
Namun kegiatan menyenangkan antara sepasang suami tersebut harus terhenti karna suara dering ponsel milik Gino yang terus berbunyi.
"Jawab saja dulu, siapa tau penting" Delia menahan tangan sang suami yang sudah mulai membuka satu persatu kancing piamanya.
"Ck, mengganggu saja" Dengan perasaan kesal Gino meraih ponselnya diatas nakas dan segera menjawabnya. "Ada apa?" Jawabnya dengan ketus.
"Dia sudah kembali kesini"
"Hhmmm" Gino hanya menjawab dengan deheman dan tanpa sepatah katapun ia mematikan sambungan telponnya dengan sepihak.
Sadar akan perubahan dari raut wajah sang suami, Delia pun mendekat dan memeluknya "Ada apa dan siapa yang menghubungimu?"
"Roxy"
"Roxy, Apa ada masalah?"
"Tidak ada apa-apa, tidurlah ini sudah malam!"
Walau Delia tidak percaya dengan apa yang Gino ucapkan namun dia tetap menuruti keinginan sang suami, kini mereka tengah berbaring diatas tempat tidur tanpa melanjutkan kegiatan menyenangkan yang sempat tertunda tadi.
Ternyata benar, tempat ternyaman itu berada dalam pelukan orang terkasih. Sama halnya dengan Delia, berada dalam dekapan sang suami tak butuh waktu lama baginya untuk bisa terlelap dalam mimpi indahnya. Hangatnya pelukan sang suami mampu menyingkirkan dinginnya angin yang berhembus malam ini.
.
.
.
Tidur yang teramat lelap bagi Delia, disaat Gino sudah rapi dengan stelan kerjanya dan matahari saja sudah menyapa penduduk bumi dengan cahayanya namun Delia masih betah menyembunyikan tubuhnya dibawah selimut.
__ADS_1
"Sayang, aku akan berangkat ke kantor. Mau bangun atau tetap tidur ?" Gino mengusap lembut pucuk kepala sang istri, melihat tidurnya yang begitu nyenyak membuatnya tidak tega jika harus membangunkannya, ia hanya akan berpamitan sebelum berangkat.
"Lima menit lagi, aku masih mengantuk" Gino terkekeh, istrinya menjawab dengan mata yang masih terpejam.
"Ya sudah tidak apa-apa kalau masih mengantuk. Aku tidak memaksamu untuk bangun, tapi ini sudah hampir jam delapan aku harus berangkat sekarang!" Mendengar waktu sudah menunjukan hampir jam delapan Delia begitu terkejut dan segera bangun dari tidurnya.
"Ada apa?" Gino sampai dibuat heran baru beberapa detik lalu istrinya mengatakan masih mengantuk namun saat ini istrinya langsung terbangun seolah kantuk itu telah lenyap ditelan bumi.
"Aku lupa, kemarin sudah berjanji pada Netta akan kerumahnya hari ini. Pasti saat ini dia sedang menungguku" Berharap Gino mau memberikan izin padanya, Deliapun menggunakan jurus andalannya dengan memasang wajah imutnya "Boleh ya aku kesana, janji hanya dirumah Netta saja!"
Mana tahan Gino melihat wajah sang istri, Walau sebenarnya Gino merasa cemas namun jangankan untuk marah berkata tidak saja untuk saat ini dia takan bisa. Entah karna Delia yang pandai merayu atau karna Gino yang terlalu tidak bisa menolak keinginan istri tercintanya.
"Baiklah, tapi aku yang mengantarmu kesana dan ingat jangan pulang sebelum aku menjemputmu"
Jawaban yang sesuai dengan harapan, nyatanya tak sesulit itu untuk mendapatkan izin sang suami. Walau Gino terkesan begitu posesif namun ia tidak terlalu mengekang sang istri, apalagi Gino tau seperti apa Netta dan kepribadiannya jadi tidak ada alasan baginya untuk melarang sang istri.
.
.
.
