
"Kenapa tidak juga bisa dihubungi, sebenarnya apa yang terjadi dengannya?"
Sudah satu minggu Delia tidak kekampus. Selama itu pula Daniel terus berusaha menghubunginya namun nihil momor ponsel Delia selalu tidak bisa dihubungi, Daniel samapi kalang kabut memikirkan keadaan sang kekasih.
"Sial" Daniel mengacak rambutnya frustasi "Tidak ada pilihan lain, aku harus menemuinya"
Akhirnya Daniel memutuskan untuk menemui Delia dirumahnya, ia tidak perduli apa yang akan terjadi nanti disana yang ia inginkan memastikan jika kekasihnya dalam keadaan baik-baik saja.
.
.
.
"Tuan, diluar ada seseorang mencari nona Delia" Ucap pengawal pada papa Joy.
Pria paruh baya itu meletakan cangkir teh yang ada digenggamannya keatas meja kemudian ia melirik kearah penjaga keamanan tersebut.
"Suruh dia masuk!"
"Baik tuan"
Tak lama kemudian papa Joy melihat seorang pria muda yang sangat ia kenali berjalan kearahnya.
__ADS_1
"Ada perlu apa kau kemari?" Tanyanya dengan tatapan tajamnya.
"Aku ingin bertemu dengan Delia" Daniel menjawab tanpa rasa takut sedikitpun karna ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi.
"Putriku tidak tinggal disini"
"Apa maksud anda, mana mungkin Delia tidak tinggal disini?"
"Kenapa tidak mungkin, kenyataannya memang seperti itu"
"Anda tidak akan mungkin mengizinkan Delia tinggal sendiri tanpa anda" Karna setau Daniel papa Joy memang tidak pernah bisa jauh dari putrinya apalagi tinggal terpisah rasanya itu tidak mungkin.
"Aku memang tidak akan pernah mengizinkan putriku tinggal seorang diri. Tapi saat ini putriku tidak tinggal sendiri, dia bersama suaminya"
"Lelucon apa lagi yang anda katakan untuk memisahkan kami, apa anda pikir aku akan percaya begitu saja dengan ucapan anda? Tidak akan"
"Terserah kau percaya atau tidak itu bukanlah urusanku, dan jika sudah tidak ada lagi hal yang ingin kau ketahui maka enyahlah dari hadapanku"
Daniel mengepalkan kedua tangannya kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang berkecamuk dalam jiwanya, memang ia tidak begitu saja mudah percaya dengan apa yang diucapkan oleh papa Joy. Namun untuk mengabaikan ucapannya pun rasanya itu tidak mungkin.
.
.
__ADS_1
.
Sejak kejadian malam itu hubungan antara Gino dan Delia semakin menjauh tidak ada lagi tegur sapa diantara mereka berdua, dan saat ini mereka sedang beada dimeja makan menikmati sarapan mereka dengan keheningan hingga suara seorang perempuan mengalihkan perhatian mereka.
"Sayang, Mommy datang" Teriak mom Hera dengan suara menggelegarnya.
Gino melirik kearah sumber suara tampaklah sang mommy sedang berjalan kearahnya dengan sebuah koper kecil ditangannya.
"Mom mau kemana, kenapa bawa koper?" Tanya Gino dengan tatapan herannya.
"Daddymu berangakat ke Jerman katanya ada hal penting yang harus diselesaikan disana, dan mommy sangat kesepian dirumah tanpa Daddymu. Jadi, untuk sementara mom akan tinggal disini sampai Daddymu kembali"
Gino menghela nafas sementara tatapannya mengarah pada Delia seolah sedang meminta persetujuan. Sementara Delia, ia hanya mengedikan bahu sebagai jawaban.
"Baiklah" Jawab Gino kemudian.
Dan mom Hera menerbitkan senyum kemenangannya.
Rencana awal berhasil, kalian tunggu saja rencana selanjutnya......
Mom hera ikut bergabung dengan pasangan suami istri yang tak ada romantis-romantisnya itu, ditatapnya Delia dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mendapat tatapan seperti itu tentu saja membuat Delia salah tingkah, bahkan saat ini tubuhnya mulai terasa merinding dibuatnya.
Ya tuhan kenapa mommynya Gino menatapku seperti itu.
__ADS_1