
Disebuah caffe dekat kampus
Daniel dan Delia sudah selesai dengan makan siang mereka, Daniel membelai lembut pipi sang kekasih.
"Kau tau, aku ingin sekali memilikimu" Ucapnya dengan lembut seraya mengecup tangan sang kekasih.
"Aku juga, tapi kau tau sendiri kalau papa tidak pernah merestui kita" Lirihnya seiring dengan cairan bening yang mulai menggenangi kedua kelopak matanya.
Daniel menghela nafas, ia tau sampai kapanpun hubungan mereka tidak akan mendapatkan restu dari masing-masing orang tua mereka. Mengingat papanya yang sering berseteru dengan papa Joy didunia bisnis.
"Bagaimana jika kita kawin lari saja!" Sontak saja perkataan Daniel membuat sesorang disana yang sedang mencuri dengar mengepalkan tangannya.
"Jangan bercanda Daniel!" Sahut Delia dengan tawa hambarnya.
"Aku serius, sudah lama aku ingin mengatakan ini padamu. Mungkin hanya ini jalan satu-satunya supaya kita bisa saling memiliki, bahkan tiga tahun pun tidak mampu meluluhkan kerasnya hati mereka"
Perlahan Delia melepaskan genggaman tangannya "Maaf Daniel aku tidak bisa melakukan hal itu"
"Kenapa, apa kau tidak percaya pada cintaku?"
"Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak ingin mengecewakan papa" Sepertinya bukan hanya sang papa yang menjadi alasnnya, namun ada hal lain yang akhir-akhir ini mulai mengganggu pikirannya. Entah kenapa satu bulan berada didekat Gino perlahan mampu menggoyahkan perasaannya, namun sebisa mungkin ia berusaha menampiknya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" Tampak jelas raut wajah Daniel penuh dengan kekecewaan.
"Biarlah seperti ini dulu, kita tunggu sampai mereka memberikan restunya walau itu akan sangat sulit" Delia berusaha meyakinkan sang kekasih walau sebenarnya ia sendiri tidak yakin "Sudah sore, aku harus pulang" Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
"Baiklah, ayo!" Daniel berdiri dari duduknya di ikuti oleh Delia.
"Daniel kau tidak perlu mengantarku, aku sudah memesan taxi online"
"Apa kau yakin?"
"Ya, sebentar lagi pasti taxinya datang"
"Baiklah, aku akan menemanimu disini sampai taxinya datang"
Cup.......
Daniel mengecup sekilas bibir kekasihnya, dan hal itu membuat sesorang yang berada dalam mobilnya mengeraskan rahangnya denagn wajah yang merah padam menahan amarahnya. Dengan perasaan amarah yang sudah sampai ubun-ubun pria itu menginjak pedal gas mengendari mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"Hati-hati sayang"
Delia hanya menganggukan kepalanya kemudian masuk kedalam taxi online yang dia pesan, mobil pun melaju meninggalkan caffe.
__ADS_1
.
.
.
Setibanya dirumah Delia dikagetkan dengan Gino yang tiba-tiba menariknya dengan kasar, tanpa sepatah katapun pria itu menyeret istrinya menuju kamar mereka bahkan pria itu tidak peduli dengan berontakan sang istri yang ingin ia lakukan saat ini adalah menghukumnya karna sudah berani mengizinkan pria lain menyentuhnya bahkan Delia tidak menolak saat Daniel mengecup bibirnya.
"Gino Lepaskan! apa yang kau lakukan, kenapa kau menyeretku?" Sekuat tenaga Delia berusaha melepaskan cengkraman ditangannya namun sia-sia, bukannya lepas Gino yang sudah seperti kesetanan semakin mencengkramnya dengan kuat.
Dengan perasaan tersulut emosi Gino membawa tubuh Delia kebawah guyuran air shower bahkan bahkan pria itu menggosok tubuh istrinya dengan kasar.
"Aku tidak ingin ada bekas pria lain ditubuhmu ini" Ucapnya dengan terus menggosok tubuh sang istri.
Delia menangis menerima perlakuan kasar Gino, ini untuk pertama kalinya ia melihat kemarahan suaminya.
"Apa maksudmu?" Gadis itu belum mengerti apa maksud ucapan sang suami.
"Apa kau tidak sadar kesalahan apa yang kau lakukan?"
"Kesalahan apa?"
__ADS_1
Bukannya menjawab Gino malah menarik tengkuk istrinya, menyatukan bibirnya dengan sang istri secara kasar dan menuntut, dengan tenaga yang dimilikinya Delia berusaha melepaskan pagutan dibibirnya namun tentu saja tenaganya kalah jauh ia tak cukup kuat untuk bisa melepaskan diri.