
Delia tak kunjung memejamkan mata, sejak tadi ia hanya membolak-balikkan tubuhnya diatas pembaringan. Bayang-bayang pembawa acara tadi saat makan martabak terus menar-nari dalam otaknya "Kenapa aku sangat menginginkannya?"
Karna sulit untuk tertidur Delia pun meraih ponsel yang semula sudah ia letakan diatas laci, setidaknya dengan membuka media sosial pribadinya akan mampu mengurangi kejenuhannya. Delia baru akan membuka akun pribadinya namun terhenti saat melihat pintu kamar terbuka dari luar.
"Kenapa belum tidur?" Gino muncul dari balik pintu dengan beberapa kantongan ditangannya.
"Aku tidak bisa tidur" Delia mengambil posisi duduk, matanya mengarah pada kantongan yang ada ditangan sang suami "Kau bawa apa?"
"Ini makanan untukmu"
"Untukku?"
"Iya, ayo kita duduk disana!" Gino membawa Delia kesebuah sofa dan meletakkan kantongan yang ada ditangannya keatas meja, membuka satu persatu boxnya.
"Inikan martabak yang tadi ada di TV" Mata Delia berbinar begitu melihat makanan saat ini sangat ia inginkan "Kapan kau membelinya?"
"Bukan aku tapi Roxy"
"Roxy?" Delia mengerutkan dahinya.
__ADS_1
"Ya, aku memintanya untuk membeli makanan ini. Aku tau kau sangat menginginkannya"
Delia menatap Gino dengan penuh haru, walau bukan Gino sendiri yang membelinya namun ia cukup senang karna sang suami begitu peka terhadap keinginannya "Terima kasih".
"Hhmmm, sekarang makanlah!"
Dengan lahapnya Delia menyantap martabak tersebut, Gino samapi terheran karna Delia yang biasanya hanya makan sedikit kini sudah hampir menghabiskan dua box.
"Pelan-pelan makannya! Nanti kau tersedak" Gino mengusap sisa coklat yang menempel disudut bibir sang istri. Delia hanya tersenyum canggung, ini adalah momen pertama kedekatan mereka selama menjadi pasangan suami istri.
"Kau tidak makan?" Delia berusaha memecah kecanggungannya.
"Aku tidak menyukai makanan manis" Sahut Gino dengan jujur.
Delia menguap lebar setelah menghbiskan dua box martabak keju dan coklat, rasa kantuk begitu sulit ia tahan hingga tanpa sengaja tertidur disofa.
Seulas senyum terbit diwajah tampannya kala melihat Delia tertidur setelah merasa kenyang "Kau seperti bayi saja, setelah kenyang langsung tertidur" Gino membawa tubuh Delia kedalam gendongannya, dengan sangat hati-hati ia merebahkannya diatas tempat tidur.
.
__ADS_1
.
.
Delia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut kala merasakan sinar mentari masuk setelah Gino membuka tirai jendela kamarnya. "Delia, bangun!" Dengan penuh kelembutan Gino membangunkan sang istri.
"Aku masih mengantuk" Delia masih enggan membuka selimut yang membungkus tubuhnya.
"Baiklah tidak apa-apa kalau kau masih mengantuk, hari ini aku akan ke kantor dan aku sudah siapkan sarapan untukmu"
Saat itu juga selimut yang membungkus tubuhnya ia hempaskan begitu saja kelantai, ada rasa tidak rela mendengar Gino mengucapkan kalimat itu "Tapi kau kan masih sakit?"
"Aku sudah lebih baik sekarang, ya sudah aku berangkat dulu dan jangan lupa makan sarapannya!"
Saat Gino akan melangkah Delia segera menahan pergelalangan tangannya "Jangan pergi dulu!" Lirihnya dengan tatapan memelas.
Gino pun kembali mendudukan tubuhnya disisi pembaringan "Aku janji tidak akan lama" Gino mengelus pucuk kepala dengan lembut.
Bagaimana aku tidak luluh dengan sikapmu yang selembut ini, bahkan kau lebih mengerti aku dari pada diriku sendiri. Ucap delia dalam batinnya.
__ADS_1
Delia begitu terpaku dengan sikap Gino yang begitu lembut dan perhatian terhadapnya. Seperti kemarin saat Gino menyuruh pelayan memindahkan pakaian mereka ke kamar bawah yang akan menjadi kamar utama untuk mereka, karna Gino tidak ingin Delia sampai kelelahan jika harus terus naik turun tangga setiap hari.
Tak terasa mata Delia mulai berkaca-kaca saat mengingat bagaimana dulu dirinya memperlakukan Gino, bahkan ia masih menjalin kasih disaat statusnya yang sudah sah sebagai seorang istri.