
"Ada apa?" Tanya mama Diana begitu Daniel menghentikan langkahnya.
"Ah tidak ada apa apa" Daniel sedikit mengulas senyumnya, seolah menjelaskan pada sang mama jika semuanya baik baik saja. "Apa itu Delia? Ah tidak mungkin itu dia, aku pasti salah mengenalinya" Lanjutnya kemudian namun hanya dalam hati.
Sedangkan didalam mobil sana Gino menggenggam erat tangan Delia untuk meyakinkan wanitanya jika semuanya akan baik baik saja, dan kemudian Gino pun melajukan kendaraannya meninggalkan pemakaman tersebut, namun belum juga setengah perjalanan Gino sudah dibuat panik saat tiba tiba saja Delia merasakan sakit diperutnya.
"Aaww, sakit sekali" Delia terus meringis dengan tangannya yang terus memegangi bagian perut bawahnya.
"Sayang tenanglah jangan panik, kita kerumah sakit sekarang!" Yang panik dirinya namun Delia yang disuruh tenang "Apa anakku akan lahir sekarang, tapi bagaimana mungkin usia kandungannya kan baru jalan delapan bulan" Gino terus membatin, perasaannya jadi was was takut sekali jika bayinya akan lahir prematur.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua puluh menit merekapun sampai dirumah sakit terdekat, dan selama proses pemeriksaan berlangsung Gino terus mondar mandir layaknya setrikaan hingga baru berhenti ketika seorang dokter wanita keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?"
"Kondisinya sudah mulai membaik, saya sarankan agar istri anda jangan terlalu banyak pikiran yang bisa menyebabkan stres. Itu sangat berbahaya untuk kehamilannya, dan bisa mengganggu pertumbuhan janin. Tapi anda tidak usah khawatir beruntung istri anda cepat mendapat penanganan sehingga tidak terjadi sesuatu yang serius"
"Baik dok, terima kasih!" Gino menghela nafas dengan lega saat dokter mengatakan istrinya dalam kedaan baik baik saja, sungguh ia tidak sanggup untuk sekedar membayangkan saja andai benar terjadi sesuatu dengan istri dan calon anaknya.
"Sama sama"
Setelah mendapat izin dari dokter, Ginopun masuk kedalam untuk melihat keadaan Delia. "Apa masih terasa sakit?" Gino mengusap perut Delia kemudian ia mengecupnya "Jagoan Daddy, jangan buat mommy kesakitan seperti ini. Mommy dan daddy menanti kehadiranmu nak, tumbuhlah dengan baik diperut mommy!"
Tak terasa airmata Delia menetes, ada sekeping penyesalan dihatinya hanya karna larut dalam rasa bersalah ia hampir membahayakan calon anaknya dan bahkan kemungkinan terburuknya kehilangan. Beruntungnya Delia karna Gino tak sedikitpun menyalahkannya "Maaf" Delia terisak dengan menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Hey, kenapa minta maaf?" Gino menangkup kedua sisi wajah Delia agar bisa bertatapan dengannya "Sayang, kenapa menangis? Lihat! Semuanya baik baik saja, tidak terjadi sesuatu pada jagoan kita"
"Ini semua salahku karna akhir akhir ini terlalu banyak yang aku pikirkan tapa memikirkan akibat apa yang akan terjadi pada anak kita"
Berusaha menenagkan sang istri Ginopun merengkuh tubuh sang istri kedalam pelukannya "Sayang tenanglah, jangan menyalahkan diri sendiri. Kita lupakan hal buruk yang terjadi, mari mulai semuanya dari awal dengan kebahagiaan"
Larut dalam hangat dan lembutnya dekapan sang suami tak butuh waktu lama bagi Delia untuk menemukan ketenangan "Aku mencintaimu" Hanya kata itu yang terucap dari bibir Delia hingga membuat Gino terenyuh mendengarnya, tak terasa airmata kini sudah jatuh dari kedua sudut matanya.
"Katakan sekali lagi!" Gino semakin mempererat rengkuhannya, demi apapun rasanya saat ini sedang berada dipuncak kebahagiaan, untuk pertama kalinya ia menerima ucapan cinta dari istrinya dan rasanya sungguh sebahagia itu.
