
"Aku mohon maafkan aku" Untuk yang kesekian kalinya Shera memohon maaf atas perbuatannya "Aku akan melakukan apapun asal kau mau memaafkanmu!"
Ada perasaan iba dihati Delia ketika melihat Shera yang bersimpuh dikakinya, Delia bukanlah wanita pendendam sekalipun ia hampir celaka karna Shera namun ia tetap akan memaafkannya.
"Aku sudah memaafkan mba Shera, sekarang mba berdiri jangan seperti ini!" Delia merengkuh tubuh Shera agar wanita itu tak lagi bersimpuh dikakinya, sungguh Shera merasa kehilangan muka dihadapan Delia. Setelah apa yang dia lakukan dengan begitu mudahnya Delia memaafkannya, andai Shera bisa mengulang waktu ia akan memilih tidak kembali ke Indonesia dengan begitu semuanya akan baik-baik saja.
Jika Delia masih bisa memaafkan kesalahan Shera namun lain halnya dengan Gino, tidak semudah itu memaafkan siapapun orangnya yang telah berani menyakiti wanitanya "Roxy, bawa wanita ini keluar dari rumahku. Aku muak melihatnya dan mulai besok kau tidak usah ke kantorku, enyahlah dari kehidupanku!"
"Gino" Delia menatap Gino dengan penuh permohonan, berharap sang suami bisa memberikan maafnya untuk Shera.
Namun keputusan Gino tetap sama, sekalipun kini sang istri tercinta yang tengah memohon tetap takan merubah apapun "Mungkin kau masih bisa memaafakannya tapi tidak denganku"
"Tapi tidak terjadi apa-apa denganku, bisakah kau memaafkan mba Shera untukku"
Gino menghela nafas, tidak habis pikir dengan permintaan istrinya. Kenapa Delia bisa bersikap sebaik itu memohon untuk seseorang yang jelas-jelas telah berbuat jahat padanya "Sekali tidak tetap tidak, berhentilah memohon untuknya karna wanita jahat sepertinya tidak pantas menerima kebaikanmu"
Deg
Ucapan Gino terasa menghimpit dada Shera, sekarang tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menangis meratapi segala penyesalannya. Melihat suasana yang semakin tidak memungkinkan Roxy pun membawa Shera pergi dari rumah sahabat sekaligus bosnya, awalnya Shera menolak pergi sebelum mendapat maaf dari Gino namun setelah Roxy memberinya pengertian akhirnya Shera menurut.
Dengan perasaan sedihnya Delia menatap punggung Shera yang semakin menjauh hinggga menghilang dibalik pintu "Kasihan mba Shera"
__ADS_1
Gino yang mendengar gumaman sang istri sama sekli tidak memperdulikannya, ia memilih beranjak menuju kamar.
"Kau marah padaku?" Delia menyandarkan kepala dibahu kokoh sang suami, sejak tiba dikamar suaminya hanya diam seribu bahasa tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya.
"Tidak, untuk apa aku marah padamu. Aku hanya tidak habis pikir denganmu, kenapa kau bisa memaafkannya dengan begitu mudah"
"Mba Shera sudah menyesali perbuatannya, lalu untuk alasan apa aku tidak memaafkannya. Jadi aku mohon urungkan niatmu untuk melaporkannya pada pihak berwajib!" Delia menatap lekat manik hitam sang suami, beberapa saat lalu saat Delia baru memasuki kamar dia sempat mendengar sang suami tengah berbicara dengan seseorang lewat sambungan telpon dan memintanya segera menyerahkan bukti laporan kejahatan Shera pada pihak yang berwajib.
"Tapi aku tidak bisa sebaik dirimu, dia bersalah dan pantas baginya mendapatkan hukuman atas perbuatannya"
"Percayalah saat ini mba Shera telah mendapatkan hukuman atas perbuatannya sendiri, jadi untuk apa lagi kita menghukumnya. Sudah cukup Elena saja yang berakhir dijeruji besi karna telah dibutakan oleh cintamu"
"Salah mereka sendiri, kenapa harus dibutakan oleh cinta"
"Dia bahkan tidak sadar jika dia telah dibuat buta oleh cinta" Delia bergumam dengan mengerucutkan bibirnya, hal itu membuat Gino merasa gemas hingga ia menarik Delia ke pangkuannya.
