
Berkat bantuan Gino kini perlahan perusahaan Daniel mulai membaik, pria itu kini tengah duduk termenung dikursi kebesarannya sambil menatap foto-foto kenangan dirinya saat bersama Delia dulu. Senyum terukir diwajahnya saat jemarinya terus menggesrer layar ponselnya, bahagia sekali rasanya saat itu namun didetik berikutnya Daniel menitikan air matanya. Takan ada lagi kebahgiaan seperti dulu, kini Delianya hanyalah sebuah kenangan semata.
"Kau tau, rasanya sangat sulit bagiku untuk melupakanmu" Daniel menguasap layar ponselnya seakan akan saat ini tengah mengusap wajah Delia.
Karna perasaannya sedang kacau Daniel pun tidak lagi bisa konsetrasi bekerja hingga ia memutuskan untuk pulang saja "Aku mau pulang, bisa tolong urus semua pekerjaanku hari ini!" Pinta Daniel pada Yosep, usia Yosep yang jauh lebih tua darinya membuatnya sungkan untuk memberi perintah pada pria itu.
"Tentu saja, itu sudah menjadi tugas saya"
"Terima kasih"
Daniel melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, waktu masih menunjukan pukul dua siang akan sangat membosankan jika ia berada dirumah di jam jam seperti ini. Hingga akhirnya Daniel memilih untuk melajukan kendaraannya menuju sebuah taman kota, mungkin disana ia bisa sedikit melupakan kesedihannya.
Awalnya memang iya, Daniel merasa sedikit lebih baik namun sesaat kemudian hatinya kembali terluka. Pemandangan didepannya benar-benar menyesakan dada, bagaimana tidak. Tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang wanita dengan perut buncitnya tengah tertawa bahagia bersama seorang pria, pria itu tak hentinya mengelus perut sang wanita. Keduanya tampak begitu bahagia "Apa sudah tidak ada lagi aku dihatimu?" Gumam Daniel denagan diiringi cairan bening yang keluar dari kedua sudut matanya.
Rasanya begitu sakit melihat orang yang begitu ia cintai dimiliki oleh pria lain, ingin beranjak dari sana namun kakinya terasa kaku bahkan untuk sekedar berdiri saja rasanya ia sudah tak mampu namun untuk tetap melihat kemesraan antara Delia dan Gino ia takan sanggup, tapi beruntungnya Daniel karna sepasang suami istri itu tidak menyadari keberadaannya. Saat Delia dan Gino sudah meninggalkan taman, Daniel masih tetap setia tak beranjak dari sana sedikitpun bahkan samapai malam tiba.
Setelah dirasa Daniel sudah bisa menetralisir perasaannya, Danielpun berlalu pergi. Namun tujuannya kali ini bukan lagi rumah, melainkan ke tempat dimana ia bisa melampiaskan kesedihannya. Untuk malam ini saja Daniel ingin melupakan semuanya.
Tak butuh waktu lama Daniel sudah tiba ditempat tujuan, dengan langkah gontainya Daniel memasuki sebuah club malam ternama dikota ini, sedikitpun tak pernah terlintas dalam benaknya akan kembali menginjakkan kakinya ditemapat ini. Dulu saat masih SMA Daniel dan teman temannya memang sering ketempat ini, namun tidak lagi setelah ia mengenal Delia.
"Aku tidak percaya akan kembali lagi ke tempat ini" Ucapnya tersenyum miris kemudian mendudukkan tubuhnya disebuah kursi, Daniel memesan segelas minuman beralkohol dan ia menghabiskannya hanya dalam satu kali tegukan saja. Tak puas hanya satu gelas, Daniel memesannya lagi dan lagi hingga ia mabuk berat.
__ADS_1
Tak jauh dari tempatnya duduk ada seorang wanita dengan pakaian sexynya sedang memperhatikannya, wanita tersebut melangakahkan kakinya mendekat kearah Daniel. Samar samar Daniel melihat ada seorang waninta berjalan kearahnya, dalam keadaan mabuk berat Daniel melihat wanita asing tersebut sebagai Delia.
"Sayang, akhirnya kau datang padaku" Racaunya dengan tatapan sendu.
