
"Lupakan saja, lagi pula aku tidak mungkin mengatakan hal yang tak sepantasnya diketahui orang lain"
.
.
.
"Bi, bisa tolong bantu aku membersihkan kamar yang ada dibawah!"
"Baik nona"
Dengan dibantu seorang pelayan akhirnya Delia selesai membersihkan kamar tersebut.
"Akhirnya selesai juga, sekarang tinggal memindahkan barang-barangku dari lantai atas" Gumanya kemudian beranjak menuju lantai atas.
"Nona, kenapa semua barang-barang nona dipindahkan kemari?" Tanya pelayan tersebut.
"Mulai malam ini aku akan tidur disini bi"
Ingin rasanya wanita paruh baya itu bertanya lebih jauh lagi, namun ia tak berani melakukannya.
Mana mungkin suami istri tidur dalam kamar yang terpisah, sebenarnya pernikahan macam apa yang sedang dijalani tuan dan nona. Apa aku harus lapor sama nyonya besar tentang masalah ini?
__ADS_1
Tanpa sepengetahuan Gino dan Delia ternyata Mom Hera selalu mencari informasi tentang mereka dari pelayan tersebut.
.
.
.
Dini hari Gino baru sampai dirumah, pria itu sengaja pulang larut malam bukan untuk menghindar dari sang istri namun rasa bersalahnya membuatnya tak berani untuk sekedar bertatap muka dengan sang istri.
Dengan langkah gontai ia menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai atas, hingga langkah kakinya terhenti begitu sampai didepan pintu. Gino menghela nafas sejenak berharap saat masuk nanti Delia sudah tertidur, ragu-ragu ia memutar gagang pintu dan begitu ia masuk kamar tersebut dalam keadaan kosong.
"Apa mungkin dia dikamar mandi?" Gino meletakan tas kerjanya kemudian menuju lemari hendak mengambil pakaian ganti, begitu pintu lemari terbuka matanya langsung terbelalak mendapati tidak adanya satupun pakaian sang istri disana.
Pikirannya sudah tak menentu, bakan ia sudah berpikir jika Delia pergi dari rumahnya.
Tanpa sepatah katapun Gino menarik tubuh Delia kedalam pelukannya "Maafkan aku, kau boleh menghukumku sesuka hatimu tapi aku mohon jangan tinggalkan aku!"
Delia berusaha melepaskan diri namun Gino semakin erat memeluknya.
"Lepaskan!"
"Tidak akan, sebelum kau berjanji akan tetap selalu bersamaku!" Gino semakin mengeratkan pelukannya, sampai-sampai Delia merasa sesak.
__ADS_1
"Lepaskan! apa kau sadar saat ini aku kesulitan bernafas dan kau bisa membunuhku"
Menyadari hal itu Gino akhirnya melepaskan pelukannya "Maaf aku tidak bermaksud menyakitimu"
Delia hanya memutar bola matanya kemudian berlalu menuju dapur dengan Gino yang terus mengekor dibelakangnya.
Begitu sampai dapur ia membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air mineral lalu meneguknya hingga meninggalkan setengahnya.
Saat akan kembali menuju kamarnya ia dibuat kesal oleh Gino yang terus mengikutinya bagaikan sebuah bayangan.
"Kenapa kau terus mengikutiku?"
"Berjanjilah jika kau tidak akan pergi dari rumah ini!"
Delia mengerutkna keningnya "Kenapa kau berpikir jika aku akan pergi dari rumah ini?"
"Karna aku tidak melihat ada satupun pakaianmu yang tersisa didalam kamarku"
Delia menganga tak percaya, kenapa pria secerdas Gino Abraham bisa punya pikiran sedangkal itu.
"Aku tak sebodoh itu, aku tidak mungkin pergi dari rumah ini setelah apa yang kau lakukan padaku malam itu. Bukankah tujuanmu ingin mengikatku selamanya bersamamu, dan untuk itu aku ucupakan selamat untukmu tuan Gino Abraham sekarang aku sudah terikat denganmu"
"Maafkan aku" Untuk kesekian kalinya Gino mengucapkan kata maafnya namun sepertinya Delia enggan untuk menerimanya.
__ADS_1
Sebisa mungkin Delia menahan airmatanya agar tidak terjatuh, entah mengapa dalam hati kecilnya tak sepenuhnya menyalahkan Gino atas apa yang terjadi malam itu. Walaupun bibirnya berkata benci namun dalam hatinya ada perasaan yang sulit untuk ia artikan.
"Mulai malam ini aku akan tidur dikamar bawah, jadi aku mohon padamu tolong hargai keputusanku"