
"Ka-Kau..." Ucap Delia terbata, ia begitu terkejut melihat sosok yang selama ini dihindarinya saat ini ada dihadapannya, apalagi tanpa sepatah katapun sosok tersebut kini memeluknya.
"Kemana saja kau selama ini, kenapa sulit sekali menghubungimu. Kau tau? rasanya aku hampir gila karena mu" Karna terlalu bahagia bisa melihat sosok wanita yang begitu ia rindukan Daniel sampai tak kuasa menahan air matanya, ya sosok tersebut adalah Daniel pria yang selama tiga tahun ini menjadi kekasih Delia.
Delia sendiri masih diam mematung, hingga didetik berikutnya ia baru tersadar dan segera mendorong tubuh Daniel agar melepas pelukannya, namun bukannya terlepas Daniel justru semakin mempererat pelukannya.
"Daniel, lepas!"
"Kenapa, apa kau tidak merindukan aku?" Disaat Daniel semakin erat merengkuh tubuh Delia, disaat itu pula dia tersadar jika ada seseuatu yang berbeda dari tubuh kekasihnya. Perlahan Daniel melepas pelukannya, netranya menelisik tubuh Delia dan betapa terkejutnya ia ketika melihat perutnya yang membuncit dan Daniel bukan orang bodoh yang tidak mengerti keadaan Delia saat ini.
Jika ditanya bagaimana persaannya, tentu saja Daniel saat ini merasa hancur sehancur sehancurnya melihat wanita yang begitu ia cintai kini telah berbadan dua disaat masih berstatus sebagai kekasihnya, karna memang disini Delia belum memutuskan hubungannya dengan Daniel.
"Tidak, ini tidak mungkin. Aku pasti hanya sedang bermimpi, Deliaku tidak mungkin menghianatiku" Lirihnya, bahkan Daniel masih berharap apa yang dilihatnya saat ini hanyalah mimpi dan dia ingin agar segera terbangun dari mimpinya.
"Ini nyata Daniel, aku memang sudah mengkhianatimu. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga cintamu" Bagaikan ditusuk ribuan belati, apa yang Delia ucapkan seakan mampu membunuhnya saat itu juga.
"Jadi apa yang dikatakan papamu memang benar?" Daniel ingat betul dengan apa yang papa joy katakan waktu itu ketika ia nekat menemui Delia kerumahnya, namun bodohnya Daniel saat itu tidak percaya dengan apa yang dikatakan papa joy, besarnya rasa cintanya terhadap Delia telah mengalahkan rasa curiganya.
"Maaf...." Lirih Delia dengan terisak, meski ia tau maafnya mungkin takan mampu menyembuhkan luka Daniel saat ini.
__ADS_1
Daniel tertawa sinis mendengar kata maaf yang terucap dari Delia, nyatanya cintanya yang selama ini ia perjuangkan selama tiga tahun lamanya hanya berbuah pengkhianatan yang berujung sia sia. Janji akan selalu bersama dalam suka maupun duka dan berjuang untuk mendapat restu orang tua kini hanyalah tinggal cerita.
"Kenapa tidak kau katakan dari awal?" Jika saja Delia bisa jujur mungkin rasa sakitnya takan sedalam ini.
"Maaf, aku hanya tidak ingin melukaimu" Kesal dengan jawaban Delia, Daniel pun mencengkram pergelangan tangannya dengan sedikit kuat hingga Delia meringis kesakitan.
"Takut melukaiku kau bilang, apa kau pikir sekarang aku tidak terluka?" Untuk pertama kalinya selama tiga tahun ini Daniel menyentak Delia "Hampir setiap malam aku tidak bisa tidur karna khawatir memikirkan keadaanmu, sementara disini kau sedang bahagia menghabiskan malam mu dengan suamimu"
Daniel yang tersulut emosi menghempas tubuh Delia sedikit kasar, hampir saja Delia jatuh tersungkur jika saja tidak ada yang menahannya.
"Apa yang kau lakukan, berani sekali kau menyakiti istriku?" Ingin sekali rasanya Gino lenyapkan pria dihadapannya karena hampir saja melukai istri dan calon anaknya jika saja ia tidak datang tepat waktu. Belum lama Gino sampai dikantor, anak buahnya yang ia tugaskan untuk menjaga Delia menghubunginya jika ada seorang pria yang datang kerumah Netta, Gino yang tau kemungkinan pria itu Daniel pun segera meninggalkan kantor dan ternyata dugaannya memang benar.
