DELIA ( Terpaksa Menikah )

DELIA ( Terpaksa Menikah )
BAB 36


__ADS_3

Delia menggeliat kala merasakan cahaya mentari masuk melalu celah jendela, perlahan kelopak matanya mulai terbuka. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya ia terbangun dari posisi berbaring, melepaskan tangannya yang membelenggu tubuh sang suami kemudian duduk berselonjor diatas pembaringan sempit itu dan betapa terkejutnya saat melihat diujung sofa sana mom Hera sedang menatap kearahnya dengan selulas senyuman.


"M-mom"


"Apa tidur mu nyenyak?" Mom Hera berjalan kearah pembaringan.


Delia hanya mengangguk sebagai jawaban "Sejak kapan mommy datang?"


"Sejak tiga puluh menit yang lalu"


Merah sudah pipi Delia karna malu, itu artinya sang mertua melihat adegan dirinya memeluk sang suami. Aahh rasanya saat ini ia ingin sekali meminjam pintu kemana saja milik Doraemon agar bisa menghilang dari pandangan sang mertua.


"A-aku mau ke kamar mandi dulu mom" Untuk mengurai rasa malunya Delia memilih ke kamar mandi sekalian membersihkan diri.


"Oh ya mommy hampir lupa, mom bawakan pakaian ganti untuk kalian" Mom Hera menujuk paper bag yang terletak diatas meja.


"Terima kasih mom" Delia segera beranjak dari pembaringan.


.


.


.


Hoeeekkkk


Hoeeekkkk


Terdengar suara muntahan dari arah kamar mandi, yang mana membuat mom Hera segera beranjak dari sisi pembaringan.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" Mom Hera mengetuk kamar mandi, namun hening tidak ada sahutan dari dalam sana hanya terdengar suara sesekali terdengar suara Delia yang sedang muntah.


Merasa panik karna tak mendapat sahutan akhirnya mom Hera berinisiatif untuk masuk, baru saja ia akan menekan handel pintu namun pintu sudah terbuka dari dalam menampilkan Delia dengan wajah pucat pasihnya.


"Sepertinya kau sakit, lihat wajahmu samapi pucat seperti ini" Mom Hera mengusap wajah Delia dengan lembut.


"Aku baik-baik saja mom, mungkin ini hanya masuk angin biasa"


"Apa kau yakin, bagaimana kalau mommy panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu?" Tawar mom Hera dengan raut penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Tidak usah mom, tidak apa-apa"


"Baiklah, sekarang kau makan dulu. Mommy juga bawakan makanan untuk kalian" Mom Hera melirik kearah putranya yang masih betah dalam zona tidurnya.


"Sayang bangun!" Mom Hera mengusap lembut bahu sang putra.


Perlahan Gino menggeliat kala merasakan usapan lembut dibahunya "Ada apa mom?" Ucapnya setelah membuka kedua matanya.


"Waktunya minum obat dan kau harus makan terlebih dahulu" Gino membenarkan posisi duduknya.


Delia berjalan kearah pembaringan dengan semangkuk bubur ditangnnya, dengan telaten ia menyuapi sang suami hingga bubur yang ada dimangkuk habis tak tersisa. Perhatian Gino mengarah pada wajah sang istri yang terlihat pucat.


"Kenapa wajahmu terlihat pucat, apa kau sedang merasa tidak enak badan?" Tangan Gino terulur menyentuh kening sang istri "Tidak panas"


"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya masuk angin saja" Tak dipungkiri oleh Delia, perasaannya begitu menghangat ketika mom Hera dan Gino begitu peduli terhadapnya. Ia merasa beruntung memeliki mertua sebaik mom Hera dan suami yang begitu mencintainya, hingga tanpa sadar dengan perlahan nama Gino sudah mulai terukir dalam hatinya, dan untuk Daniel? Entahlah perasaan sepsrti apa yang saat ini Delia rasakan terhadapnya.


.


.


.


Hampir dua minggu Gino dirawat dirumah sakit dan hari ini dokter sudah mengizinkannya pulang, Saat ini sedang memasukan pakaian Gino kedalam sebuah koper kecil, saat akan memasukan pakaian terakhir tiba-tiba saja kepalanya terasa berdenyut dan tubuhnya terasa begitu lemas.


