
Gino melepaskan pagutan bibirnya saat dirasa sang istri mulai kehabisan oksigen.
"Kau milikku, hanya milikku!" Tegas Gino lalu kembali menyatukan bibirnya dengan sang istri namun kali ini sangat lembut berbeda dari sebelumnya, perlahan tapi pasti ciuman itu kini turun keleher jenjang milik sang istri. Sementara Delia, ia hanya mampu memejamkan matanya saat merasakan sensasi yang baru pertama kali ia rasakan.
Tangan Gino mulai nakal, dengan perlahan dan sangat hati-hati ia mulai melepaskan pakaian yang melekat ditubuh sang istri hingga menyisakan ********** saja yang menutupi kedua aset paling berharganya.
Delia membuka matanya saat ia merasakan tangan kekar sang suami mulai menjelajahi setiap jengkal tubuhnya, airmata lolos begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Demi apapun ia tidak ingin Gino merenggut kesuciannya meskipun pria itu adalah suaminya.
"Aku mohon jangan lakukan itu!" Lirihnya dengan menyilangkan tangan dibagian depan tubuhnya.
Namun pria itu sepertinya sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya yang sudah berada diatas ubun-ubun, dengan gerakan cepat ia menarik tubuh sang istri kedalam gendongannya lalu dengan perlahan menjatuhkannya keatas tempat tidur. Tanpa memperdulian penolakan dari sang istri ia ikut naik keatas tempat tidur dan menghimpit tubuh Delia agar gadis itu tidak lagi berontak.
Sakit itulah yang diarasakan Delian saat ini, gadis itu tidak henti-hentinya menitikan airmata. Ia memalingkan wajahnya saat Gino sudah berada diatasnya mengungkung tubuhnya, ingin sekali ia lari namun pria itu mencrengkramnya dengan begitu kuat hingga ia hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Gino lakukan terhadapnya.
"Aku tau mungkin setelah ini kau akan membenciku, tapi percayalah aku melakukan ini karna aku begitu takut kehilanganmu"
__ADS_1
Dengan perlahan dan sangat hati-hati Gino mulai melakukan penyatuannya, ia tau ini adalah pertama kalinya untuk sang istri dan ia tidak ingin menyakiti wanitanya.
Dengan tatapan yang memelas Delia menggelengkan kepalanya saat ia merasakan ada sesuatu yang memaksa masuk menerobos area intinya.
"Sakit" Lirihnya tertahan, Delia mencengkram erat punggung pria yang kini berada diatas tubuhnya, dan tanpa terasa ia menitikan air matanya.
"Maafkan aku" Gino hendak mencium bibir sang istri untuk mengalihkan rasa sakitnya namun dengan cepat Delia memalingkan wajahnya.
"Aku membencimu tuan Gino Abraham, sangat membencimu"
Gino semakin memercepat ritme permainannya saat ia merasa sudah hampir menuju pumcaknya hingga akhirnya ia mengerang saat seluruh benihnya berhasil masuk kedalam rahim sang istri.
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu" Gino mengecup kening sang istri dengan lembut kemudian menjatuhkan tubuhnya tepat disamping wanitanya. Sementara Delia, gadis itu diam membeku dengan lelehan airmata yang membasahi wajah cantiknya.
Daniel maafkan aku, setelah hari ini aku sudah tidak lagi untuk kau perjuangkan.
__ADS_1
.
.
.
Matahari mulai menunjukan sinarnya pertanda pagi tlah datang, perlahan Gino mulai membuka matanya saat mendengar benda yang ada diatas nakas berbunyi. Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya ia meraba kesamping mencari keberadaan sang istri, namun tidak ada Delia disana.
"Kemana dia?" Gumamya kemudian bangkit dari atas temapat tidur menuju kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual membersihkan diri dan berganti pakaian Gino meninggalkan kamarnya menuju lantai bawah berharap bisa menemukan sang istri disana.
Dan benar saja ia melihat Delia sedang menyantap sarapannya.
"Apa kau sudah lama bangun?" Gino menarik kursi kemudian duduk disamping sang istri.
__ADS_1
Hening tidak ada jawaban, Delia sama sekali tidak menghiraukan Gino yang berada disampingnya. Delia meraih segelas air putih meminumnya hingga menyisakan setengahnya, tanpa sepatah katapun ia berlalu meninggalkan pria disampingnya. Pria yang sejak semalam menjadi pria yang sangat ia benci.