"Apa masih jauh?" Saat ini Delia dan Gino sedang dalam perjalanan menuju rumah Netta, jalan yang tidak terlalu ramai karna bukan terletak dipusat kota. Sejak tadi yang mereka lalui hanya perumahan sederhana, berbeda jauh dengan tempat tinggal mereka.
"Tidak, dari sini rumahnya sudah kelihatan. Itu yang catnya warna abu muda" Gino mengikuti kemana arah tangan sang istri dan benar saja rumahnya sudah terlihat.
Sesampainya disana, Netta menyambut kedatangan mereka dengan begitu antusias. Jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini, setelah beberapa bulan hilang komunikasi dengan sahabat terbaiknya akhirnya saat ini Delia datang kerumahnya meski dengan setatus yang berbeda. Jika dulu Delia kerap datang bersama Daniel namun untuk kali ini dengan orang yang berbeda dan juga dengan status yang berbeda pula.
"Ingat pesanku, tetap disini jangan kemana-mana. Hubungi aku jika kau mau pulang!" Untuk kesekian kalinya Gino meberikan wejangannya pada sang istri, takut sekali Delia melanggarnya.
__ADS_1
"Tentu saja aku mengingatnya, bagaimana aku bisa lupa jika kau terus saja mengatakan hal itu"
"Itu karna aku tidak yakin diluar sana akan aman bagimu, kau hanya boleh pergi jika bersamaku" Karna pada kenyataannya memang begitulah Gino, pria itu memang seposesif itu.
Netta menatap pasangan suami istri itu dengan perasaan bahagia, meski cara Gino untuk mendapatkan Delia salah namun tidak sedikitpun ada rasa benci dihatinya untuk Gino apalagi kini ia dapat melihat betapa Gino menjaga sahabatnya dengan sangat baik.
Kini kedua sahabat itu tengah asik membicarakan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting namun begitu menyenagkan untuk dijadikan obrolan, setelah membutuhkan waktu yang lumayan lama bagi Delia agar bisa menyakinkan Gino, akhirnya pria itu berangkat juga.
"Nett sudah, jangan dikeluarkan lagi!" Delia menahan tangan Netta yang akan membuka wadah berisikan cemilan untuk mememani kegiatan mereka.
"Kenapa?" Netta mengerutkan dahi, apa salahnya jika ia membukanya.
"Kalau kau membukanya aku tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak makan lagi, lihat!" Delia menunjuk beberapa wadah yang sudah kosong karna perbuatannya "Aku sudah makan banyak, bahkan rasanya perutku semakin membesar karna terlalu banyak makan"
"Hanya itu? Aku pikir apa" Bukannya menutup kembali wadahnya, Netta justru membukannya dan dengan sengaja ia letakan dihadapan Delia.
"Net..."
Bukan Netta namanya jika tidak membuat kesal, dan saat-saat seperti inilah yang selalu mereka rindukan disaat jauh. Meski dari kasta yang berbeda namun persahabatan keduanya terjalin begitu harmonis, Delia yang tidak pernah membedakan status sosial Netta dan Netta yang tidak pernah memanfaatkan Delia dengan segala kekayaannya membuat hubungan persahabatan keduanya langgeng.
"Aku tinggal kebelakang dulu tidak apa-apa kan? mau angkat jemuran, sepertinya cuaca mendung sebentar lagi mungkin turun hujan !" Delia hanya menjawab dengan anggukan kepala karna pokusnya kini tertuju pada makanan ditangannya, sekuat apapun ia berusaha untuk tidak menyentuhnya hanya sia-sia karna nyatanya kini ditangannya hampir hampir tak bersisa namun disuapan terakhir harus terhenti begitu Delia mendengar seseorang dari luar sana mengetuk pintu.
Tanpa menunggu sang pemilik rumah Delia berinisatif membukkan pintu, toh memang saat ini dia yang jaraknya paling dekat dengan pintu dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa orang yang saat ini berada dibalik pintu tersebut.
🏵🏵🏵Bersambung🏵🏵🏵
**Jeng... jeng... jeng...
kira-kira siapa ya, adakah yang bisa menebakya**?
__ADS_1