
"Takdir memang lucu, aku yang menjadi kekasihnya selama tiga tahun harus kalah olehmu yang hanya tiga hari mengnalnya" Ucap Daniel setelah keheningan menyelimuti keduanya, pria itu tersenyum saat mengucapkannya namun dibaliknya menyimpan luka yang teramat perih.
Gino menatap iba pada Daniel, memang terkesan jahat tapi mau bagimana lagi nyatanya semesta telah berpihak padanya. Karena sejauh apapun dia berusaha jika Delia tidak berjodoh dengannya pasti tidak akan bersatu, katakanlah jika ini sudah takdir tuhan menyatukan mereka dengan cara yang tidak biasa.
"Kau salah, aku sudah lama mengenalnya jauh sebelum kamu mengenalnya bahkan kami sudah terikat janji untuk saling memiliki sejak usia Delia baru enam tahun. Nyatanya janjinya padaku lebih kuat dari pada rasa cintanya padamu, terbukti sejauh apapun dia pergi dengan waktu yang lama takdir telah mempertemukan kami kembali" Jawab Gino dengan pembawaan tenangnya dan akhirnya diapun menceritakan awal mula pertemuannya dengan Delia belasan tahun silam, Daniel sendiri hanya termenung mendengar cerita pria itu.
"Dan terima kasih karena kamu sudah menjaga jodohku dengan sangat baik, aku do'akan semoga kamu secepatnya mendapatkan pengganti Delia" Sambung Gino dengan menepuk pundak Daniel, saat akan beranjak dari tempatnya langkahnya terhenti kala Daniel menahannya.
"Tunggu, ada hal yang ingin aku sampaikan!" Daniel mengeluarkan sebuah amplop putih dari saku jasnya, Daniel sengaja membawanya kemanapun agar jika dirinya bertemu Delia kapanpun bisa memberikan amplop putih tersebut "Tolong berikan ini pada Delia, sampaikan juga salamku padanya. Dan..." Daniel menjeda ucapannya, sakit rasanya tapi sekali lagi Daniel kembali disadarkan oleh kenyataan bahwa Delia memang bukan jodohnya "Selamat untuk kelahiran putra pertama kalian" Jika ditanya bagaimana Daniel tau Delia sudah melahirkan? Jawabannya karena memang Daniel diam-diam selalu mencari tau tentang Delia melalui orang suruhannya, dan Gino juga tau jika selama ini Daniel menyuruh seseorang untuk memata-matai istrinya, namun selama itu tidak menyakiti sang istri Gino tidak melakukan apa-apa kecuali apa yang dilakukan oleh Daniel diluar batas baru Gino akan bertindak.
__ADS_1
Gino menerima amplop putih tersebut, bersamaan dengan itu Daniel berlalu tanpa menunggu jawaban dari Gino terlebih dahulu.
Pukul sebelas malam Gino tiba dirumah, ternyata Delia juga masih terjaga entah terbangun atau bahkan mungkin belum tidur sama sekali.
"Sudah malam, kenapa belum tidur hm?" Gino mendekat kemudian mengecup kening sang istri.
"Tadi sempat tidur tapi terbangun saat putra kita mengeluarkan suara merdunya" Gino terkekeh mendengar candaan sang istri, juga membebarkan jika suara tangis Raja bagaikan nyanyian merdu yang menlenyapkan kesunyian rumah mereka "Ssstttttt, pelan-pelan dia baru saja tertidur!" Ucap Delia memperingati saat Gino hendak mengecup wajah sang putra, karena yang sudah-sudah selalu berakhir terbangun.
Yang mana jawaban Gino membuat Delia memutar bola mata, dia yang salah tidak bisa menahan diri malah seenaknya saja menyalahkan putranya.
__ADS_1
Setelah puas dengan putranya Gino kembali duduk disamping sang istri, wajahnya terlihat serius menatap wanita yang begitu ia cintai.
"Ada apa, kenapa melihatku seoerti itu?" Ditatap seperti itu oleh Gino, entah kenapa membuat Delia salah tingkah.
"Tadi aku dipestanya tuan Mark, aku bertemu dengan Daniel"
Deg.....
"Da-Daniel?" Delia masih berharap salah mendengar nama, namun harapannya terpatahkan kala Gino menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Tadi kami sempat berbincang sebentar, dan dia menitipkan ini untuk mu" Gino memberikan amplop putih yang tadi dititipkan Daniel pada sang istri, dan dengan tangan gemtetar Delia menerimanya dan membuka isi didalamnya yang berupa sebuah surat dari tulisan tangan