DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 50


__ADS_3

Delia memejamkan matanya saat tangan nakal Gino mulai menyusup kedalam piama yang melekat ditubuhnya.


"Aku mencintaimu" Bisiknya dengan mesra, Gino membalikkan tubuh Delia agar dapat mentap wajah cantiknya.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap, larut dalam perasaan cinta masing-masing. Hingga didetik berikutnya Delia tertawa kecil saat baru menyadari Gino hanya menggunakan handuk putih yang menutupi area bawah perutnya.


"Kenapa, apa aku terlihat lucu?" Tanya Gino di iringi dengan kerutan di dahinya.


"Bukan lucu, hanya saja aku merasa geli. Berarti sejak tadi kau mencariku kesana kemari hanya dengan mengguanakan itu saja?" Delia menunjuk bagian bawah tubuh Gino dengan menggunakan dagunya.


Gino pun mengikuti kemarah arah mata sang istri, namun tidak ada keterjutan di wajahnya saat baru menyadari penampilannya saat ini "Ini semua salahmu!" Gino merapatkan tubuhnya dengan tubuh Delia hingga tidak menyiasakan jarak diantara keduanya.


"Kenapa aku?, kau sendiri yang ceroboh"


"Kau tau, aku terlalu panik saat tidak melihatmu didalam kamar dan aku langsung mencarimu tanpa mengingat keadaanku"


"Benarkah, ku kira kau sengaja ingin menggodaku" Tangan Delia bergerak meraba dada bidang sang suami, h*s*rat Gino semakin menggebu saat merasakan lembutnya sentuhan tangan Delia menelusuri tubuh bagian atasnya.


"Sejak kapan kau jadi nakal seperti ini?" Gino bertanya dengan suara seraknya.


"Apa, kau bilang aku nakal?" Seketika Delia menghentikan aktifitas tangannya dengan matanya yang sudah mulai berkaca-kaca "Jadi sekarang aku terlihat seperti wanita nakal, begitukan maksudmu?"


"Tidak, bukan seperti itu" Gino memcoba merengkuh tubuh sang istri, namun dengan cepat Delia menghindar "Maaf kalau aku salah bicara, sungguh bukan itu maksudku"


"Lalu apa?"


"Aku hanya merasa aneh, karna tidak biasanya kau menggodaku seperti tadi"

__ADS_1


Bukannya tenang dengan penjelasan Gino, Delia malah terisak "Kau benar-benar keterlaluan, tadi kau mengatakan aku nakal dan sekarang penggoda"


Ya ampun, kenapa jadi begini? Aku tau wanita hamil itu memang sentitif tapi tidak seperti ini juga.


Gino sudah mulai frustasi, tidak tau harus dengan cara apa menjelaskannya. Sementara Delia terus terisak hingga terdengar sesegukan.


"Kau jahat, aku tidak mau me...." Ucapan Delia terhenti saat Gino membungkamnya dengan sebuah ciuman, Delia berusaha melepaskan diri namun percuma tenaganya kalah jauh.


"Jangan bicara lagi, percayalah aku tidak mungkin mengatakan sesuatu yang buruk terhadapmu" Ucapnya setelah melepaskan ciumannya kemudian ia membawa tubuh Delia kedalam pelukannya.


Sepertinya akan ada kegagalan untukku malam ini, kasihan sekali kau. Gino menatap iba pada senjata panmungkasnya yang sudah siap tempur.


"Sudah malam, sebaiknya kau tidur! Aku akan ke kamar bawah dulu untuk mengambil pakaian ganti"


Selang beberapa menit Gino kembali dengan setelan piama yang melekat ditubuhnya.


"Aku tidak bisa tidur"


"Sini!" Gino yang mengertipun merebahkan tubuhnya, tangan kirinya ia rentangkan agar bisa dijadikan bantal untuk sang istri. Gino tau jika akhir-akhir ini Delia tidak akan bisa tertidur tanpa menjadikan lengannya sebagai bantalnya, dan hal itu selalu ia lakukan setiap malam.


Dengan senyum mengembang Delia membaringkan tubuhnya disamping sang suami dengan menjadikan lengan kokohnya sebagai bantal, wajahnya ia benamkan didada untuk menghirup aroma yang telah menjadi candunya.


