DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 23


__ADS_3

"Tunggu!"


Delia menghentikan langkahnya, ia menatap tajam pria yang kini tengah mencengkram pergelangan tangannya.


"Kau mau kemana?" Tanya Gino dengan selembut mungkin, ia mengerti perbuatannya semalam pasti menorehkan luka bagi sang istri.


"Bukan urusanmu, dan tolong lepaskan tanganku!"


"Maaf" Lirihnya kemudian melepaskan cengkramannya dari tangan Delia.


"Ingat tuan Gino Abraham, bukankah sudah aku katakan dari awal walaupun kau suamiku bukan berarti kau bisa menyentuhku. Dan kaupun menyetujui syarat yang ku berikan waktu itu dan saat itu aku berpikir jika kau adalah laki-laki yang baik, tapi ternyata aku salah kau bahkan sama sekali tidak mimikirkan perasaanku. Kau merenggutnya tanpa seizinku, saat itu kau memperlakukanku layaknya sorang ****** yang harus memuaskamu" Deliapun menangis sejadi-jadinya.


Sesak, itulah yang dirasakan Gino saat ini. Andai saat itu ia bisa mengendalikan amarahnya mungkin hal itu tidak akan terjadi.


"Aku mohon maafkan aku" Gino berusaha meraih tubuh sang istri.


"Sudah ku katakan, JANAGAN SENTUH AKU!" Ucapnya lalu pergi begitu saja menuju lantai dua meninggalkan Gino dengan perasaan sesalnya.


.


.

__ADS_1


"Kenapa kau sendiri, mana Delia?" Sudah sejak tadi Daniel mencari sang kekasih namun tak juga menemukannya, hingga saat betemu dengan Netta pria itu langsug menanyakan keberadaan sang kekasih yang sangat ia rindukan.


"Entahlah, sejak tadi pagi aku berusaha menghubunginya tapi nomor ponselnya tidak dapat tersambung"


Daniel tidak bisa lagi menahan rasa khawatirnya, ia meraih benda pipih yang ada dalam saku celananya kemudian menghubungi nomor sang kekasih dan benar saja tidak dapat tersambung.


"Bagaimana" Tanya Netta harap-harap cemas.


"Tidak aktif"


"Tenanglah, Delia pasti baik-baik saja. Kau tau sendirikan bagimana Delia sangat dijaga oleh papanya?"


Delia betapa beruntungnya kamu bisa dicintai oleh pria seperti Daniel, dia sangat mencintaimu melebihi apapun bahkan selama bersamamu dia tidak pernah sekalipun membuatmu kecewa. Batin Netta dengan perasaan sesak dadanya.


.


.


.


Dikantor, Gino sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam pekerjaannya. Bayang-bayang Delia menangis terus menari-nari dalam ingatannya, dan rasa sesalpun kembali menghantuinya. Diletakannya berkas yang ada ditangganya, dengan diiringi helaan nafas yang terdengar begitu berat.

__ADS_1


"Roxy, tolong batalkan seluruh jadwalku hari ini dan atur ulang pertemuanku dengan tuan jams. Aku tidak ingin bertemu dengan siapapun saat ini"


"Apa anda baik-baik saja tuan, sepertinya ada sedang gelisah?"


"Entahlah, rasanya kepalaku mau pecah"


Roxy terkekeh dengan jawaban yang diberikan sang bos, kemudian ia mendekat kearah sang bos menarik kursi lalu menjatuhkan tubuhnya disana.


"Biasanya kepalamu yang selalu memecahkan masalah bahkan masalah berat sekalipun, mungkin aku harus memuji masalah yang sedang menimpamu saat ini. Begitu hebatnya dia sampai sanggup memecahkan isi kepalmu sampai-sampai kau kehilangan konsentrasi saat bekerja"


"Sialan kau" Umpat Gino pada asisten tak berahlaknya itu, memang jika mengenai pekerjaan mereka sangat profesional namun diluar itu mereka tetaplah seperti sahabat pada umumnya.


"Ayolah kawan aku sudah mengenalmu sejak lama, apa kau tidak ingin berbagi masalah denganku. Setidaknya jika aku tidak bisa meringankan bebanmu mungkin aku bisa menambahnya"


Gino hanya tersenyum tipis, baginya mengahadapi Roxy sebagai sahabat lebih berat dibandingkan menghindari Elena.


"Aku sudah melakukan kesalahan besar, dan mungkin kesalahanku akan sangat sulit dimaafkan olehnya"


Roxy mengerutkan keningnya merasa bingung dengan maksud dan perkataan yang keluar dari mulut Gino "Maksudmu, kesalahan apa dan pada siapa kamu melakukannya?"


Gino memejamkan matanya kasar, haruskah ia menceritakan apa yang terjadi padanya dan Delia malam itu. Walaupun Roxy adalah sahabatnya dan sudah mengenalnya sejak lama namun rasanya sangat memalukan jika harus mengatakan hal seintim itu pada orang lain.

__ADS_1


__ADS_2