"Entahlah, kepala ku terasa pusing"


Kekhawatiran tergambar jelas diwajah Gino "Sebentar, aku panggilkan dokter untuk memeriksa keadaanmu"


Delia hanya menyahut dengan anggukan kepala, kepalanya semakin terasa berdenyut bahkan kini pandangannya sudah mulai kabur dan belum sempat Gino memanggil Dokter tubuh Delia sudah ambruk kelantai. Gino membalikan tubuhnya saat mendengar suara benda terjatuh dan kepanikan terjadi begitu ia mendapati tubuh sang istri tergeletak dilantai dengan kondisi tak sadarkan diri.


"Delia bangun!" Gino menepuk pelan pipi sang istri namun Delia tak kunjung membuka mata.


"Gino apa yang terjadi?" Baru saja mom Hera dan dad Tonny masuk lansung disambut dengan pemandangan yang membuat keduanya panik.


"Delia mengeluh sakit kepala mom setelah itu dia pingsan, tolong mommy panggilkan dokter kemari!" Dengan segera mom Hera keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Karna kondisi Gino yang belum terlalu kuat untuk mengakat beban berat pasca kecelakann akhirnya dad Tonny yang bergerak membawa tubuh Delia keatas pembaringan, mata Gino sudah mulai berkaca-kaca saat Delia tak kunjung membuka mata dengan wajah yang semakin terlihat pucat.


.

__ADS_1


.


.


"Bagaiman keadaannya dok?" Tanya Gino saat setelah doker selesai memerksa Delia.


Senyum tipis terukir diwajah pria berjas putih tersebut, "Tidak ada yang perlu dikawatirkan, hal ini normal terjadi pada trimester pertama kehamilan"


Gino menautkan kedua alisnya mencoba mencerna setiap kata yang terucap dari dokter tersebut, sementara mom Hera dan dad Tonny menarik kedua sudut bibir merek, terlihat begitu jelas pancaran kebahagiaan diwajah keduanya.


"Maksudnya bagimana dok?" Gino belum mampu mencerna kalimat yang diucapkan oleh doker tersebut, otaknya mendadak kehilangan kemampuan untuk berpikir.


"Istri anda sedang mengandung dan saat ini usianya memasuki minggu ke enam, di usia ini kondisinya masih sangat rentan. Jadi usahakan agar jangan beraktkfitas yang terlalu berlebihan serta pastikan agar tidak mengalami stres karna stres bisa mempengaruhi kehamilan" Akhirnya dokter menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh Gino.


"Baikah kalau begitu saya permisi!" Doter tersebut berlalu setelah sebelumnya memberikan sebuah resep untuk Delia. Sementara Gino, pria itu hanya mematung tak tau harus dengan cara apa ia mengekspresikan kebahagiaannya.


"Sebentar lagi aku akan jadi seorang ayah" Gumaman kecil keluar dari bibirnya di iringi airmata kebahagiaan yang mengalir dari kedua ekor matanya.


"Kenapa kau menangis?" Dad Tonny terkekeh saat mendapati ada cairan bening dikedua sudut mata sang putra.


"Ini airmata kebahagiaan dad"


.


.


.


"Eeuuhggghhh" Delia melenguh dengan tangan memegangi pelipisnya masih terasa berdenyut.


"Syukurlah kau sudah sadar" Gino segera membenarkan posisi duduk sang istri.


"Memang aku kenapa?"


"Tadi kau pingsan" Gino menggenggam erat tangan Delia ia merasa ragu untuk memberi tahu Delia tentang kehamilannya, bagaimana jika Delia tidak menginginkannya? Mungkin hanya itu yang saat ini terlintas dalam benaknya.


Sadar akan raut wajah sang suami yang terlihat sedih, Deliapun mulai menerka-nerka tentang sakit apa yang sedang dialaminya saat ini "Apa yang dokter katakan, apa aku terkena penyakit yang serius?"


"Tidak, tadi dokter mengatakan jika kau sedang...." Gino menggantung ucapannya tak tau harus bagaimana mengatakannya.

__ADS_1


"Sedang apa?"


"Mengandung" Lirihnya dengan suara tertahan, namun sangat terdengar jelas oleh Delia.


__ADS_2