DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 29


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?"


"Daniel" Wanita paruh baya itu mengahambur kepelukan sang putra, mencururahakan kesedihannya "Dokter bilang sudah lebih baik, sebentar lagi bisa dipindahkan keruang perawatan"


Daniel menghela nafas dengan lega saat mendengar penjelasan mamanya, ia melepaskan tubuh sang mama dari pelukannya kemudian berjalan menuju ruang IGD. Dari pintu kaca ia dapat melihat seorang wanita sedang terbaring lemah tak berdaya dengan wajah pucat pasi.


Ia adalah Shelina wanita berusia 22 tahun yang merupakan saudara sepupunya, sejak kecil Shelina sudah menjadi yatim piatu kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan dan sejak saat itu ia tinggal dan diasuh oleh kedua orang tua Daniel. Dan mereka memperlakukan Shelina dengan sangat baik layaknya putri mereka sendiri, usia Shelina dan Daniel yang hanya terpaut jarak beberapa bulan saja membuat hubungan keduanya sangat dekat layaknya seorang sahabat.


"Kenapa bisa terjadi lagi?, bukankah sudah ku katakan agar terus mengawasinya!"


"Maafkan mama nak, mama tadi keluar sebentar dan saat mama tiba dirumah dia sudah tak sadarkan diri. Dokter bilang dia mengalami operdosis karna terlalu banyak menggunakan obat penenang"


Daniel mengepalkan kedua tangannya, membayangkan betapa tersiksanya Shelina selama ini membuat darahnya mendidih "Ini semua karna laki-laki biadab itu"


Satu tahun lalu Shelina menikah dengan seorang pengusaha kaya raya, namun hal itu tak serta merta menjamain kebahagiannya. Selama menyandang status sebagai seorang istri ia hanya mendapatkan kekerasan dari suaminya hingga membuatnya trauma dan kerap kali berusaha mengakhiri hidupnya sendiri.


.


.

__ADS_1


.


"Sayang, kenapa tidak istirahat saja dikamar?" Tanya Mom Hera begitu mendapati Delia sedang berjalan kearahnya.


"Bosan mom" Delia menelisik kesetiap sudut ruangan mencari sosok yang sedang ia hindari "Gino mama mom?" Ragu-ragu ia menanyakan keberadaan suaminya.


"Sudah berangakat dari tadi, Roxy bilang ada rapat penting. Mereka memang benar-benar satu paket, dalam urusan pekerjaan mereka sangat pekerja keras tapi dalam masalah percintaan mereka beruda sama-sama payah"


Delia hanya menanggapi ocehan mertuanya dengan sebuah senyuman "Bukankah tadi mom bilang akan pergi, lalu kenapa mom belum berangkat?"


"Gino melarang mommy, dia tidak ingin kau sendirian dirumah"


"Kau belum tau saja bagaimana suamimu, mana percaya dia pada orang luar"


Delia termenung, ia memang belum tau bagaimana Gino dan seperti apa sifatnya dan banyak hal yang belum ia ketahui tentang suaminya.


.


.

__ADS_1


.


"Sejak tadi kau hanya melamun bahkan saat rapatpun kau terlihat tidak berkonsentrasi, apa sampai sekarang dia belum bisa memaafkanmu?" Seloroh Roxy pada bos sekaligus sahabatnya.


"Sepertinya dia mengalami trauma karna perbuatanku" Jawaban frontal yang diucapkan Gino mampu menbuat Roxy mengulum bibir menahan tawanya.


"Kenapa, apa aku terlihat lucu?"


"Aahh tidak, hanya saja aku merasa aneh. Bukankah seharusnya malam pertama itu memberi kesan yang indah dan tak terlupakan, tapi kau justru memberinya trauma yang tak terlupakan"


"Sialan kau"


"Heii jangan marah, aku hanya bicara kenyataan"


"Lebih baik kau diam tidak usah berbicara, atau aku akan mencekikmu!"


Tak ingin mendapatkan amukan dari sahabat sekaligus bosnya Roxy memilih meninggalkan ruangan tersebut sebelum Gino benar-benar mencekiknya.


Gino melirik arloji yang melingkar dipergelangan tangannya, ini sudah waktunya pulang namun rasanya Gino enggan meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2