
"Aawwww...." Gino meringis kala Delia mengoleskan obat luka pada wajah lebamnya, Gino bukanlah pria lemah sebenarnya tidaklah sesakit itu bahkan pukulan Daniel tidak berasa untuknya, hanya saja tidak ada salahnya jika saat ini ia sedikit mencari perhatian dari sang istri.
Namun apa yang Gino dapatkan nyatanya tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya, Delia justru semakin menekan lukanya. "Sakit ya, salah sendiri kenapa tadi tidak melawan?"
Bukannya tidak kasihan, hanya saja Delia kesal pada suaminya yang dengan suka relanya menerima setiap pukulan yang Daniel layangkan.
"Kau ingin tau alasannya?" Gino menatap lekat wajah Delia.
"Apa?"
"Aku ingin dia memberiku luka sama seperti aku memberinya luka, meski aku tau luka yang dia berikan tidaklah sesakit luka yang aku berikan padanya" Tanpa beban sedikitpun Gino mengatakannya, dia tidaklah sejahat itu hanya saja rasa obsesinya untuk mendapatkan Delia begitu besar hingga ia mampu melakukan apa saja untuk bisa memilikinya.
"Gino..." Delia tak tau lagi harus bekata apa, suaminya mamang benar pasti saat ini Daniel sangatlah terluka.
"Bagus jika anda sadar" Sahut Netta tiba-tiba muncul memghampiri mereka dengan membawa nampan berisikan segelas teh hangat untuk suami sahabatnya, dalam hati Netta memuji sikap Gino.
"Ck, mengganggu saja" Gino dibuat kesal bukan karna ucapan Netta melainkan kemunculannya yang tiba-tiba benar-benar mengganggu, sudah berusaha mencari perhatian sang istri tapi gagal dan sekarang ditambah lagi dengan kehadiran Netta disisi mereka semakin menambah kekesalannya.
"Ayyss, sayang kenapa kau mencubit?" Gino kembali dibuat meringis, cubitan Delia diperut sampingnya benar-benar terasa. Hendak marah namun tidaklah mungkin, apalagi sang pelaku kini tengah melayangkan tatapan tajamnya.
"Salah sendiri kenapa menggerutu seperti itu?"
Gino hanya pasrah, nyatanya memang benar wanita tidak akan pernah mau disalahkan. Lebih baik diam untuk menghindari hal-hal yang mungkin akan menambah kadar kekesalan sang istri, bisa bahaya jika hal itu sampai terjadi.
Selesai mengobati luka diwajah Gino, mereka memilih langsung pulang. Selama diperjalanan wajah Delia terlihat tidak seperti biasanya dan tentu saja Gino tau alasannya, tidaklah mungkin istrinya baik-baik saja setelah kejadian beberapa jam lalu, dan faktanya meski Delia berusaha menyembunyikannya tetap saja kesedihan memang terlihat jelas diwajahnya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menutupi kesedihanmu, menangislah jika itu bisa mengurangi beban dihatimu" Gino menepuk bahu sebelah kirinya mengisyaratkan agar Delia bersandar dibahunya.
Delia tak mampu berkata apapun, ia menangis sejadi-jadinya dengan bahu Gino yang menjadi sandarannya. Dan jika ditanya apa Gino merasa cemburu? jawabannya tentu saja iya, namun untuk saat ini Gino tak ingin mementingkan egonya, kesedihan Delia jauh lebih membuatnya sakit dibandingkan rasa cemburunya. Dan untuk hari ini saja Gino merelakan istri tercintanya menangis untuk pria lain, sementara untuk esok dan setetusnya tidak akan pernah terjadi lagi.
Lama Delia menangis dibahu sang suami hingga perlahan perasaannya mulai tenang dengan tangisannya yang sudah tak terdengar lagi menyisakan suara sesegukan, bukan karna masih mencintai yang membuatnya sesedih ini akan tetapi rasa bersalahnya terhadap Daniel benar-benar menghantuinya dan sebelum Daniel benar-benar bisa menerima dan memaafkannya rasanya Delia tidak bisa setenang itu.
"Sudah?" Tanya Gino begitu tak lagi mendengar suara tangisan sang istri.
