
"Ehemmm" Gino dan Delia dikejutna dengan suara deheman yang berasal dari dekat pintu, tampak dad Tonny dan mom Hera disana sementara papa Joy sudah pulang lebih dulu setelah menerima telpon dari kantornya.
"Bagaimana keadaanmu?" Dad Tonny medekat ke arah putranya, di ikuti mom Hera yang mengekor dibelakangnya.
"Seperti yang Daddy lihat" Sahut Gino seenaknya, Delia bahkan merasa gemas dengan jawaban suamiya hingga tepukan pelan Delia daratkan dipundak sang suami.
"Aaww" Gino pura-pura meringis saat tangan Delia mendarat sempurna dibahunya, melihat itu Delia jadi panik.
"Mana yang sakit?" Delia meneliti dengan mata yang sudah berkaca-kaca, entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya jadi mudah sensitif "Maaf jika aku menyakitimu padahal aku melakukannya dengan pelan"
Dad Tonny dan mom Hera hanya geleng-geleng kepala, mereka tau saat ini putranya hanya sedang bersandiwara.
Mom Hera mendekati Delia yang sudah mulai terisak "Sayang kenapa kau menangis?" Ucapnya dengan usapan lembut dipunggung sang menantu.
"Aku sudah menyakitinya mom"
Pelototan tajam mom Hera arahkan pada putranya Delia sudah mulai terisak, seolah mengerti dengan tatapan tak bersahabat dari mommynya Gino akhirnya bersuara.
"Sebenarnya tidak sakit, tadi aku hanya bercanda"
"Mommy lihat, dia benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya dia mengerjaiku disaat seperti ini" Tangisnya semakin pecah dengan memeluk tubuh mom Hera semakin erat.
Lama Delia berada didalam pelukan mom Hera yang terasa begitu nyaman untuknya, hingga saat dirasa sudah mulai tenang ia baru melepaskan pelukannya. Sementara Gino dan dad Tonny sejak tadi hanya diam jadi penonton.
"Sayang kelihatannya kau sangat lelah, wajahmu bahkan terlihat pucat" Mom Hera mengusap wajah menantunya dengan lembut "Sebaiknya kau pulang dan istirahat, biar mommy dan daddy disini menjaga suamimu"
"Aku tidak apa-apa mom, aku bisa istirahat disini sambil menjaganya"
"Apa kau yakin"
Delia menganggukan kepala "Mommy dan daddy pulang saja, daddy pasti lelah sejak tibs di Indonesia pasti belum sempat istirahat"
__ADS_1
Mom Hera melirik ke arah sang suami tatapannya menyiratkan meminta persetujuan dan di jawab anggukan kepala oleh dad Tonny.
"Baiklah, mommy dan daddy pulang dulu. Jika butuh sesuatu segera hubungi mommy!"
"Baik mom"
.
.
.
Kini diruangan tersebut hanya ada Delia dan Gino, mom Hera dan dad Tonny sudah pulang bererapa menit yang lalu.
"Sini" Gino menepuk sisi pembaringan disebelahnya agar Delia ikut berbaring disisinya.
Ragu-ragu Delia mendekat dan merebahkan tubuhnya disamping sang suami, Gino dapat merasakan tubuh Delia yang gemetar "Jangan takut, aku tidak akan melakukan apa-apa. Kau lihat aku saja masih belum leluasa untuk menggerakan seluruh tubuhku" Gino mengusap pucuk kepala Delia dengan penuh kelembutan, tatapannya menyiratkan sebuah rasa penyesalan yang teramat dalam "Maaf atas perbuatanku malam itu, saat itu aku hilang kendali ketika melihatmu bersama Daniel. Tidak ada hal lain yang ada dipikiranku saat itu selain menjadikanmu milikku seutuhnya, aku terlalu takut kehilanganmu hingga aku melakukkannya tanpa memperdulikan persaanmu. Maukah kau memaafkan ku?" Gino menatap Delia dengan penuh harap.
