
Di sebuah taman dekat kampus...
Seorang pria tengah duduk dengan gelisah, sesekali melirik arloji yang ada dipergelangan tangannya. Hingga kedatangan seorang gadis mampu mengalihkan perhatiannya, dengan senyum merekah dibibirnya Daniel mendekat kearah gadis tersebut dan tanpa sepatah katapun langsung memeluknya menyalurkan rasa rindu yang sudah ia tahan selama satu minggu ini.
"Kau kemana saja, kenapa sulit sekali untuk sekedar dihubungi? Kau tau, aku sangat khawatir padamu. Kau baik-baik saja kan?" Serentetan pertanyaan itu terlontar dari Daniel.
"Aku baik-baik saja, maaf sudah membuatmu khawatir" Mata Delia sudah mulai berkaca-kaca tatkala melihat kekhawatiran Daniel terhadapnya.
Daniel melepaskan pelukannya lalu mendudukan sang kekasih dikursi taman tersebut, digenggamnya tangan Delia dengan penuh kelembutan.
"Kenapa kau harus minta maaf, kau bahkan tidak melakukan kesalahan apapun terhadapku"
Sebisa mungkin Delia menahan agar tidak menjatuhkan air matanya, ia sudah memutuskan ingin memberi tahu Daniel tentang pernikahannya. Ia tidak ingin menyakiti Daniel terlalu dalam dengan terus memberinya sebuah harapan palsu, dan mungkin ini adalah pertemuan terakhir mereka sebagai sepasang kekasih.
"Daniel, ada hal penting yang ingin aku sampaikan!"
"Katakan saja, Oh ya aku hampir lupa jika aku juga ingin menanyakan sesuatu padamu"
"Tentang apa?"
Daniel menghela napas sejenak sebelum mengatakannya "Beberapa hari lalu aku datang kerumahmu, dan papamu bilang jika kau sudah tidak lagi tinggal bersamanya" Daniel menjeda ucapannya sejenak "Kau tau papamu bahkan berkata jika kau tinggal bersama suamimu, lucu bukan? Papamu sampai megatakan hal itu untuk memisahkan kita"
__ADS_1
Deg
Tak tau harus mengatakan apa, hanya airmata yang lolos dari kedua mata Delia.
"Aku hanya minta satu jawaban saja darimu, katakan jika apa yang dikatakan papamu tidak benar!"
Delia memberanikan diri menatap wajah pria yang ada dihadapannya "Daniel, apa yang dikatakan papa itu......"
Belum sempat Delia menyelesaikan ucapannya, tapi suara dering ponsel milik Daniel mengalihkan perhatian mereka.
Daniel merogoh saku jaketnya, ada raut kecemasan diwajahnya begitu mengetahui siapa yang menghubunginya.
"Apa dia berusaha melakukannya lagi?" Tanya Daniel begitu panggilan tersambung.
( - - - )
"Baiklah, aku akan pulang secepatnya"
Daniel memasukan kembali ponselnya kedalam saku jaketnya "Maaf aku harus pergi sekarang, aku akan meminta sopir untuk menjemputmu disini"
"Tidak usah, aku bawa mobil sendiri"
__ADS_1
"Baiklah, aku pergi dulu" Daniel berlalu pergi meninggalkan taman dengan terburu-buru, hingga membuat Delia bertanya-tanya dalam hati apa yang membuat Daniel sampai terlihat secemas itu.
.
.
.
Saat sore hari Delia sampai dirumah, dengan langkah gontai ia menaiki anak tangga menuju lantai atas. Hingga saat tiba didepan pintu kamar ia menghentikan langkahnya, dengan ragu-ragu ia menutar gagang pintu lalu masuk kedalam kamar bersamaan dengan Gino yang keluar dari kamar mandi dengan hanya mengguanakan handuk yang melilit dipinggangnya.
Secepat kilat Delia membalikan tubuhnya tak ingin melihat sesuatu yang tak ingin ia lihat, Gino yang mengerti dengan reaksi Delia segera meraih pakaian yang ada dilemari kemudian mengenakannya.
"Sudah" Ucap Gino, karna Delia tetap mematung dengan posisi membelakanginya.
Tidak memberi sahutan Delia memilih menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket, karna buru-buru ia lupa membawa pakaian gantinya.
Hingga saat telah selesai dengan ritual mandinya ia baru tersadar tidak membawa pakaian ganti.
"Bagaimana ini, tidak mungkin aku keluar dengan hanya menggunakan ini?" Karna saat ini ia hanya menggunakan handuk yang hanya menutupi sebatas dada dan pahanya saja.
"aku harus bagaimana?" Delia terus bergumam pada dirinya sendiri.
__ADS_1