DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 15


__ADS_3

"Apa kau bilang, sepertinya kau sudah melupakan pemilik yang sesungguhnya" Gino menyahut dengan santainya.


Delia menglela nafasnya dengan kasar, sepertinya akan sedikit sulit mengusir pria itu dari atas tempat tidurnya atau lebih tepatnya tempat tidur Gino yang beralih kepemiliknya "Tapi bukankah kita sudah sepakat tidak akan ada tidur satu ranjang?"


"Itu dulu, mulai malam ini aku menarik kembali kata-kataku dan anggap saja semuanya sudah tidak berlaku lagi"


"Heii mana bisa seperti itu?" Dengan perasaan kesal Delia mendekati Gino , Sungguh ia ingin sekali mencekik pria yang kini tengah berbaring diatas tempat tidur apa lagi melihat senyum menyebalkannya.


"Tentu saja bisa, bukankah tadi sudah ku katakan?"


"Baiklah, kalau begitu biar aku saja yang tidur disofa" Dengan menghentakan kakinya Delia melangkah menuju sofa, lebih baik ia mengalah dari pada tidur satu ranjang dengan pria menyebalkanitu. Namun baru beberapa langkah kakinya berjalan ia merasakan ada pergerakan di belakangnya.


Dengan perasaan yang teramat kesal Delia membalikan tubuhnya hendak memastikan kecurigaannya, dan benar saja kini pria itu tengah berdiri dibelakangnya dan jangan lupakan dengan senyuman menyebalkan yang menghiasi wajah tampannya "Kenapa kau mengikutiku?"

__ADS_1


"Tentu saja aku akan tidur denganmu, dimanapun itu" Ucap Gino dengan wajah santainya.


"Whatt? Kau gila"


"Mungkin bisa dibilang begitu, sekarang tersrah padamu mau pilih mana tidur denganku diranjang yang luas atau disofa yang sempit ini?" Gino yakin kali ini Delia tidak punya pilihan lain selain tidur berbagi ranjang dengannya, mungkin dengan cara ini perlahan Delia akan mulai terbiasa dengan kehadirannya dan ia berharap secara perlahan juga Delia bisa membuka hati untuknya.


Tidak ada pilihan lain lagi bagi Delia selain menuruti keinginan suami terpaksanya, lebih baik berbagi ranjang yang luas dari pada harus berbagi sofa yang sempit. Dengan terpaksa akhirnya Delia naik keatas tempat tidur sebelum membaringkah tubuhnya ia meletakan guling ditengah-tengah sebagai pembatas antara dirinya dan Gino.


Gino hanya menganggukan kepalanya tanda setuju, ia menerbitkan senyum kemenangan dibibirnya kemudian naik ketas tempat tidur. Sebelum membaringkan tubuhnya Gino melepaskan kaos yang melekat pada tubuhnya terlebih dahulu dan kini pria itu hanya bertelanjang dada hingga terpampang jelas tubuh atletisnya dan jangan lupakan perut kotak-kotaknya benar-benar membuat siapapun wanita yang melihatnya akan tergoda.


Tapi tidak dengan Delia, gadis itu menutup mata dengan dengan kedua tanagnnya saat ia melihat sesatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya "Apa yang kau lakukan, cepat pakai kembali bajunya!"


"Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak jika tidak melepaskan pakaian atasku" Sahutnya dengan merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, ia tidak peduli dengan Gadis disampingnya yang terus memintanya memakai kembali bajunya, karna kebiasaannya saat tidur memang seperti ini tidur dengan bertelanjang dada.

__ADS_1


"Tapi aku risih melihatnya"


"Kalau risih tidak usah dilihat, lebih baik sekarang kau tidur ini sudah sangat larut. Dan kau tenag saja aku tidak akan melakukn apapun padamu"


Dengan perasaan was-was Delia ikut merebahkan tubuhnya disamping Gino, selama beberapa saat Gadis itu belum bisa menutup kedua matanya rasa cemas dan khawatir masih mendominasi pikirannya hingga selang beberapa menit ia mulai mendengarkan suara nafas yang teratur artinya pria disampingnya sudah terlelap dalam tidurnya. Dengan sangat hati-hati ia membalikan tubuhnya, dan benar saja pria itu sudah tertidur dengan lelap, ditatapnya wajah Gino dengan sangat intens dan untuk sesaat ia merasa wajah itu seperti tidak asing baginya, lama Delia memandangi wajah suaminya hingga tak berselang lama ia pun muali tertidur dan masuk kealam mimpi.


*


*


*


Mentari mulai memancarkan sinarnya pertanda pagi hari telah datang. orang-orang sudah mulai melakukan aktifitasnya namun berbeda dengan dua insan ini, mereka masih betah berada diatas tempat tidur dibawah satu selimut. Entah karna nyaman atau bagaimana hingga waktu menujukan pukul tujuh pagi dua anak manusia itu masih belum juga terbangun.

__ADS_1


__ADS_2