
Gino dan Delia sedang asik menikmati sarapan mereka, tidak ada pembicaraan antara mereka berdua hingga sarapan selesai. Seperti biasa Gino akan mengantar sang istri kekampus, dan untuk saat ini sepertinya ia tak membutuhkan asisten pribadinya. Pria tampan itu lebih memilih mengendarai mobilnya sendiri.
*
*
*
Delia hendak turun dari mobil begitu mereka samapi dikampus, namun dengan sigap Gino menahan pergelangan tangannya "Tunggu dulu"
"Ada apa?" Sahut Delia dengan tatapan malasnya.
"Untukmu" Gino memberikan sebuah kartu warna hitamnya pada sang istri "Kau bisa menggunakannya jika kau membutuhkan sesuatu"
"Tapi...." Delia akan melanyakan protesnya namun tiba tiba saja Gino menyelanya dengan sebuah kecupan singkat dibibirnya, alhasil Gadis itu tidak mampu lagi melanjutkan ucapannya.
"Aku tidak ingin mendengar alasan apapun darimu, cukup terima saja!"
Delia termenung memegangi dadanya entah kenapa akhir-akhir ini ia merasakan sesuatu perasaan yang aneh jika berada didekat suami terpaksanya, apa lagi saat ia menatap mata pria itu "Baiklah" Dengan perasaan yang sulit diartikan Gadis itu menerimanya, kemudian segera turun dari mobil.
__ADS_1
Senyum terukir dari wajah tampan seorang Gino Abraham saat ia menatap pungung istrinya yang semakin menjauh "Meskipun kau terpaksa menikah denganku, namun aku pastikan kau akan mencintaiku Delia" Gumamya kemudian melajukan kendaraanya berlalau pergi meninggalkan area kampus.
*
*
*
"Kebetulan apa lagi hingga kau bisa diantar kekampus olehnya?"
Deg
Gugup, itulah yang dirasakan Delia saat ini. Ia tidak tau harus menjawab dengan alasan apa, karna tidak mungkin ia menjawab dengan alasan yang sama "Tadi...." Belum sempat Delia menyelesaikan kalimatnya namun sudah lebih dulu Daniel menyelanya.
"Tidak sengaja bertemu dijalan lau dia mengantarmu begitu?" Selanya dengan menynggingkan senyum sinisnya.
"Tidak, bukan seperti itu"
"Lalu apa?"
__ADS_1
Delia termenung sejenak mencoba berpikir untuk mencari jawaban yang tepat dan masuk akal agar Daniel tidak curiga padanya "Dia sengaja mengantarku kemari bahkan dia menjemputku dari rumah"
Daniel mengerutkan keningnya bingung, untuk apa pria yang ia tau sebagai rekan bisnis papan kekasihnya sampai melakukan hal tersebut "Dengan alasan apa pria itu sengaja melakukannya, katakan apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku? Tidak mungkinkan dia mau melakukannya tanpa sebuah alasan"
"Itu... Itu karna papa yang memintanya" Dengan perasaan bersalah Delia menundukan kepalanhya ia tak berani lagi menatap wajah sang kekasih dan tanpa terasa airmata mulai menetes dari kedua sudut matanya, sungguh melihat Daniel seperti ini membuat hatinya sakit bagai ditusuk ribuan duri tajam. Entah sampai kapan ia harus membohongi kekasihnya, ia sadar tidak mungkin selamanya bisa menyembunyikan status pernikahnnya karna cepat atau lambat Daniel pasti akan mengetahuinya juga.
"Heii kenapa kau menangis?" Daniel menangkup kedua pipi gadis pujaannya, dengan lembut ia menghapus lelehan airmata yang membasahai wajah cantiknya.
"Aku takut kau marah padaku?"
Daniel terkekeh dengan jawaban yang dilontarkan kekasihnya, diraihnya tubuh mungil sang kekasih kedalam pelukannya "Aku tidak marah padamu hanya saja aku merasa cemburu setiap kali melihatmu dengannya, maaf jika aku terlalu menekanmu dengan pertanyaanku. Aku hanya tidak ingin kau dekat dengan pria lain"
...****************...
"Lelucon macam apa ini?" Dad Tonny yang merasa kesal melempar berkas yang ia baca keatas meja secara kasar "Apa kau yakin informasi ini tidak salah?"
"Yakin tuan, informasi tersebut 100% akurat, bahkan pernikahan tuan muda sudah resmi terdaftar secara negara" Sahut Martin yang tak lain adalah orang kepercayaan Dad Tonny untuk menyelelidiki putranya.
"Bagaimana putraku bisa melakukan hal ini, menikah tanpa meminta izin keluarga bukankah itu keterlaluan?" Pria paruh baya itu memijat pelilpisnya yang terasa berdenyut akibat memikirkan tingakah putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Whatt?" Teriak Mom Hera yang merasa terkejut dengan sesuatu yang baru saja tertangkap oleh indra pendengarannya, ia baru masuk keruang kerja suaminya namun langsung disuguhi sesuatu yang hampir membuat jantungnya loncat "Kau tidak sedang bercanda kan?"