
"Maafkan aku, selama ini aku bersikap sangat buruk terhadapmu. Aku tidak pernah menganggapmu sebagai suami bakan aku masih menginginkan pria lain di saat aku sendiri sudah menjadi seorang istri" Deliapun mulai terisak.
"Jangan menangis" Gino membawa tubuh Delia kedalam pelukannya, tangannya bergerak naik turun mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya "Ini bukan salahmu, disini akulah yang bersalah. Aku sudah merebutmu dari kekasihmu"
Setelah Delia mulai tenang Gino melepaskan pelukannya, tangannya mengusap airmata yang membasahi kedua pipi sang istri "Kau tau kenapa aku melakukan itu?" Dan hanya dijawab gelengan kepala oleh Delia.
"Karna aku tidak ingin lagi kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku, dulu aku pernah kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Aku sangat mencintainya hingga pada saat dia pergi aku begitu trerluka bahkan aku sempat menyalahkan takdir yang telah memisahakan kami"
Delia menatap wajah suaminya yang sudah mulai berkaca-kaca "Kenapa dia meninggalkan mu, bukankah kau sangat mencintainya?" Ada rasa cemburu dihati Delia saat tau Gino pernah mencintai seseorang begitu besar dimas lalu.
"Hari itu kami berencana mengunjungi kampus tempat kami akan melanjutkan pendidikan setelah lulus SMA, rasanya sangat bahagia karna kami bisa diterima dikampus yang sama. Namun dalam perjalanan kami mengalami kecelakaan dan karna itu dia pergi meninggalkanku" Gino menghela nafas sebeleum melanjutkan ucapannya "Mungkin tuhan lebih menyayanginya dari pada aku"
Delia menutup mulutnya dengan kedua tangan setelah memahami arti ucapan sang suami, ia salah telah cemburu dengan seseorang yang telah tiada.
"Kau tau saat itu aku sampai kehilangan semangat hidup bahkan aku sempat ingin mengakhiri hidupku sendiri dengan terjun bebas dari jembatan, bodoh bukan?" Gino tertawa namun dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
Delia menggenggam erat tangan sang suami , ini pertama kalinya Gino menunjukan sisi rapuhnya.
"Jika saja saat itu tidak ada seorang gadis kecil yang mencegahku mungkin saat ini aku sudah tiada bahkan mungkin jasadku akan hanyut terbawa derasnya air sungai. Gadis itu mampu membuka kembali duniaku dengan ketegarannya, apa kau ingin tau gadis kecil itu siapa?" Tanya Gino dengan tatapan penuh cinta, Delia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Aku memanggilnya De, itu atas permintaanya. Dia mengatakan itu adalah nama kesayangan dari mamanya"
Deg
__ADS_1
Delia mencerna cerita kisah Gino, ingatannya berputar pada waktu empat belas tahun silam saat dirinya kabur dari rumah dan melihat seseorang yang akan lompat dari atas jembatan.
Flash back on
"Kakaaaaa jangannnnnn" Delia kecil berlari menuju jembatan dimana ada seorang remaja akan melompat dari atas sana.
"Lepaskan!" Gino berontak saat dari belakang sana Delia memeluk pinggnggnya dengan posesif.
"Tidak, sebelum kaka berjanji tidak aka lompat dari sini" Delia semakin mengeratkan pelukannya.
"Ya aku berjanji dan sekarang lepaskan aku!" Delia melepaskan tangannya yang membelenggu tubuh Gino hingga tatapannya beralih pada sebuah foto yang tergeletak disebelah kaki Gino.
Delia membungkukan tubuhnya mengambil foto tersebut "Wah cantik sekali" Otak kecil Delia mulai berpikir tentang permasalahan remaja dihadapannya, Tatapan penuh selidikpun Delia layangkan pada Gino "Kaka pasti habis diputusin ya makanya mau bunuh diri?"
"Bukankah ini pacar kaka?"
Ingin sekali Gino mencubit pipi menggemaskan milik Delia "Iya itu pacar kaka, tapi tuhan sudah mengambilnya dari kaka" Gino duduk ditepi jalan, di ikuti Delia yang duduk disampingnya.
"Itu artinya tuhan lebih menyayangi pacar kaka"
Gino termenung, bagaimana bisa anak sekecil itu punya pemikiran layaknya orang dewasa "Bagaimana kau tau?"
"Tuhan juga mengambil mama dariku, dan papa bilang aku tidak boleh menangis karna tuhan sangat menyanyangi mama" Gino terenyuh dengan jawaban Delia tanpa terasa airmata menetes dari kedua sudut matanya.
__ADS_1
"Kaka juga tidak boleh menangis!" Tangan kecil Delia menyeka airmata yang membasahi kedua pipi Gino, otaknya mulai berpikir bagaimana cara menghibur kaka dihadapannya "Kaka bisa ko menjadikan aku pacar"
Gino tertawa mendengar ucapan polos yang terlontar dari Delia "Mana biasa, kau masih sangat kecil untuk aku jadikan pacar"
"Aku akan makan yang bayak suapaya cepat besar, dan kita akan menikah seperti boneka barbie milikku" Delia menaikan jari kelilngkingnya kearah Gino.
"Untuk apa?" Tanya Gino dengan mengerutkan dahi.
"Untuk kesepakatan kita"
"Baiklah" Gino menautkan jari kelingkingnya. "Sekarang katakan siapa namamu gadis kecil dan kenapa kau sendirian. Mana papamu?"
"Namaku Delia tapi kaka bisa memanggil ku De, itu adalah panggilan sayang dari mama untukku. Aku kabur dari rumah karna papa melarangku pergi ke festival, aku ingin kesana tapi tidak tau jalan"
"Apa kau ingat dimana rumahmu?"
Delia mengangguk kemudian menunjuk sebuah komplek perumahan yang masih berada satu lokasi dengan mereka.
"Ayo, aku akan mengantarmu pulang! Tidak baik anak sekecil dirimu sendirian diluar rumah"
Sejak saat itu keduanya tak bertemu lagi karna Gino lebih memilih melanjutkan pendidikannya di Jerman.
Flash back of
__ADS_1