
Hal yang ditunggu sejak tadi akhirnya tiba juga, setelah sekian lama Daniel dan mamanya menunggu akhirnya dokter keluar.
"Bagaimana keadaan papa-suami saya dok?" Secara bersamaan Daniel dan mamanya bertanya pada pria berjas putih tersebut, begitu besar harapan keduanaya untuk kesembuahan orang yang begitu mereka cintai namun entah mengapa setelah melihat raut wajah sang dokter kini perasaan mereka sudah mulai tidak enak.
"Dokter, bagaimana keadaan papa saya? Katakan jika papa saya baik-baik saja!" Suara Daniel kini sudah mulai meninggi, dia benar-benar dibuat kesal oleh pria dihadapannya. Apa sesulit itu menjawab pertanyaannya? Begitulah pikir Daniel.
"Maafkan kami tuan, kami tim medis sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi tuhan berkehendak lain. Pasien tidak dapat kami selamatkan" Dokter tersebut berucap dengan wajah sedihnya.
Deg.....
Jantungnya seakan berhenti berdetak, dadanya terasa begitu sesak dengan nafasnya yang terasa berat seakan tidak adanya pasokan oksigen disana. Disampingnya sang mama tengah menjerit histeris, nyatanya hal sejak tadi menjadi kekhawatirannya kini telah benar-benar terjadi. Tubuh Daniel terasa begitu lemas bahkan sendi-sendinya terasa sudah tak lagi mampu untuk menopang berat badannya, sekejam itu tadir padanya secara bersamaan Daniel kehilangan dua orang yang begitu penting dalam hidupnya kini cinta dan panutannya telah meninggalkannya secara bersamaan.
"Ma..." Tersadar, Daniel merangkul sang mama kedalam pelukannya.
"Papa Daniel, papa....." Dipelukan sang putra kini Mama Diana menangis sejadi jadinya, tak pernah terbayangkan olehnya hari ini menjadi hari terakhir sang suami bersamanya.
Tiada hal yang paling menyakitkan selain ditinggalkan orang begitu kita cintai, perasaan itulah yang kini dialami oleh Daniel. Dengan tanpa perasaan kekasihnya menikah dengan pria lain dan sekarang papanya pergi kepangkuan sang ilahi, sungguh rasa sakit yang tidak lagi dapat didefinisikan lagi.
"Ikhlaskan papa ma, biarkan papa pergi dengan tenang!" Bohong jika Daniel berkata demikian, nyatanya hatinya tak selapang itu untuk melepas kepergian panutannya namun dihadapan sang mama dirinya tak ingin terlihat hancur.
Setelah kadaan sudah mulai tenang Daniel dan Mamanya masuk untuk melihat sang papa, dengan tangan bergetar Daniel membuka kain putih yang menutupi seluruh bagian tubuh papanya "Papa..." Lirihnya dengan menatap wajah pucat pasi itu.
Tak kuat melihat keadaan sang suami akhirnya mama Diana pun ambruk tak sadarkan diri, dengan sigap Daniel memanggil petugas medis untuk memeriksa keadaan mamanya.
__ADS_1
"Ya tuhan, dosa apa yang sudah ku lakukan hingga kau memberiku ujian sebesar ini?" Bukan maksud menyalahkan, hanya saja dirinya benar-benar merasa frustasi dengan keadaan yang saat ini sedang menimpanya.
Sore harinya Zenajah tiba dirumah duka, para sahabat dan kerabat sudah mulai berdatangan untuk mengucapkan bela sungkawanya, tak sedikit pula rekan bisnis yang datang untuk memberikan penghormatan yang terakhir kalinya pada mendiang papanya.
Terlihat Daniel tengah berusaha menenangkan sang mama yang sejak tadi tidak sedikitpun beranjak dari sisi pembaringan papanya, melihat itu hati Netta begitu sakit bagaikan tertusuk ribuan jarum. Ingin mendekat namun ia merasa malu sendiri mengingat ia sudah membohonginya, akhirnya Netta memilih menjauh saja.
Sementara itu ditempat yang berbeda, Delia dikejutkan dengan kabar duka yang baru saja Netta sampaikan padanya hingga ponsel yang ada digenggamannya kini terjatuh kelantai. Melihat itu Gino jadi panik sendiri dan segera menghampiri sang istri "Ada apa, kenapa setegang itu, memang apa yang Netta bicarakan?"
