DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 49


__ADS_3

"Dia seorang wanita tuan, tapi sungguh saya sama sekali tidak mengenalnya" Tubuh pria itu bergetar saat melihat tatapan Gino yang setajam belati.


"Bagaimana ciri-cirinya" Roxy yang tadinya hanya diampun mulai bersuara.


"Wanita itu tinggi, ramping, berkulit putih, rambutnya berwarna coklat bergelombang dan satu lagi saya melihat ada tatto bergambar mawar dipergelangan tangan sebelah kiri. Hanya itu yang saya tau tuan, saya tidak bisa melihat wajahnya karna wanita itu menggunakan masker"


Roxy merasa tercengang, begitupun dengan Gino. Ciri-ciri yang disebutkan pria itu seperti tidak asing bagi mereka "Apa kau tidak sedang membohongi kami?"


"Saya tidak berani tuan, saya mohon tuan lepaskan saya" Pria itu mengantupkan kedua tangannya didepan dada.


"Ya sudah sana kau boleh pergi" Gino mengibaskan tangan, dengan segera orang itu pergi sebelum kedua pria dihadapannya berubah pikiran. Gino menghela nafas berat, walau informasinya masih terlihat samar namun itu cukup membantu mereka.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan?" Tanya Roxy masih dengan wajah datarnya.


"Untuk sementara kita tidak perlu melakukan apa-apa, biarkan orang itu merasa menang dengan permainannya" Seringai tipispun terukir diwajah kedua pria tampan itu.


.


.


.


Didalam kamar seorang wanita tengah menatap sebuah foto berbingkai kayu, jemarinya mengusap wajah dalam foto tersebut "Apa salah jika aku mencintaimu? Kau tau, setiap kali aku melihat istrimu rasanya ingin sekali aku melenyapakannya"


Pandagan Shera berpindah pada dinding dimana terdapat foto Delia disana, lengkap dengan sebuah pisau kecil yang menancap pada bagian wajahnya "Ini baru awal, selanjutnya akan aku pastikan kau tidak akan hidup tenang selama masih bersama Gino. Karna Gino milikku, hanya milikku!"


Tawa menyeramkanpun terdengar memenuhi seisi kamar.


Ke esokan harinya dikantor.


Seperti biasa Roxy selalu datang lebih awal, apa lagi Gino tidak bisa masuk selama beberapa hari kedepan dengan alasan ingin menemani wanitanya yang masih dalam keadaan syok.


"Kenapa akhir-akhir ini aku merasa selalu dijadikan tumbal atas kesenangan bos durjana itu" Roxy melirik kearah tumpukan berkas yang belum sepat Gino periksa "Sepertinya aku akan lembur malam ini"

__ADS_1


Roxy mengerjkan berkas-berkas yang tertumpuk rapih diatas meja, hingga tak terasa sudah waktunya jam istirahat, namun Roxy masih berkutat dengan berkas laproan ditangannya hingga suara seseorang membuyarkan konsentrasinya.


"Ke caffe yuk, waktunya makan siang" Ajak Shera.


"Sebentar aku selesaikan laporan ini dulu" Sahutnya tanpa mengalihkan tatapannya pada berkas ditangannya.


"Kenapa Gino tidak masuk, bukankah keadaan istrinya sudah membaik?"


Roxy meletakan berkas diatas meja setelah selesai memerikasanya "Biasalah, baru akur lagi hangat-hangatnya"


"Maksudnya?" Tanya Shera dengan mengerutkan dahi.


"Bukan apa-apa, lupakan saja!" Roxy merangkul bahu Shera dan membawanya keluar ruangan.


Roxy dan Shera kini berada disebuah caffe dekat kantor, sambil menunggu makanan datang mereka berbincang layaknya teman pada umumnya. Beberapa menit kemudian pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan dan minuman pesanan Shera sedangkan Roxy hanya memesan secangkir white coffe.


Pelayan meletakan makanan dan minuman keatas meja. Namun saat akan meletakan cangkir coffe pesanan Roxy, pelayan itu tidak sengaja menumpahkan isinya hingga tepat mengenai tangan Shera.


"Aaww" Shera meringis memegangi pergelangan tangan kirinya yang terkena tumpahan coffe.


"Kalau kerja hati-hati, kau lihat karna kecerobohanmu tanganku jadi begini" Shera memperlihatkan tangannya yang mulai memerah akibat terkena siraman coffe panas.