Wanita itu duduk dipangkuan Daniel tangan nakalnya mulai menelusuri dada bidangnya, Daniel hanya diam menikmati sentuhan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Merasa tidak adanya penolakan wanita itupun tersenyum senang. Sebentar lagi ia akan berhasil menjerat mangsanya, namun saat wanita itu hendak mencium bibir Daniel tiba-tiba saja ada seseorang menarik rambutnya dari belakang.
"Aawww..." Wanita itu meringis kesakitan karna jambakan dirambutnya cukup keras.
"Dasar wanita gatel" Belum sempat wanita itu melwan, Netta mendorong tubuh wanita itu agar menjauh dari tubuh Daniel hingga wanita itu terjerembab kelantai.
Kebingungan terlukis diwajah Daniel saat melihat ada dua Delia dihadapannya, dalam pandangan Daniel baik Netta maupun wanita itu mereka berdua terlihat seperti Delia "Kenapa jadi dua?" Daniel mengucek matanya, namun sialnya pandangannya semakin meremang hingga tak lama kemudian Daniel tak sadarkan diri.
"Dasar wanita gila" Umpatnya kemudian berlalu.
"Kau yang gila" Teriak Netta penuh emosi, untung saja dirinya tepat waktu jika tidak mungkin saat ini Daniel dan wanita itu sudah melakukan sesuatu yang tidak-tidak.
Tadi saat Netta pulang kerja tanpa sengaja dirinya melihat mobil Daniel melaju menuju club tersebut, kebetulan tempatnya bekerja tak jauh dari club itu dan sepulang kuliah Netta kerja paruh waktu. Karna penasaran Nettapun akhirnya mengikutinya dan benar saja Daniel memarkirkan kendaraannya disana, tak lama setelah Daniel masuk Nettapun ikut masuk masih menggunakan seragam kerjanya.
"Daniel, kenapa kau jadi seperti ini?" Netta menatap iba pada Daniel yang sudah tak sadarkan diri.
Dengan dibantu pihak keamanan Netta memapah Daniel menuju mobilnya "Terimaksih atas bantuannya" Ucapnya pada pria berpakaian serba hitam itu.
__ADS_1
"Sama sama nona".
Kini Daniel dan Netta sudah berada didalam mobil, Netta nampak bingung tak tau harus membawa Daniel kemana karna dari informasi yang ia dengar setelah kepergian papanya Daniel tak lagi tinggal disana "Apa aku sewa penginapan saja?" Gumamnya kemudian meraih kunci mobil dari dalam saku jasnya Daniel.
Setelah melajukan kendaraan selama lima belas menit, Netta pun menemukan sebuah penginapan yang tidak terlalu besar namun masih terasa nyaman. Setelah memesan satu buah kamar Netta kembali kemobil untuk membawa Daniel kesana.
Dilihatnya kondisi Daniel masih belum sadar, dengan susah payah Netta memapah tubuh berat Daniel hingga sampai pada sebuah kamar.
"Delia, kenapa kau menghianatiku? Apa salahku?" Daniel terus meracau menyebut nama Delia.
"Kau tau, rasanya sakit sekali melihatmu seperti ini" Netta menatap lekat wajah Daniel, dengan sangat hati hati ia melepaskan sepatu yang melekat dikaki Daniel.
"Andai saja aku bisa, akan ku hapus lukamu" Tangan Netta terulur menyentuh lembut wajah Daniel, wajah yang terlihat lelah dengan gurat penuh luka.
Setelah puas menatap wajah Daniel, Netta bangun dari duduknya hendak keluar dari kamar itu. Namun belum sempat dia melangakah, tangannya sudah lebih dulu dicekal oleh Daniel.
"Jangan tinggalkan aku" Racaunya dengan mata sedikit terbuka.
Netta begitu terkejut saat tiba tiba Daniel mencekal pergelangan tangannya "Daniel, kau sudah bangun?"
Namun Daniel tak menjawab pertanyaan Netta. Sejenak ia terdiam dan sesaat kemudian ia menarik Netta hingga jatuh tepat diatas tubuhnya "Aku mohon jangan tinggalkan aku" Lirihnya dengan tatapan memohon, mata sayunya menatap Netta penuh damba.
__ADS_1