
Kini kedua orang yang sempat terlibat pertengkaran ringan itu sedang berada dalam satu mobil, atas permintaan Delia yang tidak dapat diganggu gugat mau tidak mau Roxy pun harus mengantar Netta pulang.
Sudah hampir setengah perjalanan namun keduanya sama-sama enggan untuk bersuara, Roxy yang memang dingin terhadap wanita sedangkan Netta yang acuh membuat suasana didalam mobil tersebut sunyi bak kuburan saja.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit akhirnya sampai juga dirumah Netta, rumah berlantai satu yang terkesan sederhana dengan nuansa cat berwana abu muda.
"Terima kasih atas tumpangannya" Tanpa menunggu jawaban Roxy, Netta segera turun dari mobil meninggalkan Roxy yang kini tengah menatap punggungnya yang semakin menjauh. Namun pokusnya kini bukan lagi terhadap Netta, melainkan pada sosok yang kini sedang duduk dikursi teras rumah tersebut.
"Apa aku harus beri tau Gino jika pria itu telah kembali" Roxy segera melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu, ia harus menyampaikan sesuatu yang baru saja dilihatnya pada Gino.
.
.
.
"Daniel?" Netta begitu terkejut samapi-sampai langkah kakinya terhenti begitu melihat sosok pria yang kini tengah duduk dikursi teras rumahnya "Kapan kau kembali?".
"Kemarin malam, kenapa kau diam saja? Sini duduk ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu!" Daniel menepuk kursi disebelahnya, ia merasa kesal dengan ekspersi wajah yang Netta tunjukan saat melihatnya bukannya terlihat senang justru Netta melihatnya seperti sedang melihat hantu saja "Netta, kau dengar aku tidak?" Daniel sedikit mengeraskan suaranya karna Netta masih diam mematung diposisinya.
"Eh maaf" Tersadar Netta pun berjalan menghampiri Daniel dan duduk dikursi sebelahnya "Kau mau bicara apa?"
Walau Netta paham betul apa yang akan Daniel bicarakan namun ia tetap bertanya, Netta menatap lekat wajah pria disampingnya hatinya terasa perih jika mengingat betapa Daniel begitu mencintai Delia sedangkan Delia sendiri sudah menjadi milik pria lain dan entah jawaban apa yang akan ia berikan pada Daniel nanti jika dugaannya memang benar.
"Bagaimana keadaan Delia selama aku pergi, apa dia pernah menemuimu atau sekedar bertanya tentang keberadaanku?"
__ADS_1
Nyata, apa yang Daniel bicarakan sesuai dengan dugaannya. Kini Netta gelagapan tak tau harus menjawab apa karna faktanya selama Daniel pergi Delia sama sekali tidak pertanya mengenai pria itu padanya namun untuk berkata jujur rasanya Netta tidak tega apa lagi terpancar jelas dari raut wajahnya penuh dengan harapan.
"Netta kenapa kau diam saja?" Lagi lagi Daniel dibuat kesal karena Netta tidak menjawab pertanyaannya.
"Maaf Niel, selama kau pergi aku tidak pernah bertemu dengan Delia. Sudah lama kami tidak saling kontek" Kilah Netta, mungkin ini lebih baik dari pada Netta mengatakan yang sebenarnya. Bukan bermaksud menyembunyikan fakta namun yang Netta pikirkan adalah tentang bagaimana perasaan Daniel nanti jika mengetahui orang yang begitu ia cintai kini telah menjadi milik pria lain, sudah dipastikan perasaan Daniel pasti akan hancur.
Seketika wajah Daniel berubah datar, jawaban Netta nyatanya tak sesuai dengan harapannya. Meski sudah berusaha untuk tidak berpikir buruk tentang sang kekasih nyatanya itu tak cukup untuk membuatnya tetap percaya pada keyakinannya "Sepertinya dia sengaja menjauhiku, tidak mungkin dia hilang kabar seperti ini tanpa sebuah alasan"
"Itu mungkin hanya perasaanmu" Sanggah Netta berusaha meyakinkan jika kecurigaan Daniel tidaklah benar.