Daniel mengepalkan tangannya dengan kuat ketika pria yang baru datang beberapa menit yang lalu menyebut Delia sebagai istrinya, tanpa sepatah katapun ia melayangkan bogem mentahnya tepat mengenai wajah Gino, bukan hanya sekali Daniel melakukannya berkali kali hingga wajah Gino lebam bahkan mengalir darah segar dari sudut bibirnya.
"Cukup, aku mohon hentikan!" Daniel akan kembali melayangkan kepalan tinjunya, namun tertahan diudara disaat Delia mengahalnginya bahkan saat ini tubuhnya siap jadi tameng untuk Gino. Sesak sekali rasanya hati Daniel, dihadapannya kini wanita yang begitu ia cintai tengah memeluk pria lain.
"Aaarrrrrggggggghhhhhhh"
Keributan yang terjadi didalam rumah samapi terdengar kehalaman belakang, Netta yang merasa khawatirpun segera berlari masuk kedalam rumah. "Ada apa ini, apa yang terja_?" Netta tak lagi melanjutkan kata katanya begitu melihat dua sosok pria yang kini berada dirumahnya, Netta paham betul situasi apa yang saat ini berada diantara mereka.
__ADS_1
Netta menelan susuah payah salivanya, saat ini Daniel sedang melangkah kearahnya dengan tatapannya yang setajam itu.
"Ini yang kau bilang tidak tau?" Sungguh Daniel merasa telah dikhianati oleh dua orang sekaligus, bukankah kemarin Netta bilang sudah lama hilang kontek dengan Delia? Tapi nyatanya saat ini Delia ada dirumahnya.
"Ma-maaf aku tidak bermak_"
Tak ingin mendengar lagi penjelasan yang mumgkin akan sama jawabannya Danielpun segera menyelanya "Sudahlah, kalian berdua sama saja".
Netta dapat melihat dalamnya luka dan kekecewaan dimata Daniel, sungguh melihatnya ia merasa sakit. Untuk sesaat ruangan itu hening hanya terdengar isak tangis Delia yang terdengar pilu, tak pernah terbayangkan sebelumnya niatnya untuk menghabiskan waktu bersama sahabatnya akan berakhir seperti ini, jika ditanya apa Delia sakit melihat Daniel saat ini? Tentu saja jawabannya iya, bukan karna masih mencintainya tapi lebih pada rasa bersalahnya karna telah melukai perasaannya.
Dengan diselimuti perasaan bersalah Delia memberanikan diri menatap pria yang pernah menemaninya selama tiga tahun itu "Daniel, maafkan aku. Aku_"
"Cukup, jangan katakan apapun lagi!" Demi apapun untuk saat ini Daniel tidak ingin mendengar apapun itu, karna baginya setiap kata yang akan Delia ucapkan hanya akan semakin membuatnya sakit. Dengan hati penuh luka Daniel melangkahkan kakinya keluar dari rumah Netta, membawa kenyataan pahit yang bahkan dalam mimpi saja Daniel enggan untuk merasakannya.
"Aaaarrrrgggghhhh.... " Daniel meraung memukul setir mobilnya "Bodoh, kau benar benar bodoh Daniel". Emosinya tidak dapat dikendalikan, tidak peduli dengan keselamatannya sendiri Daniel mengemudi bagai orang kesetanan, untung saja saat ini kondisi jalan sepi pengendara jika tidak mungkin sudah banyak yang mengumpatnya.
Entah kemana tujuannya saat ini, Daniel hanya melajukan kendaraannya tanpa tau kemana arah tujuannya. Selama hampir tiga puluh menit Daniel menysuri jalanan tanpa arah, hingga kemudian terhenti karna poselnya terus berdering, meski Daniel sempat mengabaikannya namun si penelpon tidak menyerah dan terus menghubunginya lagi dan lagi.
Meski merasa terganggu pada akhirnya Daniel menjawab panggilan tersebut "Ada apa ma?"
__ADS_1
"Daniel, kamu dimana nak? Papa masuk rumah sakit, cepat kamu kesini sekarang juga!" Terdengar suara mamanya begitu panik, tanpa sepatah katapun Daniel memutuskan panggilannya dan segera melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.
🌺Happy reading, jangan lupa Like Vote dan dukukangannya. Terima kasih 🌺