DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 37


__ADS_3

"A-aku sedang mengandung?"


"Ya, dan aku harap kau bisa menerima kehadirannya" Tangan Gino terulur menyentuh perut rata Delia, selulas senyum teukir diwajah tampannya dan hal itu menimbulkan senasi hangat yang merasuk kedalam jiwa Delia kala ia merasakan usapan lembut dari tangan kakar itu.


Dan aku berharap kehadirannya bisa menjadi awal baru untuk hubungan kita, aku akan berusaha mecintaimu sebagaimana kamu mencintaiku. Ucap Delia dalam batinnya.


.


.


.


Saat ini mereka telah tiba dirumah, disana ada Roxy yang sedari tadi tengah duduk diruang tamu menunggu kedatangan bos sekaligus sahabatnya.


"Sejak kapan kau berada disini?" Gino ikut duduk disofa tersebut, melihat adanya empat cangkir kopi terletak diatas meja ia mulai menyakini jika Roxy sudah lama berada dirumahnya.


"Sejak tiga jam yang lalu, kau tiba lebih lambat dari perkiraanku" Karna setahunya Gino akan pulang menjelang siang namun saat ini mereka baru sampai setelah hampir sore sedangkan jarak antara rumah sakit dengan rumahnya tidak begitu jauh.


"Kalau kau bosan menunggu kenapa tidak pulang saja!" Ucapan Gino mampu menciptakan semburat merah diewajah Roxy. Betapa tidak, ia rela menunggu berjam jam samapi menghabiskan empat cangkir kopi namun tanpa rasa berdosa sedikipun Gino mengucapkan kalimat tersebut dengan tanpa perasaannya.


"Ck, Kau bahkan tidak menanyakan alasan apa yang membuatku rela membuang waktuku dengan menunggumu disini"


Gino menautkan kedua alisnya "Baiklah, sekarang katakan alasannya"


Roxy menyerahkan sebuah amplop colkat kepada Gino, Gino meraih benda tersebut dengan seringai yang terlihat menakutkan "Baguslah, dia akan mendapat hukuman atas perbuatannya. Dan apa kau sudah yakin jika tidak akan ada yang bisa menjamin kebebasannya?" Sebelumya Gino sudah diberi tau oleh dad Tonny bahwa Elenalah dalang dibalik kecelakaan yang menimpa dirinya.


"Kau tenang saja, dia tidak akan bebas sebelum masa tahanannya berakhir"


.


.


.


Saat Delia masuk kekamar ia terheran dengan kehadiran pelayan sedang memasukan baju-bajunya dari lemari kedalam sebuah keranjang besar.


"Bi, kenapa baju-baju dimasukan kedalam keranjang?"


Pelayan tersebut tersentak karna sebelumnya ia tak menyadari keberadaan Delia disana "Ya ampun, nona membuat saya kaget saja" Ucapnya dengan pengusap dada "Tuan menyuruh saya memindahkan semua pakaian yang ada disini ke kamar yang ada dilantai bawah"

__ADS_1


"Tapi untuk apa?"


"Kalo itu saya tidak tau, saya permisi nona" Pelayan itu berlalu dengan membawa keranjang besar besisikan pakaian.


"Silahkan" Delia akhirnya menjatuhkan tubuhnya diatas pembaringan, karna lelah ia pun tertidur.


Tak lama setelahnya Gino muncul dari balik pintu, dilihatnya Delia sedang tertidur begitu lelap. Perlahan tangannya terulur mengusap pucuk kepala sang istri "Kau pasti sangat lelah, akhir-akhir ini kau kurang istirahat karna harus menjgaku" Ia pun ikut merebahkan tubuhnya disamping sang istri.


Waktu menunjukan pukul tujuh malam, namun sepasang suami istri itu masih tenggelam dalam mimpinya masing-masing. Hingga suara ketukan pintu akhirnya membangunkan keduanya.


"Sayang, makan malam sudah siap" Seru mom Hera dari balik pintu.


Saat itu juga Delia langsung terbangun begitu menyadari siapa yang saat ini berada dibalik pintu "Bukankah itu suara mommy?"


"Hhmm" Gino hanya menyahut dengan deheman, matanya masih enggan untuk terbuka.


"Ya mom, sebentar lagi kita turun!" Sahut Delia kemudian.


"Ayo bangun! Mommy pasti sudah menunggu kita" Delia mengguncang pelan bahu sang suami.


