DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 31


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Delia sudah rapih, hari ini dia berniat pergi ke kampus untuk mengajukan cuti kuliahnya.


"Mau kemana sayang?" Melihat penampilan Delia mom Hera yskin jika menantunya akan pergi.


"Mau kekampus mom, aku ingin mengajukan cuti kuliah" Delia menarik kursi lalu menjatuhkan tubuhnya disana, mengambil sepotong roti dengan selai coklat sebagai menu sarapannya. Tak lama berselang Gino datang dengan setelan kerjanya.


Hening tidak ada pembicaraan selanjutnya, tidak ada yang bersuara hingga sarapan berakhir.


.


.


.


"Aku akan mengantarmu ke kampus" Saat ini Gino dan Delia sudah berada dihalaman rumah.


"Tidak usah, aku bisa pergi sendiri. Lagi pula kau pasti sibuk"


"Tidak sama sekali" Gino membukakan pintu mobil untuk Delia.


Delia tak lagi menolak, ia memilih mengikuti keinginan suaminya. Mobilpun melaju meninggalkan rumah.


.

__ADS_1


.


.


"Stop" Gino dengan reflek menginjak rem.


"Ada apa, bukankah ini masih lumayan jauh?"


"Aku ingin mampir kesana sebentar" Delia menunjuk sebuah toko penjual cake disebrang jalan, entah mengapa saat melewatinya tiba-tiba saja perutnya terasa lapar padahal dirumah ia sudah menghabiskan empat potong roti.


Tanpa menunggu jawaban Gino, Delia keluar dari mobil dan saat akan menyebrang jalan tiba-tiba saja ada sebuah mobil dari arah berlawanan melaju dengan sangat kencang.


"Delia awas!" Gino terbelalak secepat kilat ia berlari kearah Delia saat mobil tersebut akan menghantam tubuh Delia.


Bruuukkkk.....


"Gino" Lirihnya kemudian berlari kearah dimana Gino.


Dengan gemetar di iringi isak tangis Delia meraih tubuh sang suami kedalam pangkuannya "Aku mohon bertahanlah!"


"Ka-Kau tidak apa-apa?" Dengan sisa tenaga yang dimilikinya Gino mengulurkan tangannya meraih wajah Delia.


"Kenapa kau lakukan ini?"

__ADS_1


"A-aku bahagia melihatmu baik-baik saja" Pandangan Gino meremang seiring dengan kesadangnnya yang perlahan mulai menghilang.


Teriakan histeris Delia seketika menggema, seketika suasana jalan tersebut dipenuhi orang-orang. Ada yang berusaha menelpon ambulan ada pula yang hanya menatap mereka dengan tatapan iba.


.


.


.


Dengan langkah tergesa-gesa mom Hera berjalan menuju IGD tempat dimana Gino sedang mendapatkan penanganan.


"Bagaimana keadaannya?" Mom Hera mengusap bahu sang menantu yang sedang berdiri didepan pintu kaca, dimana didalam sana ada putranya sedang mendapatkan penanganan dokter.


Delia meoleh kearah sumber suara tanpa sepatah katapun ia menghambur kedalam pelukan ibu mertuanya. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya, hanya suara isak tangis yang terus keluar.


"Tenanglah semuanya akan baik-baik saja" Dengan lembut dan penuh kasih sayang mom Hera mengusap punggung sang menantu agar memberinya sedikit ketenangan.


Perlahan tangis Delia mulai mereda meninggalkan suara sesegukan.


"Ini semua salahku mom, Gino jadi seperti ini karna menolongku. Harusnya aku yang ada disana bukan Gino" Walau Delia mengatakannya dengan tersendat-sendat namun mom Hera dapat mendengarnya dengan jelas.


Mom Hera membawa Delia kesebuah kursi dan mendudukannya disana "Jangan menyalahkan dirimu nak" Mom Hera menjeda ucapannya, tangannya terulur menyentuh pucuk kepala sang menantu "percayalah Gino melakukan ini karna dia sangat menyayangimu dan tidak ingin kau sampai terluka, kita do'akan Gino semoga dia baik-baik saja!" Seketika mata mom Hera dipenuhi oleh cairan bening.

__ADS_1


Kini Delia larut dalam sebuah rasa penyesalan mengingat sikapnya pada Gino selama ini, walaupun ia selalu bersikap dingin dan tidak peduli terhadapnya namun Gino tetap saja selalu menunjukan rasa cintanya.


Andai waktu bisa diputar kembali ia tidak akan mengacuhkan Gino hanya karna kesalahannya malam itu, namun nasi sudah menjadi bubur Delia hanya bisa meratapi penyesalannya dan berharap tuhan memberikannya waktu agar bisa menggantinya dengan memberikan Gino kebahagiaan dari kasih sayang dan cintanya sebagai seorang istri.


__ADS_2