
"Tunggu!" Elena menahan pergelangan tangan Gino, namun dengan cepat pria itu menepisnya.
"Gino kau tidak bisa melakukan hal ini terhadapku" Elena menangis, sungguh ia merasa sakit hati atas perlakuan Gino terhadapnya.
"Kenapa tidak bisa?" Seperti biasa pria itu hanya menatap tak suka pada wanita dihadapannya.
"Karna aku mencintaimu, bahkan kau sudah tau itu sejak dulu"
"Tapi dari dulu samapi sekarang aku tidak pernah mencintaimu, dan kau sudah tau hal itu" Tanpa rasa bersalah sedikitpun Gino pergi meninggalkan Elena tanpa melepaskan tangan Delia dari genggamannya, Elena yang tidak terima terus berteriak memanggil namanya namun pria itu sama sekali tidak menghiraukannya ia malas jika harus berurusan dengan wanita tidak tau malu itu.
"Gino kau tidak bisa melakukan ini padaku" Elena terus berteriak walaupun kini mobil milik Gino sudah melaju meninggalkan restoran, dengan perasaan sesak didadanya Elena menyeka air matanya sungguh ia tidak terima diperlakukan seperti ini " Awas saja kau gadis j*l*a*g tidak akan ku biarkan kau memiliki Gino karna dia adalah milikku, hanya milikku" Dengan perasaan amarah yang membuncah ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
*
*
*
*
"Kenapa kau mencubitku?" Tanya Gino setelah mereka berada dalam mobil.
Delia melirik kearah pria disampingnya tatapan tajam ia layangkan pada pria itu "Dan kau, kenapa kau mengatakan pada wanita itu jika kita saling mencintai?" Gadis itu malah menjawab dengan sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Karna kita memang saling mencintai"
"Itu tidak benar, sejak kapan kita saling mencintai?"
"Sejak hari ini" Gino menjawab dengan seringai tipis dibibirnya. dengan sengaja ia menggoda Delia dengan mendekatkan wajahnya namun dengan sigap gadis itu mendorong dada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu, ia tidak ingin kejadian beberapa jam yang lalu terulang kembali.
"Menjauhlah!" Delia berusaha menahan perasaan gugupnya.
"Kenapa?"
"Karna aku tidak suka"
"Benarkah? bukankah kau menikmatinya?" Ingin rasanya Gino tertawa ketika melihat wajah Delia yang berubah bersemu merah, ia benar-benar merasa gemas dengan istri kecilnya itu.
"Baik nona"
*
*
*
Tidak butuh lama mobil sudah sampai diempat tujuan, Delia lansung turun dari mobil begitu mobil sampai diparkiran sebuah rumah sakit. Ia berjalan dengan sedikit belari, sudah tidak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan sang papa yang sangat ia rindukan. Sedangkan Gino, tentu saja pria itu mengikuti kemana langkah kaki istrinya berjalan.
__ADS_1
"Papa" Begitu masuk Delia langsung menghambur kedalam pelukan papanya "Delia rindu papa" ia menyandarkan kepalanya didada sang ayah dengan manja.
Diciumnya pucuk kepala sang putri tercinta, mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang "Papa juga merindukanmu sayang. bagaimana kabarmu nak, apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?" Ada rasa khawatir dihati papa Joy ia takut putri kesayangannya mendapatkan perlakuan buruk karna mengingat mereka yang berlum lama mengenal Gino bahkan ia sendiri belum tahu sifat dan karakter pria itu.
"Tentu saja. papa tidak usah khawatir, dia tidak akan berani menyakitiku" Delia melirik kearah Gino sementara yang dilirik tidak menjawab memberikan jawaban apapun.
Papa Joy mengikuti kemana arah mata putrinya dan seulas senyuman terlukis diwajah lesunya "Terima kasih tuan" setidaknya ia merasa tenang melihat Delia dalam keadaan baik-baik saja.
"Untuk apa?" Jawab Gino dengan wajah datarnya.
"Karna anda tidak menyakiti putriku"
"Hhmm" Gino hanya menjawab dengan sebuah deheman ia merasa canggung dengan pria yang sudah berstatus sebagai mertuanya itu saat mengingat caranya menjadikan Delia sebagi istrinya.
"Kapan papa bisa pulang?" Tanya Delia tanpa melepaskan diri dari pelukan papanya.
"Dokter bilang lusa papa sudah boleh pulang"
"Benarkah?" Seketika senyum kebahagiaan terlihat jelas diwajah cantiknya, Gino yang melihat itu ikut menyunggingkan kedua sudut bibirnya. Ada rasa bahagia dihatinya ketika melihat kebahagiaan diwajah istrinya.
*
*
__ADS_1
Sementara itu di kediaman keluarga Abraham, seorang wanita tengah menangis dipelukan Mom Hera "Sudahlah sayang, sampai kapan kau akan menangis seperti ini? Tenangkan dirimu, nanti aunty akan bicara pada putra aunty yang menyebalkan itu" Mom Hera terus berusaha menghentikam tangis wanita yang berada dalam pelukannya, karna sejak tiba dikediamannya sampai saat ini wanita itu terus mengeluarkan air matanya.