Gino menangkup wajah Delia yang kini tengah duduk manis dipangkuannya "Dengar, jangan samakan aku dengan mereka. Caraku menikahimu memang tidak biasa tapi disini aku tidak melakukan kejahatan pada kekasihmu aku hanya memintamu secara paksa, itu saja"
"Ya, dan kau adalah pria tua yang pemaksa" Jarak usia Keduanya memang terpaut juah, Gino yang sudah berusia 32 tahun sedangakn Delia baru berusia 20 tahun. Tawa Delia pun pecah ketika ia mengingat saat diawal pernikahan, kata-kata itu kerap kali ia ucapkan jika sedang kesal pada suaminya.
"Dan kau selalu dibuat melayang oleh pria tua ini"
__ADS_1
Delia berkata tidak namun bersmaan dengan kepalanya yang mengangguk wajahnya kini sudah bersemu merah, tidak dapat Delia pungkiri setiap permainan yang Gino lakukan memang selalu memabukan hingga membuatnya seakan terbang melayang dan membayangkannya saja membuat Delia ingin merasakannya kembali.
Gelagat yang ditunjukan Delia semakin membuat Gino gemas, otak jailnya mulai beraksi untuk mengerjai sang istri. Gino menyusupkan tangannya kedalam pakaian Delia, posisi Delia yang saat ini berada dipangkuannya semakin memudahkan tangannya untuk menjelajah bahkan kini ia sudah berhasil melepaskan pengait b*a yang menutupi dua benda favoritnya.
"Kenapa berhenti?" Setelah berhasil membuat Delia terbakar ga*rah kini dengan santainya Gino merapikan kembali pakaian sang istri yang sudah hampir tebuka karna ulah tangan nakalnya, hal itu tentu saja membuat Delia frustasi setelah hampir dibuat melayang kini Gino menjatuhkannya dari kayangan.
"Tidak usah dilanjutkan, percuma jika tidak membuatmu melayang" Dalam hatinya kini Gino sedang tertawa melihat wajah frustasi Delia, kini ia ingin melihat sejauh mana Delia menginginkan dirinya.
"Tidak bisa, kau sudah memulainya tidak akan ku biarkan kau berhenti tanpa mengakihirinya" Ucap Delia dengan suara yang dibuat sensual sengaja agar Gino menginginkannya, Delia tidak tau saja jika Gino sejak tadi sudah mati-matian menahan ha**atnya.
Diluar dugaan Gino, ia pikir Delia takan seberani itu nyatanya Gino salah. Kini dengan agresifnya tangan Delia menjelajahi tubuhnya, sesuatu yang membuat Gino tercengang namun tentu saja begitu menyenangkan. Untuk pertama kalinya ia merasa di inginkan, dengan gerakan cepat Gino merubah posisi Delia dibawah kuasanya.
"Biarkan aku diatas" Pinta Delia dengan nafasnya yang sudah memburu.
"No, kau sedang mengandung dan itu tidak akan aman untuk baby kita"
Seperti biasa Gino selalu melakukannya dengan sangat hati-hati, bagai ungkapan pribahasa pelan tapi pasti. Sore itu mereka mengarungi indahnya lautan asmara, Gino bagaikan nahkoda yang tengah melajukan kapalnya menuju titik tujuan pelayaran mereka.
Tiada hal yang lebih indah dari rasa cinta, mencintai dan dicintai seseorang dengan tulus adalah anugerah terindah dalam hidup setiap insan, siapa yang menduga jika seiring dengan berjalannya waktu rasa benci bisa berubah menjadi cinta. Begitupun dengan Delia, diawal pernikahannya Delia begitu membenci Gino. Namun dengan cinta dan ketulusan yang Gino berikan perlahan mampu menumbuhkan benih cinta dihatinya, apalagi kini telah tumbuh janin dirahimnya yang akan semakin mempererat hubungan cinta dan kasih sayang antara mereka.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
**Hai para reader bantuannya dong untuk kalian yang menyukai karyaku, jangan lupa πβ€π· Vote and comentnya.
Salam manis melebihi madu, terima kasih untuk kalian yang masih setia dan selau menunggu kelanjutan ceritaku. Semoga terhibur ππππ**