"Maaf.." Delia menjawab dengan lirih bahkan nyaris tidak terdengar, tentu saja Gino dibuat panik hanya dengan suara Delia yang terdengar selemah itu.
Tak ingin hilang konsentrasi Gino pun menepikan kendaraannya, memang salahnya yang memilih pergi sendiri tanpa Roxy dan sekarang ia menyesal karena telah menugaskan Roxy untuk menggantikannya memimpin rapat, harusnya ia batalkan saja rapatnya dan membawa Roxy ikut serta dengannya.
"Sayang, kau tidak apa-apakan?" Dengan kekhawatirannya Gino menangkup wajah Delia, kekhawatirannya bertambah kala sang istri hanya diam tak menjawab pertanyaannya "Sayang, jangan mamembuatku cemas begini"
"I-itu" Delia menunjuk kemeja Gino, dimana ada ingusnya disana "Maaf, aku tidak sengaja" Setakut itu Delia saat ini, kemeja yang dikenakan Gino kotor dan bagaimana jika nanti Gino marah? Begitulah pikirnya.
Drama ingus selesai dan merekapun kembali melanjutkan perjalanan, entah karena kelelahan setelah menangis atau apa selama perjalanan Delia tertidur dengan pulasnya bahkan ketika Gino menggendongnya hingga sampai tiba dikamar sama sekali tidak membuat Delia terusik sedikitpun.
Setelah membersihkan diri Gino ikut berbaring disamping Delia dan memeluknya begitu erat seakan takut kehilangan "Maaf, kau harus terpaksa menikah denganku"
.
.
.
__ADS_1
.
Ditempat yang berbeda seorang wanita paruh baya tengah terisak seorang diri didepan pintu IGD, sejak tadi airmata tak hentinya mengalir dari kedua sudut matanya, tatapannya terus tertuju kedalam sana dimana sang suami kini tengah mendapatkan penanganan dokter.
"Ma, apa yang terjadi? Bagaimana keadaan papa sekarang?" Daniel datang dengan wajah cemasnya, kejadian ini terlalau mengejutkan bagimana bisa hal ini bisa terjadi setelah pagi tadi papanya terlihat baik-baik saja.
"Daniel, papa terkena serangan jantung setelah menerima kabar dari orang kepercayaannya bahwa perusahaan saat ini mengalami kerugain besar"
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah mama tidak tau, sebaiknya kau tanyakan saja pada Yosep orang kepercayaan papa!"
Bagai terhimpit bongkahan batu besar, Daniel merasa saat ini keadaan seolah benar-benar sedang mempermainkannya. Baru beberapa jam yang lalu dirinya dihadapkan dengan kenyataan pahit dan seolah belum puas kini dirinya harus kembali menghadapi sesuatu yang membuat jiwanya terguncang.
Didalam sana keadaan papanya sedang tidak baik-baik saja, sudah hampir dua jam lamanya dan tenaga medis masih terus berupaya melakukan yang terbaik untuk kesembuhan pasiennya. Disampingnya keadaan sang mama sudah semakin panik, tangisnya terdengar begitu memilukan ditelinga Daniel.
"Ma, tenanglah! Papa pasti baik-baik saja"
"Sudah dua jam lebih, kenapa dokter belum keluar juga?" Rasanya ingin sekali masuk kedalam sana untuk melihat keadaan sang suami.
"Tenanglah! mereka sedang berusaha melakukan tugasnya, dan disini tugas kita berdoa untuk kesembuhan papa"
Daniel berusaha setenang mungkin, walau sebenarnya saat ini hatinya tak sekuat itu namun didepan sang mama ia tak ingin terihat rapuh. Terlahir sebagai anak tunggal dikeluarganya menjadikan Daniel satu-satunya tumpuan untuk kedua orang tuanya, dan disaat-saat seperti ini bagaimana dia bisa menguatkan sang mama jika dirinya saja terlihat rapuh.
🏵 Bersambung🏵
__ADS_1
Apa kabar reader? Semoga ceritanya menghibur, seperti biasa aku minta dukungannya dari kalian semua. Thank You sudah setia membaca karyaku 😘