"Sudah Shera dia tidak sengaja" Roxy melirik kearah pelayan yang masih menundukan kepalanya "Dan kau boleh pergi, silahkan lanjutkan pekerjaanmu dengan hati-hati!"


"Terima kasih tuan"


Roxy pidah dari posisi dukuknya, memposiskan tubuhnya disamping Shera "Mana yang sakit?" Tanyanya dengan memegang tangan kanan shera.


"Bukan yang itu, tapi ini" Shera menunjukan pergelangan tangannya yang terlihat merah "ini panas sekali, lihat kulitku sampai memerah seperti ini"


Roxy mengusap sisa kopi yang masih menempel ditangan Shera dengan menggunakan tisu, namun fokusnya bukan pada sisa kopinya melainkan pada totto bergambar mawar yang terukir di pergelangan tangannya. Tatapannya kini menelisik Shera dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Tinggi, ramping, berkulit putih, rambutnya berwarna coklat bergelombang, dan yang pasti tatto bergambar mawar dipergelangan tangan kirinya. Tidak salah lagi, kecurigaanku memang benar Sheralah pelakunya. Ucap Roxy dalam batinnya.

__ADS_1


"Kenapa menatapku seperti itu, apa ada yang salah dengan penampilanku?" Tanya Shera saat melihat tatapan berbeda Roxy terhadapnya.


"Aahhh tidak, kau sangat cantik. Aku jadi tidak bisa mengalihkan pandanganku" Sahutnya asal.


Shera hanya menggelengakan kepala.


Apa dia habis terbentur sesuatu, kenapa mendengar itu dari mulutnya membuatku merasa geli.


Roxy meraih ponsel dalam saku jasnya, ibu jarinya bergerak mengetikkan sebuah pesan pada seseorang.


Kerja yang bagus, sudah ku transfer bayaranmu. Isi pesan yang Roxy tulis untuk pelayan caffe tadi.


Ya, atas perintah Roxy pelayan tadi sengaja menumpahkan coffe tepat mengenai tangan Shera.


Roxy mulai mencurigai Shera ketika driver onjek online menyebutkan ciri-ciri wanita pengirim paket yang menurutnya sama persis dengan ciri-ciri Shera, namun yang Roxy tau Shera tidak memiliki tatto dan untuk memperkuat duagaannya Roxy menyusun sebuah rencana sederhana dengan melibatkan pelayan caffe tersebut disaat Shera berada dalam toilet.


Siang berganti malam, Delia termenung menatap indahnya cahaya bulan yang terlihat jelas dari balkon kamar yang sudah tidak lagi mereka tempati.


Dibawah sana Gino sedang ketar ketir saat tidak mendapati keberadaan sang istri didalam kamarnya, bakan Gino sudah mencari ke dapur, ruang tamu, ruang keluarga hingga taman namun Delia tidak ada disana.


"De, kau dimana?" Gino sudah mulai frustasi padahal dirinya hanya meninggalkan Delia selama beberapa menit saja untuk membersihkan diri, Gino sampai tidak sadar jika saat ini ia hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya.


Gino bergegas menuju lantai atas berharap Delia ada disana, bersamaan dengan pelayan yang akan menruni anak tangga menuju lantai bawah.


"Apa bibi melihat istriku?"


Hening, tidak ada sahutan. Wanita paruh baya itu hanya mengantupka bibir agar tawa tidak keluar dari mulutnya.


"Kenapa bibi diam saja, apa bibi melihat istriku?" Gino mengulang kembali pertanyaannya dengan sedikit menyentak.


"Ma-maaf tuan, nona ada dibalkon kamar" Tanpa sepatah katapun Gino melangkahkan kakinya menuju balkon.


Delia dikagetkan dengan adanya tangan kekar yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.

__ADS_1


"Aku sampai panik mencarimu, kau malah asik melamun disini" Gino membenamkan wajahnya diceruk leher sang istri.


"Cuaca malam ini sangat terang, dari sini aku dapat melihat indahnya cahaya bulan bertabur bintang" Delia merasakan sekujur tubuhnya terasa merinding saat nafas hangat Gino mengapu kulitnya, bahkan dengan santainya bibir Gino kini mulai menjelajahi lekuan lehernya.


__ADS_2