.


.


.


"Maaf membuat mommy dan daddy menunggu" Delia merasa tidak enak dengan kedua mertuanya, sedangkan Gino terlihat biasa saja.


"Tidak apa-apa, mommy mengerti kalian pasti butuh istirahat"


"Sejak kapan mommy dan daddy datang?" Gino menyahut pembicaraan antara istri dan mommynya.


"Belum lama, baru sekitar sembilan puluh menit yang lalu" Mom Hera melirik kearah sang suami "Ya kan dad?"


"Ya, mommy mu terus merengek seperti anak kecil. Daddy sampai pusing mendengarnya"


Mendengar ucapan dad Tonny membuat mom Hera mengerucutkan bibirnya.


Makan malampun berlalu dengan sangat nikmat dengan di iringi obrolan santai, mom Hera dan dad Tonny pulang seusai makan malam karna tidak ingin mengganggu kebersamaan putra dan menantunya.

__ADS_1


Saat ini Delia dan Gino sedang berada diruang tengah melihat tayangan televisi yang menyiarkan acara dengan berbagai macam kuliner.


Delia sama sekali tidak mengedipkan matanya saat melihat pembawa acara tersebut menyantap martabak dengan lelehan keju yang begitu menggoda baginya, bahkan tanpa ia sadari mulutnya kini telah terbuka hampir meneteskan cairannya.


"Apa kau menginginkannya?" Tanya Gino setelah menyadari ekspresi yang ditunjukan Delia terhadap makanan itu.


Suara lembut Gino membuyarkan lamunannya "Tidak, tempat penjualnya jauh" Namun ada raut kekecewaan saat mengatakannya.


Gino meraih ponselnya kemudian mengetikkan sebuah pesan pada seseorang.


.


.


.


Roxy baru saja tiba diapartemennya. Sudah hmpir dua minggu ini ia selalu pulang malam, Ketidak hadiran Gino diperusahaan benar-benar menyita waktunya. Dengan perasaan lelah ia menjatuhkan tubuhnya disofa, sejenak ia memejamkan mata demi mengurai rasa lelah yang menjalar ditubuhnya.


Baru beberapa detik ia memejamkan mata, sudah terdengar bunyi pesan masuk dari poselnya. Matanya membulat sempurna begitu ia membaca pesan dari Gino yang bermuatkan sebuah perintah tanpa embel-embel kata tolong.


Belikan martabak yang ada dijalan X dengan semua varian rasa. Isi pesan yang ditulis oleh Gino.


"Dasar teman durjana, dia yang membuat istrinya hamil tapi aku yang harus direpotkan" Roxy yakin ini pasti ada hubungannya dengan ngidamnya Delia, karna ia sangat tau Gino tidak menyukai makanan tersebut. Tanpa memperdulikan rasa lelahnya Roxy kembali menyambar kunci mobil yang semula sudah ia letakan diatas meja.


Butuh waktu satu jam lebih untuk tiba ditempat tujuan itupun karna suasana jalan sedang tidak padat pengendara, begitu sampai Roxy harus kembali mengurai emosi karna ditempat tersebut begitu ramai pengunjung hingga ia harus menunggu lebih dari satu jam untuk mendapat makanan tersebut.


Waktu hampir menujuk ke angka dua belas saat Roxy tiba dirumah sang bos durjananya, alih-alih mendapat ucapan terima kasih justru ia mendapat hadiah tatapan tajam.


"Kenapa lama sekali?" Gino mengambil alih kantongan makanan yang ada ditangan Roxy.


"Selain kejam ternyata kau sangat menyebalkan, bukankah kau tau tempatnya berada dimana?"


"Tentu saja aku, itulah sebabnya aku menyuruhmu" Jawabnya dengan santai, sungguh Demi apapun Roxy benar-benar ingin mencekik Gino saat ini juga.


"Kenapa kau metatpku seperti itu?" Sebenarnya Gino sudah mengerti tatapan kesal Roxy yang tertuju padanya "jika tidak ada keperluan lagi kau bisa pulang sekarang!"


Roxy menghela nafas untuk mengurai kekesalan dalam dirinya "Kau belum mengganti uangku"


"Kau tenang saja, aku akan mentanfernya nanti" Sahut Gino seraya melangakahkan kakinya masuk kedalam rumah, tanpa memperdulikan Roxy dengan segala umpatannya.

__ADS_1


__ADS_2