
Ditempat yang berbeda, Daniel tengah memerikasa beberapa berkas penting milik perusahaan papanya. Sesaat setelahnya terdengar pria itu menghela nafas beratnya.
"Perusahaan akan benar-benar gulung tikar jika dalam waktu dekat ini kita tidak mendapatkan infestor" Daniel memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, pikirannya begitu kacau memikirkan siapa yang akan bersedia menanamkan modalnya pada perusahaan yang hampir bangkrut.
"Saya sudah mencoba mengajukan kerja sama pada beberapa perusahaan yang pernah bekerja sama dengan perusahaan kita, namun mereka menolaknya dengan alasan tidak ingin ambil resiko dengan keadaan perusahaan kita saat ini" Jawab Yosep penuh sesal karna dirinya gagal.
Menyerah? Tentu saja tidak, walau kecil kemungkinannya namun takan meruntuhkan semangat Daniel. Dengan susah payah papanya mendirikan perusahaan tersebut dari nol, dan tidak akan Daniel biarkan bangkrut dengan begitu saja.
"Kita harus terus berusaha, jangan menyerah semudah itu!" Daniel tidak hanya memikirkan kelangsungan peusahaannya saja namun kelangsungan hidup karyawannya juga menjadi salah satu kekawatirannya, Daniel tau betapa sulitnya mencari pekerjaan dimasa sekarang.
"Baik tuan muda, saya akan berusaha sebaik mungkin"
"Terima kasih, karna selama ini kau begitu setia mendampingi papa" Daniel teringat akan cerita sang papa dulu, dimana Yosep begitu setia mendampinginya merintis perusahaan dari nol hingga sukses.
"Itu semua tidak sebanding dengan apa yang sudah beliau lakukan untuk menolong saya" Seketika cairan bening memenuhi kedua sudut mata Yosep, pria hampir setengah abad itu menitikan air mata jika mengingat betapa pahitnya kehidupan yang ia jalani dulu sebelum mengenal pria baik bernama Wiratama Anggara.
Tujuh hari setelah kepergian papanya Daniel, dan keadaan perusahaan sudah dikatakan sedang diujung tanduk. Gosip yang beredar dikantorpun semakin gencar terdengar, para karyawan hanya berharap jika itu benar-benar takan terjadi, karna jika iya itu artinya mereka semua akan menjadi pengangguran.
Kabar gulung tikarnya perusahaan Wiratama Group pun sudah menyebar dan menjadi topik hangat dikalangan para pembisnis, hingga akhirnya sampai juga ditelinga Gino.
"Roxy, bukankah itu perusahaan milik keluarga Daniel?"
"Benar tuan"
"Cari tau apa penyebabnya!"
Tak lama kemudian Roxy memberikan info hasil pencariannya "Menurut informasi, terjadi kebakaran pada gudang utama milik perusahaan Wiratama Group hingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar tidak hanya itu, Wiratama Group juga mengalami kerugian karan ditipu rekan bisnisnya sendiri.
__ADS_1
Gino nampak berpikir, seolah dirinya tengah merencanakan sesuatu.
Sementara itu disebuah perusahaan tepatnya milik keluarga Daniel, seorang pria tengah membubuhkan tanda tangannya sebagai tanda berawalnya sebuah ikatan kontrak untuk kerja sama perusahaan mereka.
"Terima kasih karna anda sudah percaya pada kami dan bersedia menjadi infestor diperusahaan kami, padahal anda sendiri pasti tau keadaan kami saat ini" Daniel menjabat tangan pria yang akan menjadi rekan bisnisnya tersebut.
"Kami yakin perusahaan anda memilliki potensi yang tinggi, itu sebabnya kami percaya pada perusahaan anda" Jawab pria bernama Abas.
"Terima kasih atas kepercayaan anda" Merekapun saling berjabat tangan untuk awal berlangsungnya kerja sama diantara kedua perusahaan milik mereka.
Kini Daniel dapat bernafas dengan lega, setelah beberapa hari dirinya berusaha namun tidak mendapat hasil dan hari ini tanpa diduga ada seseorang yang datang kekantornya untuk mengajukan kerja sama. Dan yang semakin membuat Daniel tercengang adalah perusahaan tersebut bukanlah perusahaan biasa, tapi perusahaan dengan urutan no dua diAsia setelah perusahaan milik Gino Abraham.
.
.
.
