DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 53


__ADS_3

Karena Delia terus merengek akhirnya Gino pun luluh juga, Gino mengurungkan niatnya untuk melaporkan Shera pada pihak yang berwajib. Tentunya dengan beberapa syarat yang tertulis hitam diatas putih dengan materai sebagai penguatnya, salah satunya adalah Shera tidak boleh lagi melakukan kesalahan yang sama dan sesuai perjanjian yang tertulis hari ini Shera akan kembali ke New York.


Shera sedang memasukan semua pakaiannya kedalam koper, sebenarnya sebelum meninggalkan Indonesia Shera ingin sekali bertemu dengan Delia, namun ia urungkan karna Gino telah memberinya peringatan jika tidak boleh lagi menampakan wajahnya dihadapan Gino maupun Delia.


"Selamat tinggal, aku akan berusaha melupakanmu" Gumamya pelan lalu menarik koper keluar dari apartemennya, begitu Shera keluar terlihat Roxy tengah berdiri didekat pintu.


"Apa kau sudah siap?" Roxy mengambil alih koper dari tangan Shera.


"Hhmm" Senyum Shera terlihat dipaksakan dan itu terlihat jelas oleh Roxy.


Dengan diantar Roxy kini Shera telah tiba dibandara, sebentar lagi pesawat yang akan membawanya akan lepas landas.


"Belajarlah melupakannya dengan memulai kehidupanmu dengan membuka hatimu untuk seseorang yang mencintaimu, mungkin dengan kehadirannya perlahan kau bisa melupakan Gino"


"Terima kasih, sampaikan maafku untuk Delia"


Kini pesawat yang membawa Shera telah terbang mengudara menuju negara dimana Shera pernah tinggali selama belasan tahun terakhir dengan membawa sebuah rasa penyesalan, nyatanya hingga kepergiannya Gino masih enggan untuk memaafkannya.


.

__ADS_1


.


.


Delia menatap pantulan wajahnya dicermin, sudah hampir satu jam namun Delia sepertinya masih enggan beranjak dari sana sampai-sampai Gino dibuat kesal karna sang istri sama sekali tidak menghiraukan keberadaannya.


"Hufftt" Terdengar Gino menghela nafasnya dengan berat " De, sebenarnya apa yang sedang kau lakukan?"


Delia melirik sekilas pada Gino yang sedang duduk berselonjor diatas tempat tidur lalu tatapannya kembali mengarah pada cermin didepannya "Gino, kenapa wajahku semakin hari semakin terlihat bulat saja bahkan aku terlihat gendut?"


Satu pertanyaan yang sukses membuat Gino terkekeh, bagaimana tidak semakin bulat mengingat nafsu makan Delia saja dua kali lipat dari bisanya bahkan bisa lebih apa lagi akhir-akhir ini Delia hampir tidak lagi mengalami mual dan muntah hingga setiap makanan yang masuk kedalam perutnya aman tanpa harus keluar lagi.Gino bangkit dari posisinya kemudian membungkukan badan agar sejajar dengan sang istri..


"Bukan gendut sayang, tapi sexy" Bisiknya ditelinga Delia, seketika wajahnya berubah merah untuk pertama kalinya kata sayang terucap dari Gino, hembusan nafas hangat Gino menyapu ceruk lehernya dengan reflek Deliapun memejamkan kedua matanya hanya dengan merasakan hembusan nafasnya saja sudah membuat tubuhnya meremang.


.


.


.

__ADS_1


Hari berganti hari, minggu berganti minggu bahkan kini telah berganti bulan. Usia kandungan Delia kini sudah memasuki bulan ke tujuh. Dibanding Delia, Gino lebih antusias menyambut kehadiaran buah hatinya yang diperkirakan akan berjenis kelamin laki-laki.


Kini Gino dan Delia sedang menata kamar yang nantinya akan ditempati oleh putra mereka, walau usia kandungan Delia masih berusia tujuh bulan namun Gino sudah mempersiapkan semuanya dengan sempurna.


"Duduklah, kau pasti lelah" Gino merangkul pundak sang istri dan mendudukannya di sofa.


Bahagia, itulah yang dirasakan Delia saat ini. Gino benar-benar menghujaninya dengan cinta dan kasih sayang yang begitu besar hingga rasa terpaksa dulu saat menikah dengan Gino kini telah berganti dengan rasa cinta. Seolah tersihir dengan pesonanya, pandangan Delia tak pernah lepas dari Gino yang kini sedang memasang beberapa hiasan didinding.


"Sayang lihatlah, Daddy mu benar-benar tampan" Delia mengusap perutnya yang kini sudah membuncit, aahh rasanya Delia menjadi wanita paling beruntung dimuka bumi ini.


Sementara itu dibelahan bumi lainnya tepatnya di Singapura seorang pria tengah menatap layar ponselnya yang menapilkan wajah cantik sang kekasih pujaannya, hampir lima bulan lamanya tak bertemu membuatnya merasakan rindu yang teramat menggunung "Tunggu aku sayang, sebentar lagi kita akan bertemu".


Senyum terukir diwajah tampan Daniel, hari yang ia nantikan akhirnya akan tiba juga. Hampir lima bulan tak bertemu bahkan tak sekalipun melakukan komunikasi karna Delia tidak pernah bisa dihubungi dan itu bukanlah hal yang mudah untuknya, Daniel benar-benar merasa tersikasa namun tidak sedikitpun ia berpikir buruk tentang Delia karna itu sudah menjadi keputusannya untuk pergi.


Yang Daniel pikirkan saat itu adalah kesembuhan untuk trauma yang di alami sepupunya Shelina dan Singapuralah tempat tujuannya, disana Shelina menjalani pengobatan sekaligus menjalani kehidupan barunya tanpa harus di penuhi bayang-bayang masa lalu dengan suaminya.


"Kau sudah siap? sebentar lagi keberangkatan pesawatmu" Suara Shelina membuyarkan Daniel.


"Tentu saja" Sahut Daniel lalu menarik kopernya keluar dari apartemen yang sudah hampir lima bulan ini ia tinggali.

__ADS_1


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


Apa kabar para readar, beberapa hari gak up dikarnakan sibuk ngurus anak yang lagi sakit๐Ÿ˜‘ Hari ini aku usahakan. Jangan lupa like vote and comentnya biar rame ๐Ÿ˜. Terima kasih masih setia menunggu kelanjutannya.


__ADS_2