
Susasana diruang rawat kini terhihat begitu heboh, ya beberapa saat lalu Delia sudah dipindahkan keruang rawat. Sejak tadi mereka terus berdebat saling memperebutkan baby boy, alhasil ruang rawat pun dibuat ramai oleh para penghuninya.
"Gino, sampai kapan kau akan terus menggendongnya? Sini giliran mommy!"
"Tidak bisa mom, dia hanya ingin digendong daddy nya. Ya kan boy?" Gino menatap gemas bayi mungil dalam gendongannya, rasanya tidak rela jika harus melepasnya walau hanya sebentar saja.
"Ck, mana ada. Itu hanya alasanmu saja, sini sayang sama grandma" Mom Hera hendak mengambil alih kedalam gendongannya, namun Gino tetap kekeh tak rela baby boy lepas dari gendongannya.
Dari sofa sana papa Joy dan dad Tonny hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan ibu dan anak itu, namun detik berikutnya seulas senyum terukir diwajah dad Tonny.
"Aku sangat bahagia sekarang, terima kasih karena kehadiran putrimu dalam keluarga kami telah begitu banyak membawa kebahagiaan terutama untuk putraku. Kehadirannya bagaikan pelita yang membawa terang disaat gelap menyelimuti kehidupan Gino" Ucap dad Tonny tanpa mengalihkan tatapan matanya dari istri dan putranya yang masih berdebat memperebutkan baby boy.
"Hm, aku pun percaya kalian akan menjaga dan melindungi putriku dengan baik. Aku harap, dari ibu mertuanya putriku bisa merasakan kasih sayang seorang ibu yang tidak pernah dia rasakan sejak dia masih kecil"
"Tentu, kau tidak perlu khawatir" dan obrolan mereka pun terhenti begitu mendengar tangisan baby boy.
__ADS_1
Gino sudah berusaha menghentikan tangisannya dengan mengayun-ayunkan baby boy dalam gendongannya namun tetap saja tidak mau berhenti malah tangisannya semakin kencang, alhasil Gino pun jadi panik "Mom, kenapa baby nya tidak mau berhenti menangis?"
"Sepertinya dia lapar" Mom Hera mengambil alih baby boy dalam gendongannya, Gino hanya bisa pasrah karena diapun sudah tidak mampu meredakan tangisannya.
Delia yang sejak tadi tertidur akhirnya terbangun begitu mendengar bayinya menangis, Delia mencoba untuk duduk dengan sigap Ginopun membantunya."Mom, maaf aku tidurnya terlalu lama" Delia menatap tak enak pada mom Hera yang tengah berusaha menenagkan baby nya.
"Tidak sayang, kenapa harus minta maaf" Mom Hera mendekat kemudian mengalihkan baby boy dalam gendongan Delia "Sepertinya dia lapar, apa ASI mu sudah keluar?"
"Sudah mom, tapi tidak banyak"
"Tidak apa-apa itu wajar, nanti juga banyak"
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk baby boy?" Tanya dad Tonny dari sudut sofa sana.
"Iya, kalian sudah menyiapkannya belum?" Papa Joy pun ikut menimpali.
__ADS_1
"Sudah" Gino dan Delia menjawab secara bersamaan "Aku dan Delia sudah sepakat memberi nama baby boy Raja Abraham, sesuai namanya kami berharap suatu saat nanti dia akan menjadi laki-laki hebat dan akan menjadi pemimpin yang baik"
"Mommy setuju, nama yang bagus"
"Daddy juga setuju"
"Papa juga"
Masalah nama sudah selesai, mereka sepakat memberi nama baby boy Raja Abraham. Delia sejak tadi tak melepaskan pandangan matanya dari wajah putranya yang sudah terlihat bibit bibit ketampanannya walaupun masih bayi. Garis wajah bentuk hidung hingga bibirnya benar-benar warisan dari Gino, ada rasa tak percaya kini diusianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun dirinya sudah menjadi seorang ibu.
"Lihat, putra kita sangat tampan. Dia sangat mirip denganku" Gino menoel hidung Raja yang mana membuat Raja menggeliat dalam tidurnya.
"Dia memang sangat tampan, tapi rasanya tidak adil. Kenapa dari semuanya dia hanya mirip denganmu? Seharusnya ada aku juga dalam wajahnya! Aku kan mommy nya"
"Sayang, kalau mirip kamu nanti putra kita cantik dong. Kamu kan cantik, cantik banget malah"
__ADS_1
"Ya engga semuanya juga, misal mata atau hidung gitu. Ini semuanya cofyan kamu semua"
Gino sampai terkekeh dengan respon Delia terhadap wajah Raja yang begitu mirip dengannya, dan dari sofa sana para orang tua menatap bahagia putra putri mereka. Mereka berharap semoga anak-anak mereka selalu bahagia dalam mengarungi bahtera ruamah tangganya, saling setia satu sama lain hingga maut memisahkan.