Mata Delia sudah mulai berkaca-kaca, ia menatap wajah Gino dengan intens dan ia dapat melihat cinta dan ketulusan yang nyata disana. Hingga akhirnya ia menganggukan kepala sebagai jawabannya, dan tentu saja hal itu membuat Gino bahagia. Andai saat ini kondisinya sedang tidak mengalami luka mungkin ia sudah melompat saking bahagianya.
.
.
.
Terdengar bel berbunyi membangunkan sang penghuni apartemen yang sedang tebuai dalam alam mimpinya, perlahan Elena turun dari atas pembaringan saat bel terus berbunyi dengan tidak sabarnya.
"Mengganggu sekali, tamu tidak tau diri kenapa harus datang disaat masih pagi begini" Padahal waktu sudah menunjukan pukul delapan lebih, sepanjang menuju pintu wanita itu terus menggerutu demi apapun ia akan memaki siapapun yang saat ini berada dibalik pintu.
Dengan perasaan kesal ia membuka daun pintu "Ada ap...." Elena tak lagi melanjutkan kalimatnya seketika nyalinya langsung menciut begitu melihat dua pria berseragam polisi berdiri tepat didepan pintu apartemennya.
__ADS_1
"Maaf bisa bertemu dengan saudari Elena?" Ucap salah satu polisi tersebut.
Seketika tubuhnya meremang bahkan lututnya terasa lemas "Sa-saya sendiri, ada perlu apa dengan saya?"
"Kami kemari membawa surat penangkapan untuk anda, anda diduga terlibat dalam kasus kecelakaan yang menimpa saudara Gino Abraham. Dan untuk lebih jelasnya anda ikut kami ke kantor sekarang!"
"Tidak, saya sama sekali tidak melakukan hal itu" Elena berusaha mengelak.
"Mohon maaf sebaiknya anda ikut kami, anda bisa menjelaskannya nanti saat dikantor polisi" Namun Elena sama sekali tidak mengindahkannya ia terus mengelak bahkan berusaha melarikan diri saat kedua polisi tersebut membawanya secara paksa.
Dad Tonny beserta Roxy sudah tiba dikantor polisi, tak lama kemudian polisi datang dengan membawa Elena.
"Uncle aku tidak bersalah, mana mungkin aku berusaha mencelakai orang yang sangat aku cintai" Elena berusaha meyakinkan dad Tonny.
Seringai tipis terukir diwajah pria paruh baya itu "Aku tau kau tidak mungkin berusaha mencelakai putraku" Medengar ucapan dad Tonny membuat Elena menerbitkan senyum kemenangannya "Tapi, bukan berarti kau tidak mungkin berusaha mencelaki menantuku Delia" Seketika senyum Elena langsung menghilang bagai terhempas angin kencang.
"A-apa maksud uncle?"
"Kau bisa menjelasnannya, setelah polisi memperlihatkan bukti-buktinya"
Polisi memperlihatkan bukti rekaman CCTV tersebut kehadapan Elena, seketika tubuhnya gemetar. Pasrah mungkin itu kata yang tepat untuk Elena saat ini, ingin mengelakpun rasanya percuma karna dalam rekaman tersebut terlihat jelas mobil yang dikendarainya dengan sengaja melaju kencang kearah Delia.
"Baiklah jika sudah jelas, saya permisi undur diri" Dad Tonny meninggalkan kantor polisi dengan Roxy yang mengekor dibelakangnya, ia sama sekali tidak memperdulikan teriakan Elena yang terus memanggilnya.
.
.
.
Senyum terukir diwajah mom Hera ketika ia melihat pemandangan indah didepan matanya, saat ini Delia dan putranya tengah tidur diranjang pasien yang sempit dengan posisi tangan Delia melingkar diperut sang putra. Tak ingin melewatkan momen yang membahagiakannya mom Hera pun mengambil gambar mereka dengan menggunakan ponselnya.
__ADS_1
"Uuhhh so sweetnya" Mom Hera mejatuhkan tubuhnya disofa dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya, ia mulai bisa bernafas lega melihat hubungan keduanya mulai membaik sejak Gino mengalami kecelakaan dua hari yang lalu.
Sekarang aku tidak perlu khawatir lagi, semoga ini awal yang baik untuk putra dan menantuku dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Ucapnya dalam batin.