
Pagi harinya dikantor. Seperti biasa, Gino melakukan pekerjaannya dengan sangat baik, meski begadang semalaman namun itu tak menyurutkan semangatnya.
"Nanti malam tuan Mark mengadakan pesta untuk hari jadi perusahaannya, tuan Mark mengundang perusahaan kita dan kamu harus datang" Ucap Roxy setelah keluar dari ruang meeting, memang karena mereka sahabat dekat maka jika sedang berdua begini merekapun tidak terlalu pormal.
"Akan saya usahakan!"
"Dan aku harap kamu benar-benar mengusahakannya"
Gino tak lagi menjawabnya. Selalu seperti itu, jika saja Gino bukan sahabat baiknya mungikin sudah Roxy geplak kepalanya saking kesalnya.
Begitu sampai diruang kerja, Gino langsung menjatuhkan tubuhnya yang terasa lelah diatas sofa. Sejenak Gino memejamkan kedua matanya untuk mengurangi rasa lelahnya, setelah dirasa sudah lebih baik Gino pun membuka kembali kedua matanya lalu meraih ponsel yang ada didalam saku jasnya.
Gino menatap walpaper layar ponselnya yang menggunakan foto sang istri dengan putra tercintanya, ah benar-benar sangat manis. Padahal baru ditinggal sebentar tapi kenapa rasanya rindu sekali, jika tidak mengingat banyaknya pekerjaan mungkin Gino akan pulang saat ini juga.
Sementara itu ditempat yang berbeda, susana bahagia menyelimuti rumah keluarga Abraham. Jika disana Gino sedang mati-matian menahan rindu pada putranya, maka disini mom Hera dan dad Tonny sedang puas-puasnya menggendong baby Raja. Mumpung Gino masih dikantor karena jika sudah pulang mana bisa mereka menggendongnya, jika baby Raja terus dimonopoli oleh Gino.
__ADS_1
"Uuhh gantengnya cucu grandma" Mom Hera terus berceloteh ria, rasa bahagianya benar-benar sudah tidak bisa di definisikan lagi.
"Siapa dulu dong grandpa nya, ya kan boy?" Tak mau kalah dad Tonny pun ikut bersuara.
Delia terkekeh sedangkan mom Hera memutar bola matanya, baru saja dia akan bersuara tapi tertahan saat seseorang bersuara.
"Siapa dulu dong opa nya" Sepasang suami istri itu tertegun melihat sosok yang kini sedang berjalan kearah mereka, papa Joy berjalan dengan membawa sebuah papar bag berukuran besar ditangannya.
"Papa..." Delia melengkungkan sudut bibirnya, senang sekali rasanya papanya berkunjung kerumah mertuanya. Baru saja Delia akan bangkit dari duduknya tapi tertahan saat papa Joy mengisyaratkan dirinya untuk tetap diam.
"Papa, Delia sayang papa" Delia semakin mengeratkan pelukannya, entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar setiap kata yang terucap sari bibir papanya.
"Hm, papa juga sayang Delia"
"Ini kenapa jadi melow gini ya?" Mom Hera menguasap sudut matanya yang terasa basah, melihat mereka berpelukan membuat mom Hera terbawa suasana.
__ADS_1
Dad Tonny menautkan kedua alisnya saat melihat wanitannya menitikan air mata "Sayang kamu menangis?"
"Engga, ini kelilipan"
"Sudah ga usah bohong, bilang aja iya!"
"Engga ya, mana ada aku nangis" Sungut mom Hera dengan kesal, namun didetik berikutnya mereka tertawa.
Setelah melepas pelukannya, Delia melirik kearah paper bag besar yang kini ada ditangan papanya "Papa bawa apa?"
"Ini?, hadiah untuk cucu papa yang paling tampan" Papa Joy memberikan paper bag itu pada Delia. Begitu dibuka, Delia dibuat ternganga dengan banyaknya mainan untuk putranya. Bahkan putranya belum bisa apa-apa tapi papanya sudah memberikan hadiah sebanyak ini.
"Untuk cucu papa yang paling tampan semua, lalu untuk anak papa yang paling cantik ini tidak ada?" Delia sengaja berkata seperti itu untuk menggoda papanya, Delia tak butuh itu, bertemu dengan papanya saja sudah membuatnya begitu bahagia.
Papa Joy menggaruk pundaknya yang entah mengapa tiba-tiba terasa gatal "Maaf sayang papa lupa"
__ADS_1
Delia pura-pura kesal dengan mengerucutkan bibirnya, suasana menjelang sore itu menjadi hangat dan ceria dengan candaan mereka.