"Aku pun berharap begitu, namun bukan tidak mungkin jika apa yang aku katakan memang benar adanya. Enam bulan lebih dia tidak pernah menghubungiku dan selama itu pula aku selalu berusaha menghubunginya namun tidak pernah bisa, jika tidak ingin menjauhiku lalu apa maksudnya? Katakan Netta apa menurutmu itu masih bisa dibilang wajar? Jika itu satu atau dua hari aku masih bisa mengerti tapi ini tidak sama sekali"
Daniel mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca, percayalah jika laki-laki sudah mengeluarkan air matanya untuk seorang wanita itu tandanya dia begitu mencintainya. Itulah yang Daniel rasakan terhadap Delia wanita yang menjadi kekasihnya selama tiga tahun semenjak ia masih SMA.
Saat itu Daniel duduk bangku kelas tiga, ketampanannya menjadikan dia sebagai siswa terpopuler dan begitu di gilai oleh para siswi disekolahnya namun bagi Daniel tidak ada satupun yang mampu menarik perhatiannya. Hingga suatu hari sekolahnya kedatangan murid baru yang masih duduk dibangku kelas satu yang tak lain adalah Delia, sejak pertama kali melihatnya Daniel begitu terpesona bukan hanya karna kecantikannya tapi sifatnya yang baik terhadap semua orang.
Maafkan aku Daniel, aku tidak bisa mengatakan kebenarannya padamu aku takut kau tidak bisa menerimanya.... Netta berucap dalam batinnya.
.
.
.
Ditempat lain, Delia sedang bergelayut dilengan sang suami dengan manjanya "Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"
__ADS_1
"Soal apa?"
"Apa kau tau Roxy itu menyukai tipe wanita seperti apa?" Sungguh pertanyaan yang sama sekali tidak ingin Gino jawab, untuk apa istrinya menanyakan sesuatu yang sama sekali tidak penting menurutnya.
"Aku tidak tau" Jawabnya acuh, karna sebenarnya Gino memang tidak tau.
"Tidak mungkin kau kan sudah lama berteman dengannya" Tidak semudah itu Delia akan percaya dengan ucapan suaminya, bagaimana mungkin seseorang yang sudah bersama belasan tahun tidak mengetahui hal sekecil ini menurutnya.
Gino sendiri semakin dibuat kesal karna Delia terus menuntut jawaban, sepertinya Delia tidak akan berhenti bertanya sebelum mendapatkan jawaban yang benar-benar membuatnya merasa puas.
"Aku tidak tau sayang, Roxy tidak pernah pacaran. Mungkin dia tidak menyukai wanita" Jawab Gino dengan asal "Rasakan kau Roxy, rasanya aku ingin sekali mencekikmu karna sejak tadi istriku terus bertanya tentangmu" Gino berucap namun hanya dalam hati.
"What? Itu tidak mung..." Delia tidak lagi melanjutkan ucapannya karna tiba-tiba Gino membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman, demi apapun Gino tidak ingin lagi istri tercintanya bertanya lagi.
"Stop bertanya tentang Roxy, aku tidak ingin mendengarnya lagi!" Gino mengusap dengan lembut bibir Delia.
"Ishh kau itu, aku hanya bertanya apa salahnya?"
"Tentu saja salah, kau bertanya tentang pria lain dan aku tidak suka"
"Tapi dia itu saha..." Lagi lagi Gino membungkam bibir Delia dengan sebuah ciuman yang akhirnya semakin menuntut lebih dari sekedar ciuman, tentu saja Delia sangat menikmatinya saat Gino melakakukan sesuatu yang lebih terhadapnya.
πΊπΊπΊπΊ
**Apa kabar pembaca setiaku? Semoga kalian sehat selalu.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komennya.
Terima kasih πππ**