
"Salahmu kenapa tidak mengunci pintu, untung yang datang aku bukan perawat" Tak ingin disalahkan Roxypun membela diri.
"Ck, kau berani menyalahkanku?" Mana mau Gino disalahkan, sekalipun salah dirinya tidak akan merasa bersalah.
"Maaf tuan, saya mana berani menyalahkan anda" Ucap Roxy pada akhirnya mengalah, namun dengan senyum mengejeknya yang mana membuat Gino kesal melihatnya.
"Kau...."
Delia hanya geleng-geleng kepala melihat perdebatan dua pria dihadapannya yang bertingkah seperti anak-anak padahal usia mereka sudah lebih dari dewasa "Mau sampai kapan kalian berdebat seperti ini, aku lapar!"
Detik itu juga kedua pria tersebut menoleh kearah sumber suara, namun didetik berikutnya tatapan Gino beralih pada Roxy "Gara-gara kau istri dan anakku kelaparan"
"Kenapa aku?" Jawab Roxy tak terima selalu disalahkan.
"Karna kau banyak bicara"
Oh my god, rasanya Delia ingin sekali mencubit suaminya dengan sekencang-kencangnya. Sejak kapan suaminya jadi terlihat menyebalkan dan banyak bicara seperti ini, kemana Gino yang cool dan berwibawa?
"Gino, aku lapar!" Delia sedikit meninggikan suaranya, bukan bermaksud tidak sopan namun saat ini suaminya sudah benar-benar membuatnya kesal. Bukannya keluar untuk membeli makanan Gino justru kembali memulai perdebatannya.
"Ya, maaf sayang ini semua gara-gara dia" Gino menunjuk kearah Roxy "Tunggu sebentar akan aku belikan, kau mau makan apa?" Begitu lembut setiap kata yang terucap untuk Delia, berbanding terbalik dengan pembawaannya terhadap orang lain. Roxy sampai dibuat tercengang, secinta itukan Gino terhadap Delia sehingga membuatnya begitu takluk.
"Apa saja yang penting enak"
Tak ingin Delia marah Ginopun segera berlalu menuju kantin rumah sakit, dan tak lama kemudian ia kembali dengan menenteng beberapa jenis makanan karna tidak tau istrinya mau makan apa sehingga ia memilih beberapa menu agar istrinya bisa memilih menu yang enak menurutnya.
__ADS_1
Dengan senyum menawannya Gino memasuki ruang perawatan sang istri, namun senyum diwajahnya seketika luntur saat melihat sang istri tengah makan dengan lahapnya dan disampingnya ada sang mommy yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam. Gino sendiri menatap nanar makanan yang ada ditangannya, dengan helaan nafas Gino berjalan mendekat kearah dua wanita yang begitu ia cintai tersebut.
"Mommy kapan datang?" Gino menatap heran wanita yang telah melahirkannya karena tiba-tiba berada disamping sang istri, bukankah mommy nya masih berada diluar negeri.
"Belum lama, dan mommy datang diwaktu yang tepat" Jawab mom Hera menatap jengah anak semata wayangnya, mom Hera sengaja tidak memberi tahukan kepulangannya bermaksud ingin memberikan kejutan terhadap anak dan menantunya. Namun kenyataannya begitu terbalik justru dirinyalah yang dikejutkan saat Roxy menjemputnya dibandara dan memberi tau bahwa menantu kesayangannya saat ini tengah berada dirumah sakit, dan dari bandara mom Hera langsung menuju rumah sakit tempat Delia mendapatkan perawatan.
"Kau ini suami macam apa, bisa-bisanya membiarkan istrimu kelaparan? Untung saja mommy sempat membeli makana tadi" Lanjut mom kemudain.
"Mom, lihat! Aku membawa makanan untuk istriku, mana mungkin aku biarkan istri tercintaku kelaparan" Seragah Gino sambil memperlihatkan beberapa kantong makanan yang ada ditangannya, tentu saja dirinya tak ingin disalahkan.
"Tetap saja lambat"
Gino menghela nafas dengan berat, nyatanya kedatangan mommy nya benar-benar merusak suasana hatinya "Ya sudah, mungkin istriku sudah kenyang dengan makanan yang mommy bawa. Diluar sana mungkin mereka ada yang belum makan" Gino akan melangkahkan kakinya keluar ruangan, namun terhenti begitu Delia memanggilnya.