"Tidak masalah, hanya saja aku merasa penasaran jika berniat membantunya kenapa tidak kau sendiri yang mengajukan kerja samanya, kenapa harus melalui aku?" Tanya Abas tidak mengerti kenapa Gino memintanya untuk mengajukan kerja sama pada perusahaan Wiratama Group.
"Ada masalah diantara kami yang tidak bisa aku ceritakan padamu, oleh sebab itu aku meminta bantuan padamu karna jika aku yang datang padanya secara langsung, aku tidak yakin jika dia akan menerimanya"
Masalah? Abas terdiam mencoba mencerna ucapan Gino, Tidak mungkin masalah didunia bisnis karna jika iya mana mungkin Gino mau membantunya "Apa ini masalah pribadi?"
"Hmm" Jawab Gino sambil menganggukan kepalanya.
Abas akan kembali bertanya, namun suaranya hanya tercekat ditenggorokan begitu melihat seorang wanita berperut buncit masuk keruangan Gino dengan Roxy dibelakangnya, Gino sendiri belum menyadari kedatangan sang istri karena posisinya saat ini membelakangi pintu.
__ADS_1
Hingga kemudian Gino baru tersadar ketika melihat tatapan Abas terus tertuju pada arah pintu, dan Ginopun mengikuti kemana arah mata Abas. Seketika seutas senyum terbit diwajah tampannya "Sayang..."
"Maaf, aku ganggu ya?" Tanya Delia merasa takut kedatangannya mengganggu pekerjaan sang suami.
Sementara itu Abas dibuat syok, kenapa Gino memanggil wanita tersebut sayang. Abas menelisik Delia dengan seksama "Sangat cantik, dan masih sangat muda. Tapi ada hubungan apa antara mereka kenapa Gino memanggilnya sayang?" Ucapnya dalam hati.
Sadar akan tatapan Abas terhadap istinya, Gino segera menarik Delia kebelakang punggungnya "Jangan menatap istriku seperti itu jika kau tidak ingin kehilangan matamu"
"What, istri?" Abas begitu terkejut dengan pernyataan Gino, bagaimana tidak, sahabatnya yang begitu dingin terhadap perempuan kini tiba-tiba saja mengakui wanita muda itu sebagai istrinya, bahkan dirinya sama sekali tidak pernah mendengar tentang kabar pernikahan tersebut. "Bagaimana mungkin?" Gumamnya sangat pelan, namun masih bisa Gino dengar.
"Kenapa, kau pikir kau saja yang bisa menikah?" Gino merasa tak terima, karena Abas seakan meragukannya.
"Bukan seperti itu, hanya saja aku tidak menyangka jika akhirnya kau akan menikah dengan sugar baby" Ucapnya dengan tawa mengejek, yang mana Roxypun ikut tertawa mendengarnya sedangkan Delia hanya tersipu.
"Sialan kau, aku tidak setua itu" Seragah Gino merasa tidak terima dengan ucapan Abas "Lebih baik kalian keluarlah dari ruanganku, aku ingin berduaan dengan istriku" Tanpa basa-basi Gino mengusir mereka berdua.
Tak ingin terkena amukan Gino, Roxy segera melenggang dari ruangan Gino. Sedangakan Abas masih setia ditempatnya, Abas menatap jengah pada Gino "Sungguh kau sahabat durjana, setelah aku membantumu kau mengusirku begitu saja"
"Ck, tidak usah banyak drama. Kau masih ingatkan pintu keluarnya dimana?" Sontak karna ucapannya Gino mendapatkan pukulan kecil dari Delia.
"Sayang, kenapa memukulku?"
"Kau yang kenapa? Tidak sopan loh mengusir orang seperti itu!" Jawab Delia masih setia berada dibalik punggung sang suami.
"Dia sudah tidak ada kepentingan lagi jadi untuk apa dia masih ada disini, mengganggu saja!"
"Gino...." Kesal Delia karna suaminya tak hetinya mendumel.
__ADS_1
"Ya, sayang"
Delia memutar bola matanya, semkin hari tingkah suaminya semakin membuatnya kesal saja. Dari sudut sofa sana Abas terus memperhatikan interaksi antara sepasang suami istri dihadapannya, setelanya senyum tipis terukir diwajahnya. Setelah sekian lama mengenal Gino akhirnya kini sahabatnya menemukan kebahagiaannya, terlihat jelas dari perubahan Gino yang sudah tidak sedingin dulu.