DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 26


__ADS_3

"Siapa nama mu?" Mom Hera bertanya tanpa melepaskan tatapannya.


"De- Delia tante" Jawab Delia dengan gugup.


"Jangan gugup seperti itu. Panggil mommy jangan tante, dan Mom bukan mertua jahat seperti yang ada disinetron itu loh"


"Ya Mom"


Senyum tipis terukir diwajah cantik Delia untuk mengurai perasaan gugupnya, ini kali pertama ia bertemu dengan ibu mertuanya dan tentu saja rasa canggung masih mendominasi perasaannya.


Sedangkan Gino ia lebih memilih menikmati sarapan paginya tanpa menyahut obrolan antara istri dan mommynya, sesekali ia hanya melirik kearah Delia yang sedang bercengkrama dengan mommynya.


.


.


.


Saat ini mereka sedang duduk diruang tengah setelah menyelesaikan sarapan paginya.


"Mommy mau kekamar dulu, mommy lelah ingin istirahat" Mom Hera bangkit dari duduknya hendak berjalan menuju kamar.


Gino dan Delia dibuat gelagapan, disana hanya ada dua kamar dan saat ini mom Hera Sedang melangkahkan kakinya menuju kamar yang saat ini ditempati oleh Delia. Jangan sampai mommynya tau bahwa dirinya dan Delia tidur dikamar terpisah.


"Tunggu mom!"


Mom Hera menghentikan langkahnya dan menoleh kearah anak dan menantunya "Ada apa?"


"Kamarnya belum dibersihkan, biar kami membersihkannya dulu. Untuk sementara mom bisa istirahat disini saja dulu, ya kan?" Gino memberikan kode dengan lirikan pada Delia.

__ADS_1


"Ya mom, mom tidak apa-apa kan kalau istirahatnya disini dulu?"


"Tidak masalah, kenapa kalian jadi setegang itu?" Mom hera kembali menjatuhkan tubuhnya disofa.


Tidak ada sahutan dari keduanya baik Gino maupun Delia sama-sama terdiam.


.


.


.


Saat ini didalam sebuah kamar Gino dan Delia sedang mengemasi barang-barang milik Delia untuk kembali dipindahkan ke kamar atas.


"Maaf, untuk sementara selama mommy tinggal disini kau harus tidur satu mamar lagi denganku" Gino tau jika Delia merasa tertekan dilihat dari raut wajahnya seolah menyimpan ketakutan.


"Apa kau baik-baik saja?" Tannya kemudian setelah melihat wajah Delia mulai terlihat pucat.


Tanpa menunggu jawaban, Delia berlalu meninggalkan kamar terebut.


Setakut itukah kau padaku, maaf jika caraku salah. Aku hanya tidak sanggup jika harus kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ucap Gino membatin.


Sementara itu ditaman, Delia sedang menangis tersendu-sendu. Bayang-bayang saat Gino merenggut mahkotanya secara paksa masih menyisakan trauma dalam dirinya.


Tring.......


Sebuah pesan masuk tertera nama Daniel sebagai pengirim, sudah beberapa hari ini Delia menonaktifkan ponselnya hingga begitu banyak pesan masuk dari keksaihnya. Delia mulai membanya satu persatu hingga ia menghela nafas saat membaca pesan terakhir.


*Sudah satu minggu ini kau tidak bisa dihubungi, aku sangat khawatir padamu bahkan aku sampai nekat datang kerumahmu dan menemui papamu. Aku mohon setelah membaca pesan ini bisakah kita bertemu ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu, aku akan menunggumu ditempat* biasa kita bertemu.

__ADS_1


"Haruskah aku menemuinya?" Gumam Delia Kemudian menyeka air matanya.


.


.


.


"Ternyata kau disini" Tepukan lembut dibahu


menyadarkan Delia dari lamunannya.


Delia mendongakkan kepala, dilihatnya wanita yang masih cantik meski diusianya yang sudah tak lagi muda sedang berdiri disamping tempatnya duduk.


"Maom" Lirihnya dengan suara tertahan.


"Mommy mencarimu dari tadi, ternyata kau disini" Mom Hera menjatuhkan tubuhnya disamping sang menantu, ia meneliti wajah Delia yang terlihat sembab.


"Apa kau habis menangis, katakan apa yang sudah dilakukan suamimu itu sampai kau menangis. Ya ampun anak itu benar-benar keterlaluan" Kesal mom Hera dengan bersungut-sungut.


"Tidak mom, aku tidak menangis dan Gino tidak melakukan apapun padaku"


"Lalu kenapa matamu sampai sembab begitu?"


"I-ini tadi kelilipan mom" Delia tersenyum walau terlihat seperti dipaksakan.


"Benarkah?" Sekali lagi mom Hera mencoba untuk memastikan.


"Benar mom"

__ADS_1


Sayangnya mommy tidak yakin, sepertinya benar apa yang dikatakan nilam jika ada yang tidak beres dengan pernikahan anak dan menantuku. Jika tidak mana mungikin mereka tidur dikamar yang berbeda, sepertinya keputusanku memaksa Tonny ke Jerman adalah tepat.


__ADS_2