Dengan senang hati Gino menghampiri sang istri dan membuka beberapa menu makanan yang ia bawa "Biar aku suapi! Kamu mau yang mana, ini, ini, atau ini?" Gino menunjuknya dengan begitu antusias.
"Aku mau yang ini" Pilihan Delia tertuju pada makanan berkuah berbentuk seperti bola bola kecil, entah dari beberapa menu yang Gino bawa bakso yang pertama menarik perhatiannya.
Delia makan dengan lahap disuapi oleh sang suami, bukan hanya satu menu melainkan Delia hampir menghabiskan beberapa menu makanan yang Gino bawa. Awalnya Gino pikir makanan yang ia bawa akan berakhir diperut orang lain, nyatanya makanan itu hampir tak bersisa dilahap sang istri. Memang sejak memandung nafsu makan Delia meningkat tinggi, tak ayal kini tubuh kecilnya terlihat lebih berisi.
Setelah selesai dengan ritual makannya kini Delia tengah duduk bersandar ditemani Gino beserta mom Hera, sedangkan Roxy sudah pergi dari tadi karna urusan kantor yang seharusnya Gino kerjakan, namun karna Gino yang tak ingin beranjak sedikitpun dari Delia dengan alasan khawatir Roxy pun mau tak mau harus menghandlenya, padahal saat ini ada mom Hera yang menemani Delia.
"Sebaiknya mommy pulang saja, mommy pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh" Namun makna yang sebenarnya bukan itu, kehadiran mommy nya disini membuat Gino merasa terabaikan karna sejak tadi mom Hera seakan menguasai istrinya. Gino sampai tak dapat mendapat celah untuk bisa berdekatan dengan Delia, dan tentu saja saat ini Gino merasa kesal pada mommy nya.
"Kau mengusir mommy?" Mom Hera menatap Gino dengan jengah.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya tidak ingin mommy kelelahan"
Tentu saja jawaban Gino takan semudah itu diterima oleh mom Hera, ia tau itu hanya akal bulus putranya untuk menjauhkannya dengan menantu tersayangnya "Ck, alasan. Bilang saja kau ingin berduaan dengan menantuku, mommy tau apa yang ada dalam pikiranmu"
"Tapi dia istriku, aku yang lebih berhak atas dirinya"
"Gino, jangan begitu pada mommy. Biarkan mommy disini, aku juga masih merindukan mommy" Sela Delia tak ingin membuat mom Hera kecewa, soal kekesalan Gino ia bisa membujuknya nanti.
"Tuh dengar, menantuku saja tidak keberatan"
"Ck, terserahlah" Mana bisa Gino membantah Delia, sekesal apapun dirinya pada akhirnya tak mampu berbuat apa-apa. Gino merebahkan tubuhnya di sofa dengan menutup wajahnya menggunakan bantal sofa, mungkin lebih baik tidur saja toh kehadirannya tak dianggap oleh kedua makhluk cantik didepannya.
"Apa dia marah?" Tanya Delia dengan suara pelan.
"Biarkan saja, nanti juga jinak sendiri. Kalau masih marah jangan kasih jatah!" Seketika wajah Delia bersemu merah, ia tau betul apa maksud dari ucapan mommy mertuanya.
"Mom, aku mendengarnya. Mommy jangan coba-coba menghsut istriku, apa mommy senang melihat putramu yang tampan ini tersiksa?"
Mom Hera dan Delia melirik kearah sofa dimana Gino tengah duduk dengan wajah masamnya, namun bukannya kasihan kedua wanita itu tertawa.
"Berbahagilah kalian diatas penderitaanku, dan kau istriku tunggu saja pembalasanku" Gino berucap dengan seringai dibibirnya.
Gleg
Delia menelan salivanya dengan susah payah, tawanya seketika terhenti melihat seringai dibibir suaminya. Tentu dia tau pembalasan seperti apa yang dimaksud oleh Gino, dan suaminya tentu tak pernah main main dengan ucapannya.
__ADS_1