Saat dirasa Delia sudah benar-benar terlelap, Gino pun beranjak dari tempat tidur menuju balkon kamar untuk menghubungi Roxy.


"Bagaimana keadaannya?" Tanya Gino begitu panggilannya tersambung.


"Kodisinya masih kritis, kemungkinan untuk dia bertahan sangat kecil"

__ADS_1


"Lakukan penjagaan selama dua puluh empat jam, pastikan tidak ada yang boleh masuk kecuali tim dokter! Dan untuk sementara kau


handle semua pekerjaanku, aku tidak ingin sampai hilang kendali jika melihatnya"


Panggilan terputus, terdengar helaan nafas berat dari Gino. Ternyata Shera benar-benar licik tak sepolos dulu, beberapa jam yang lalu Roxy menghubunginya memberi kabar bahwa keberadaan surya sudah terlacak, namun setelah tiba disana mereka dikejutkan dengan kondisi surya yang sudah tak sadarkan diri dengan tubuh bersimbah darah dan terdapat bekas tusukan benda tajam diperutnya.


Gino meyakini jika semua itu atas perbuatan Shera apalagi setelah Roxy memberitaunya jika Sheralah orang yang mengrimkan sebuah paket pada Delia saat itu. Roxy juga menjelaskan tentang alasan kenapa Shera melakukannya, dan betapa terkejutnya Gino saat Roxy menceritakan rahasia yang selama ini ia sembunyikan. Rahasia jika Shera sudah mencintainya sejak mereka masih SMA.


Gino larut dalam lamunannya, tatapannya mengarah ke pembaringan dimana wanitannya tengah tertidur lelap "Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu, walaupun harus dengan nyawaku. Selama aku masih hidup, tidak akan aku biarkan siapapun menyakitimu" Ucap Gino dalam batinnya.


Sementara itu ditempat lain, Shera sedang menagis dibawah guyuran air shower. Rasa cinta telah membuatnya gelap mata hingga tega menghilangkan nyawa seseorang.


Tadi sore saat melewati parkiran tanpa sengaja Shera mendengar perbincangan antara Roxy dan anak buahnya yang melibatkan nama surya, kepanikan pun tercipta saat Shera mendengar telah terlacaknya keberadaan Surya.


Beberapa kali Shera menghubungi nomor Surya namun tidak ada jawaban, akhirnya ia pun bergegas menuju ketempat dimana surya bersembunyi. Ia harus sampai lebih dulu sebelum Roxy anak buahnya.


Sesampainya disana Shera melihat Surya tengah tertidur dengan pulas diatas sofa, saat akan membangunkannya tiba-tiba terdengar suara mobil terparkir diarea rumah kecil itu. Shera mengintip dari balik tirai dan ternyata yang keluar dari mobil tersebut adalah Roxy dan beberapa anak buahnya.


Panik, Shera tidak tau harus berbuat apa. Untuk melarikan diri bersama Surya pun rasanya percuma, yang ada ia akan ikut tertangkap. Sementara diluar sana, anak buah Roxy sedang berusaha membuka pintu dengan cara mendobraknya. Kenpanikan semakin dirasakan oleh Shera, ia milirik pisau yang tergeletak diatas meja dan tanpa berpikir panjang Shera menancapkannya diperut surya tepat mengenai organ vitalnya.


Mata surya langsung terbelalak kala merasakan benda tajam itu mengunus perutnya, ia memegangi perutnya yang mulai mengalirkan darah segar "No-nona ap-apa yang ka-kau lakukan?" Tak lama kemudian surya sudah tak sadarkan diri.


"Maafkan aku, aku tidak punya pilihan lain" Lirihnya kemudia Shera bersembunyi ditempat yang menurutnya aman. Karna untuk keluar dari pintu lain pun percuma, rumah itu sudah dikepung anak buah Roxy.


Pintu berhasil dibuka Roxy dan anak buahnya masuk. Disaat mereka sedang sibuk dengan Surya, disaat itu pula Shera keluar dari rumah itu dan segera berlari menuju kendaraannya yang terparkir jauh dari area rumah itu.


Sesampainya diapartemen Shera langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air shower, rasa takut kini menjalar dalam jiwanya.

__ADS_1


__ADS_2