
Pukul setengah enam sore Gino tiba dirumah, seketika langkahnya terhenti begitu mendengar suara riuh tawa yang berasal dari ruang tengah.
"Teganya mereka tertawa tanpa adanya diriku" Gumamnya dengan dramatir, kemudian melangkahkan kaki menuju tempat bersalanya suara tawa tersebut.
"Ehem..." Gino berdehem, karena sudah hampir lima menit ia tiba disana namun ke tiga orang tersebut belum menyadari kehandirannya. Ya, ketiga orang karena papa Joy sudah pulang beberapa saat yang lalu. Kini Gino mulai bergumam apa seseru itu obrolan mereka sampai tidak menyadari kehadirannya, begitulah pikirnya.
"Eh sayang, kau sudah pulang?" Delia tersentak, begitupun ke tiga orang lainnya.
Gino menghela nafas sejenak kemudian berjalan mendekat kearah sang istri "Aku bahkan sudah datang dari lima menit yang lalu, tapi kalian semua tidak ada yang menyadarinya"
Delia mengerutkan dahinya, apa benar yang diucapkan suaminya ini. Namun melihat dari tatapan kesal dan cara bicara Gino sepertinya pria itu tidak berbohong.
"Maaf, kami terlalu asik mengobrol sampai tidak sadar sudah pulang" Ucapnya dengan nada sedikit lirih.
Jika Delia merasa bersalah, berbeda dengan mom Hera. Wanita itu kini tengah memutar bola matanya dengan jengah "Sudah gak usah lebay gitu, pake pasang wajah so melas lagi"
"Mommy bisa diam tidak? Ini antara aku dan istriku"
__ADS_1
"Oh tidak bisa" Jawab mom Hera, rasanya senang sekali bisa kembali menjahili putranya. Jika dulu jangankan untuk menjahili bahkan untuk sekedar mengobrol saja sangat sulit, namun sekarang Gino putranya sudah kembali pada setelan awal dimana dia sebelum ditingal Alina, kini tidak ada lagi Gino yang dingin dan irit bicara dan tentunya semua itu berkat kehadiran Delia.
"Mom..."
"Sudahlah sayang, lihat putra kita sudah hampir menangis" Canda dad Tonny di ikuti kekehan oleh Delia.
"Dad..." Mata Gino memicing, setelah mommynya kini daddynya ikut-ikutan membuatnya kesal.
Mereka semua tergelak, suasana seperti inilah yang mom Hera dan dad Tonny rindukan. Suasana rumah dimana adanya canda dan tawa yang menghias, jika dulu rumah mewahnya terasa sepi dan hampa kini semuanya terasa berbeda dan semuamya lagi-lagi karena Delia.
"Ck, kenapa mommy masih bertanya? Tentu saja aku inginmenggendong putraku"
"Tidak bisa, mandi dulu sana bersihkan tubuhmu!"
Namun bukan Gino namanya jika mengalah begitu saja, apa lagi melihat Raja yang kini tengah menggeliat dalam gendongan mom Hera membuat Gino semakin gemas dan ingin segera mengambil alih ke dalam gendongannya "Mom, sebentar saja! Atau setidaknya cium dulu!"
"Ck, bilang saja mommy tidak rela melepas Raja untukku!" Sarkas Gino kemudian berlalu menuju kamarnya yang ada dilantai atas.
__ADS_1
"Mom, dad, aku permisi dulu mau ke atas" Setelah itu Delia pun ikut keatas menyusul Gino yang terlihat kesal.
Sesampainya dilantai atas Delia dibuat heran oleh Gino, bukannya membersihkan diri malah suaminya kini sedang rebahan diatas tempat tidur. "Ini kenapa malah tiduran?"
"Malas" Gino menjawab dengan singkatnya.
"Malas?" Delia kembali mengulang dengan mata memicing, Delia sudah tau jika suaminya sudah mengatakan hal seperti itu artinya dia tidak ingin mandi sendiri.
"Hem" Gino masih setia dalam posisinya, berharap sang istri mengerti dengan kode yang dia betikan kemudian mengajaknya mandi bersama.
Perlahan senyum kemenangan terbit diwajah tampannya kala Delia meraih handuk dan berjalalan kearahnya, namun nyatanya harapannya tak sesuai dengan kenyataan saat Delia memberinya handuk dan berkata "Jangan aneh-aneh, aku sudah mandi tadi dan aku gak mau mandi dua kali"
"Sayang ayolah, kamu kenapa tega sama aku?"
"Tega apanya? Sudah deh mandi sana jangan terlalu banyak drama!"
Dengan perasaan kesal akhirnya Gino beranjak juga dari tempat tidur menuju bathroom.
__ADS_1