DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 43


__ADS_3

Delia terbangun saat rasa lapar mulai melanda perutnya, pandangan matanya berkeliling saat tidak mendapati keberadaan sang suami disana.


Tanpa membersihkan diri terlebih dahulu, ia segera menuju ruang makan berharap akan menemukan sang suami disana.


Namun sesamainya disana hanya ada pelayan yang sedang menata sarapan dimeja makan "Nona sudah bangun, saya sudah menyiapkan sarapannya" Ucap pelayan saat melihat Delia berjalan kearahnya.


"Makasih bi, saya memang sedang lapar" Delia mejatuhkan tubuhnya dikursi dengan pandangannya yang terus menyisiri setiap sudut disekitarnya.


"Apa bibi melihat suamiku?, dari tadi aku tidak menemukannya" Delia baru akan memasukan suapan pertama kedalam mulutnya namun selara makannya langsung hilang begitu saja saat pelayan mengatakan sesuatu yang membuatnya merasa sedih bercampur kesal secara bersamaan.


"Tuan sudah berangakat ke kantor sekitar satu jam yang lalu"


Tidak ada lagi sahutan dari Delia, ia segera berlalu dari ruang makan tanpa menyuapkan satu suappun makanan ke dalam mulutnya. Rasa lapar yang semula ia rasakan seolah etlah hilang berganti dengan rasa kekesalan.


Diatas pembaringan Delia menangis dengan tersendu-sendu, mungkin karna efek kehamilam hingga membuatnya mudah menangis dan marah apalagi sejak semalam Gino mendiamkannya dan sekarang pergi begitu saja tanpa memberitaunya.


Hingga saat pintu diketuk dari luar, barulah Delia menghentikan tangisannya.


"Non, apa saya boleh masuk" Terdengar suara pelayan dari balik pintu.


Dengan segera Delia menyeka airmata, malu rasanya jika pelayan sampai melihatnya menangis "Masuk saja bi, pintunya tidak dikunci"


Pelayan masuk dengan nampan berisi makanan ditangannya "Saya bawakan sarapan untuk nona, tadi nona belum sempat makan"


"Aku tidak lapar, bibi bawa kembali saja makanannya"


Pelayan mengerutkan dahi, bukankah tadi majikannya mengatakan sangat lapar lalu kenapa sekarang bilang tidak "Tapi non...." Belum sempat melanjutkan ucapannya namun Delia sudah lebih dulu menyelanya.

__ADS_1


"Bi....."


"Baiklah, saya letakan makanannya disini saja. Supaya nanti saat nona lapar bisa langsung makan"


Delia hanya meliririk sekilas makanan yang ada disampinngnya tanpa menyentuhnya sedikitpun.


.


.


.


Dikantor


"Apa kau sudah mendapatkan pengganti Rani?" Rani adalah sekertaris Gino yang mengundurkan diri beberapa hari lalu.


"Secepat itu? Ingat aku tidak ingin kau salah memilih orang"


"Apa kau meragukanku?" Roxy menjawab dengan percaya dirinya "Aku tau jika kau itu sangat selektif jadi aku memilihnya untuk menggantikan Rani, dan kau pasti akan terkejut jika mengetahui siapa yang akan menjadi sekertaris barumu sekarang"


"Aku tidak peduli dengan omong kosongmu itu, yang aku inginkan dia bisa bekerja seperti Rani" Karna akan sulit bagi Gino berdaptasi dengan sekertaris barunya.


"Apa kau yakin?"


Suara ketukan pintu dari luar menghentikan obrolan antara bos dan asisten pribadinya, Roxy menyunggingkan senyumnya saat dapat menebak siapa yang ada dibalik pintu tersebut.


"Masuk" Roxy menjawab dengan senyumnya yang semakin melebar.

__ADS_1


Pintu terbuka menampilkan sosok wanita anggun yang terihat seusia dengan mereka.


Gino hampir tidak percaya dengan penglihatannya saat ini, setelah belasan tahun lamanya kini mereka dipertemukan kembali.


"Apa kabar" Sapa wanita itu dengan mengulurkan tangannya.


"Baik" Gino menerima uluran tangan wanita dihadapannya "Dan kau sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Dan mulai saat ini aku harus memanggilmu tuan, bukan begitu Roxy?" Wanita itu melirik kearah Roxy sekilas kemudian tatapannya kembali mengarah pada Gino "Apa aku tidak dipersilahkan untuk duduk?" Canda wanita itu.


"Oh ya, silahkan duduk!"


"Terima kasih"


Kini mereka duduk disofa dengan di iringi obrolan diantara ketigannya.


Gino beranjak dari sofa ketika terdengar poselnya berdering, tertera nama Nilam dalam ponselnya sebagai pemanggil. Takut terjadi sesuatu dengan sang istri ia pun segera menjawab panggilan tersebut.


"Ada apa?" Tanya Gino begitu panggilan tersambung.


"Itu tuan, sejak tadi nona mengurung diri di kamar, bahkan tidak mau makan"


Gino memutuskan panggilan begitu saja, tanpa sepatah katapun ia berlalu dari ruangannya meninggalkan dua orang disana dengan wajah bingungnya.


"Dia kenapa?"


Namun Roxy hanya menjawab dengan mengedikan bahunya.

__ADS_1


__ADS_2