"Aku mencintaimu"
"Katakan lagi!"
Bagaikan dikasih hati minta jantung, Gino terus meminta Delia agar mengulangnya lagi dan lagi hingga membuat Delia kesal sendiri dan berakhir memberikan cubitan kecil dipinggang suaminya.
"Tau aahh, kamu nyebelin" Delia mengerucutkan bibirnya pertanda sedang kesal.
Gino terkekeh melihat istrinya yang terlihat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini "Kau sungguh menggemaskan, rasanya aku ingin sekali memakanmu saat ini juga"
Tentu saja Delia tau apa maksud perkataan suaminya, bagaimana bisa Gino berpikir seperti itu sedangkan saat ini mereka berada dirumah sakit "Tidak ya, jangan berpikir macam macam ini rumah sakit".
"Sayang kenapa kau setegang itu, santai saja aku pun tak segila itu. Bagaimana mungkin aku akan melakukannya disaat kondisimu seperti ini"
__ADS_1
Aahh syukurlah Delia dapat bernafas dengan lega, semula ia sudah berpikir yang tidak tidak takut jika suaminya akan melakukan yang iya iya disini.
Hari sudah mulai malam menampakan rembulan dengan sinarnya yang terlihat terang benderang. Dan sesuai anjuran dokter, malam ini Delia masih berada dirumah sakit guna melakukan perawatan walau Delia sendiri sudah berusaha menolak dengan alasan keadaannya baik baik saja tetap tidak membuat Gino luluh untuk menuruti keinginannya.
"Ayolah sayang aku tidak betah disini, kita pulang saja ya!" Untuk yang kesekian kalinya Delia terus merengek, berbagai rayuan telah ia coba namun hasilnya tetap sama.
"No, kamu boleh pulang jika sudah mendapat izin dari dokter"
"Tapi aku...."
Delia tak lagi melanjutkan protesnya, karna saat ini Gino telah membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman "Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi" Ucapnya setelah melepas ciumannya.
"Sekarang istirahatlah! Aku akan membersihkan diri dulu" Ginopun berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, setelah beberapa menit Gino keluar dengan hanya mengguanakan handuk yang melilit dipinggangnya. Tubuh atletisnya, rambut basahnya benar benar mampu menyejukan mata Delia, bagaikan tersihir Delia seolah enggan untuk mengalihkan tatapan matanya.
Sadar sang istri kini tengah menatapnya Ginopun dengan jahilnya menggoda "Jangan menatapku begitu, nanti kau menginginkannya"
Tersadar, Delia segera mengalihkan pandangan matanya "Aku tidak semesum itu, kamu juga bukannya ganti baju malah main ponsel"
"Aku akan pakai baju setelah kau puas mamandangnya"
"Tapi aku risih melihatnya" Kebohongan yang nyata, karna sesungguhnya Delia sangatlah terpesona. Namun sangatlah malu jika ia harus mengakuinya.
Gino langsung menghentikan aktifitas jarinya yang tengah sibuk dengan ponselnya, pria itu menyeringai penuh arti kemudian berjalan mendekat kearah sang istri. Setelah berada dihadapan Delia, dengan santainya Gino melepas handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya yang mana hal itu membuat Delia terlonjat kaget, hampir saja ia akan berteriak jika Gino tidak membungkamnya.
__ADS_1
"Tuan, ini pakaian yang anda min...." Mata Roxy terbelalak melihat apa yang kini ada dihadapannya. "Gino sialan, biasa-bisanya dia akan melakukannya disini" Dalam hati Roxy mengumpat kelakuan bos sekaligus sahabatnya itu, tentu saja siapapun yang melihat pasti akan mengira jika mereka akan melakukan sesuatu yang iya-iya.
Delia sudah malu sendiri, sementara Gino tak menujukan reaksi apapun dengan santainya ia memakai kembali handuknya dan berjalan kearah Roxy untuk mengambil pakaian Ganti yang ia minta beberapa saat lalu melaui pesan singkat "Lain kali kalau mau masuk ketuk pintu dulu, kalau saja aku tidak sedang bahagia sudah aku potong gajimu 50%"