
"Aarrrggghhhhh" Teriakan seorang wanita menggema disebuah ruangan.
"Hampir saja aku berhasil menlenyapkan j*l*ng itu jika saja Gino tidak menghalanginya" Dan detik berikutnya Elena tersadar dengan keadaan Gino.
Ya Elena adalah pelaku tabrak lari yang dialami oleh Gino, niat hati ingin menyingkirkan Delia namun siapa sangka jika Gino datang sebagai perisainya hingga ialah yang menjadi korban atas kejahatan Elena.
Elena terus menggigiti kuku jarinya yang lentik sambil terus mondar mandir layaknya setrikaan, rasa cemas mulai menghantui perasaannya saat mengingat kembali bagaimana tubuh Gino terpental jauh saat itu dan bukan tidak mungkin jika Gino tidak bisa selamat.
"Apa yang harus ku lakukan, bagaimana keadaannya sekarang? Ini semua gara-gara j*l*ng s*alan itu, Gino jadi seperti ini karana berusaha menyelamatkannya" Elena terus bergumam pada dirinya sendiri, melimpahkan segala kesalahannya terhadap Delia.
.
.
.
Hampir dua jam Gino berada diruag IGD dan selama itu pula Delia tak berhenti menitikan airmatanya yang terus menganak sungai, hingga tak berselang lama Dokter keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan putra ( suami ) saya dok?" Ucap mom Hera dan Delia secara bersamaan.
Melihat ekspresi yang ditunjukan dokter membuat mom Hera dan Delia yakin jika saat ini keadaan Gino tidak baik-baik saja.
"Pasien masih dalam keadaan kritis, dia mengalami benturan yang cukup keras dikepala"
__ADS_1
"Bisa kami menemuiny?" Tanya Delia penuh harap.
"Sebaiknya nanti saja setelah pasien dipindahkan keruang rawat!"
"Baiklah dok, terima kasih"
"Sama-sama, kalau begitu saya permisi" Dan dijawab anggukan oleh Delia dan mom Hera.
.
.
Dilihatnya wajah Gino dengan kepala dan sebagian tubuh yang terbalut perban, beberapa menit yang lalau Gino sudah dipindahkan keruang rawat. Delia menarik kursi kemudian duduk disisi pembaringan, tangannya terulur mengusap wajah pucat sang suami.
"Aku mohon bangunlah! Setelah sembuh nanti kau boleh menghukumku sesuka hatimu" Delia menyandarkan kepala dilengan sang suami, lama Delia terisak hingga tepukan lembut dibahu menghentikan tangisannya.
"Mom" Delia mendongakkan kepala menatap yang tengah berdiri disampingnya.
"Mom bawakan makanan untukmu, sejak tadi kau belum makan apa-apa" Mom Hera meletakan makanan yang ia bawa diatas meja.
Delia hanya menatapnya dengan sekilas "Aku tidak lapar mom" Dan pandangnnya kembali tertuju pada sang suami.
"Ya sudah, tapi nanti kamu harus makan ya!" Delia hanya menyahut dengan anggukan kepala.
__ADS_1
.
.
.
"Ada hal penting apa hingga kau memintaku kemari?"
Daniel menghembuskan nafasnya dengan berat, saat ini ia dan Netta sedang berada disebuah cafe. Ia sengaja meminta Netta menemuinya mengingat sikap Delia yang akhir-akhir ini terasa berubah terhadapnya jangankan untuk bertemu bahkan untuk sekedar menghubungi lewat poselpun sangat sulit, dan hanya Netta lah satu-satunya orang yang dekat dengan Delia selain dirinya.
"Akhir-akhir ini aku merasa sikap Delia sangat berubah terhadapku, apa kau tau apa yang membuatnya jadi seperti itu?"
Netta tak langsung menjawab, sebenarnya ia pun merasa demikian. Akhir-ikhir ini Delia memang sangat sulit untuk dihubungi dan sudah beberapa minggu ini ia pun tidak penah bertemu dengannya.
"Sebenarnya akupun merasa begitu, tapi aku sama sekali tidak tau. Sudah beberapa minggu ini kami tidak bertemu dan aku merasa jika dia sedang menyembunyikan sesuatu"
"Sesuatu apa?" Daniel menautkan kedua alisnya.
"Entahlah, atau mungkin itu hanya perasaanku saja"
Daniel terdiam sejenak sebelum akhirnya ia memberikan sebuah kertas yang sudah ia tulis untuk Delia.
"Jika kau bertemu dengannya tolong berikan ini untuknya, karna aku tidak bisa menemuinya secara langsung"
__ADS_1
"Baiklah"