Bukannya mejawab, justru Delia mengahmbur kepelukan Gino dengan tangisnya yang pecah "Hey kenapa menagis, ada apa hem?"
"Da-Daniel..." Rasanya sulit sekali untuk sekedar berbicara, alhasil Delia kembali terisak tampa melanjutkan lagi ucapannya.
"Tenangkan dulu dirimu, bicarakan semuanya secara pelan pelan jangan terlalu dipaksakan" Gino memberikan sedikit urang untuk Delia agar bisa sedikit lebih tenang, tangannya tak henti terus mengelus punggungnya dengan sesekali memberikan kecupan dipucuk kepalanya.
"Hem" Delia menjawab dengan anggukan kepala.
"Sudah bisa cerita?"
Lagi lagi Delia hanya menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Baiklah, sekarang katakan ada apa?" Selembut itu Gino berbicara dengan tangannya yang saat ini sedang merapikan anak rambut yang menutupi wajah cantik Delia.
"Netta memberitahuku, kalau papanya Daniel meninggal dan saat ini dia sedang berada disana untuk ngelayat"
__ADS_1
"Lalu apa kau juga mau kesana? Jika ia kita bisa kesana sekarang!" Takut Delia tak berani meminta Gino pun berinisiatip untuk menawarkan diri.
Tidak dipungkiri memang saat ini Delia ingin sekali pergi kesana sekedar untuk menguatkan Daniel, namun itu tidak mungkin "Saat ini Daniel sangat membenciku, aku takut jika kita kesana malah akan semakin memperkeruh suasana".
"Bukan aku tapi kita" Gino sedikit menekan kata kita dalam ucapnnya, dalam hal ini dia tidak rela jika hanya Delia yang menanggungnya sendiri mengingat dialah yang sudah memaksa keadaan hingga menjadi seperti saat ini. Dan untuk Daniel sendiri, sama sekali tidak ada rasa benci dihatinya mengingat dialah yang seharusnya patut dibenci oleh Daniel.
"Apapun itu, yang jelas untuk saat ini aku sangat malu jika harus bertemu dengannya"
"Kita bisa kesana tanpa harus diketahui oleh Daniel" Jawab Gino yang membuat Delia sedikit mendongak agar bisa menatapnya.
"Bagaimana caranya?"
"Nanti kau akan tau, sekarang kau siap siap atau nanti kita akan terlambat mengahdiri prosesi pemakamannya!"
Dan saat ini Delia dan Gino tengah berada dipemakaman untuk menyaksikan berlangsungnya proses pemakaman papanya Daniel, meski dari jarak yang sekikit jauh namun setidaknya Delia bisa mengahdirinya.
Tatapan Delia terus tertuju pada Daniel Dan dia dapat melihat saat ini Daniel sedang merasakan luka yang begitu mendalam "Maafkan aku Daniel, suatu saat nanti kau pasti akan menemukan gadis yang lebih baik dariku" Ucapnya namun hanya dalam hati.
Semuanya berjalan dengan lancar dan orang orang perlahan mulai meninggalkan tempat terasebut hanya menyisakan Daniel dan mamanya, disentuhnya nisan bertuliskan nama Wiratama Anggara, nama yang dulu selalu jadi panutan dan kebanggannya kini sudah tiada hanya menyisakan sebuah nama saja "Papa, istirahatlah dengan tenang! Aku janji akan menjaga mama dan Shelina dengan nyawaku sendiri, dan untuk apa yang sudah papa perjuangkan selama ini, aku akan berusaha mempertahankannya semampuku"
"Pa, tidurlah dengan damai. Mama ikhlas melepas papa, semoga suatu saat kita akan dipertemukan dikeabadian"
Kini anak dan ibu itu saling merangkul satu sama lain untuk menenagkan perasaan masing masing, setelah hari sudah mulai gelap barulah mereka beranjak meninggalkan pemakaman. Hingga saat melewati sebuah mobil Daniel menghentikan langkahnya sejenak saat merasa melihat seseorang yang begitu ia cintai.
__ADS_1