putrimu memang ada mengajukan pinjaman ke kantor nyonya Arauna." ucap tuan Loenhard ikut menyela pembicaraan. "Pinjamannya ditolak, karena putrimu itu belum genap satu bulan berkerja di perusahaanku. Sesuai aturan yang berlaku, pinjaman boleh diberikan pada pegawai yang sudah berkerja selama satu tahun atau lebih."


"Jadi saat itu aku berinisiatif memberi bantuan secara pribadi padanya dan meminta isteriku untuk mentransfer uang sejumlah kwitansi pengajuan pinjaman Wina pada rekeningnya." ungkap Tuan Loenhard.


"Bila nyonya Arauna beralasan Wina melakukan itu karena butuh uang, saya rasa dana hasil transfer saya dan Virranda lebih dari cukup untuk biaya rumah sakit nyonya waktu itu," tambah tuan Loenhard lagi. Wajah nyonya Arauna semakin memerah menahan rasa malunya yang tiada tara.


"Dan bila Wina benar-benar butuh uang? Kenapa dia hanya menjual Virranda pada mucikari itu hanya seharga tiga juta rupiah saja? Kenapa?!" pekik tuan Loenhard yang sedari tadi menahan emosinya.


Pekikan pria ubanan itu membuat nyonya Arauna terkaget ditempat duduknya, mulutnya terkunci rapat, tidak berani mengeluarkan sanggahan satu patah katapun.


"Putrimu itu, dia hanya ingin merusak putriku saja! Asal kau tahu saja nyonya Arauna! Aku tidak akan menarik laporanku ini, biarkan saja putrimu itu mendekam dipenjara bersama mucikari bre**sek itu! Untuk membayar semua perbuatan jahat mereka pada putriku!" geramnya marah.


"I-iya, saya mengerti Tuan. T-tapi saya tidak tega melihat Wina memohon untuk minta dilepaskan dari sana Tuan. Saya mohon Tuan, maafkanlah putri saya itu," ucap nyonya Arauna memohon, berharap tuan Loenhard luluh pada permintaannya yang sudah tua renta itu.


"Mungkin nyonya tidak tahu, kalau dikantor, Wina sudah berani bermain-main dengan bahaya. Sebagai sekretaris manager keuangan, dia berani mengubah angka-angka yang tidak sepatutnya, dan itu tentu saja sangat merugikan perusahaan." ucap tuan Loenhard lagi membuat wanita tua renta itu bungkam seribu bahasa.


"Jadi, biarkan Wina membayar kejahatannya, semoga dia bisa berubah.selama berada didalam penjara. Sekarang pulanglah, saya lelah, ingin beristirahat." ucap tuan Loenhard lagi menyudahi pembicaraan mereka.

__ADS_1


Bersambung...👉


__ADS_2